Ringankan Beban Biaya Subsidi BBM, Pertamina Hemat Anggaran hingga Rp 6 Triliun

Rabu, 07 September 2022 – 21:07 WIB
Direktur Utama PT Pertamina (Persero), Nicke Widyawati menuturkan saat ini perusahaan energi dihadapkan pada situasi yang berat di tengah disrupsi mata rantai pasokan energi global sebagai dampak konflik Rusia dan Ukraina. Foto: Dokumentasi Pertamina

jpnn.com, JAKARTA - PT Pertamina (Persero) berhasil melakukan berbagai program efisiensi di tengah kenaikan harga minyak dunia yang berdampak pada biaya produksi BBM.

Direktur Utama PT Pertamina (Persero), Nicke Widyawati menuturkan saat ini perusahaan energi dihadapkan pada situasi yang berat di tengah disrupsi mata rantai pasokan energi global sebagai dampak konflik Rusia dan Ukraina.

BACA JUGA: Harus Diakui Kinerja Pertamina Tahun Ini Jauh Lebih Baik

Menurut Nicke, mobilitas perdagangan global yang menuju pemulihan pascapandemi terkejut dengan kondisi pasokan yang berujung krisis energi.

Kebijakan Pemerintah dalam menjaga daya beli masyarakat melalui subsidi BBM merupakan langkah yang tepat, sehingga berhasil mempercepat pemulihan ekonomi.

BACA JUGA: Erick Thohir Semangati UMKM Binaan Pertamina di Tong Tong Fair Belanda: Lanjutkan Proses Go Global

Hal tersebut salah satunya tercermin dari peningkatan konsumsi BBM untuk mobilitas masyarakat serta aktivitas usaha. Namun di sisi lain, peningkatan konsumsi BBM tersebut menyebabkan kenaikan beban subsidi pemerintah.

"Kami memahami beratnya beban subsidi pemerintah, untuk itu Pertamina melakukan berbagai program penghematan biaya dalam rangka membantu menurunkan beban subsidi pemerintah," tutur Nicke.

BACA JUGA: BBM Pertamina Naik, Berapa Harga Shell dan Vivo?

Pertamina, kata Nicke, hingga Juli 2022 sukses menghemat biaya operasional sekitar Rp 6 triliun.

Dia menjelaskan salah satu faktor penghematan, yakni dari pembelian minyak mentah.

Adapun pembelian minyak mentah adalah porsi terbesar dalam produksi BBM yang mencapai 92 persen.

Namun, investasi upgrading Kilang Minyak Pertamina yang telah dijalankan dalam empat tahun terakhir ini, berhasil meningkatkan fleksibilitas minyak mentah.

Artinya, lanjut Nicke, jika selama ini Kilang Pertamina hanya dapat memproses minyak mentah tertentu saja yang harganya mahal, maka mulai tahun lalu sudah mampu memproses minyak mentah dengan sulfur content lebih tinggi yang sumbernya banyak dan harganya lebih murah.

"Inilah langkah strategis Pertamina yang telah berhasil secara signifikan menurunkan biaya produksi BBM," ujar Nicke.

Selain itu, efisiensi energi di seluruh area operasional dari hulu ke hilir, juga memberikan penghematan biaya yang signifikan, selain tentu saja memberikan kontribusi pada penurunan emisi karbon.

“Terobosan pasca restrukturisasi yang juga signifikan untuk mencapai efisiensi Pertamina Group adalah sentralisasi pengadaan barang dan jasa, serta integrasi dan optimalisasi seluruh aset dari hulu ke hilir,” ungkapnya.

Pertamina Group juga berhasil meningkatkan pendapatan dengan melakukan ekspor produk-produk bernilai tambah tinggi, seperti HVO (D100 berbasis kelapa sawit) dan Low Sulfur Fuel Oil.

Demand dunia terhadap produk-produk low carbon terus meningkat.

Nicke menambahkan upgrading Kilang yang telah dilakukan, saat ini mampu menghasilkan produk-produk tersebut, sehingga berhasil menangkap peluang yang sangat prospektif ini.

"Pertamina akan terus melakukan berbagai upaya penghematan biaya, yang sekaligus mampu menurunkan emisi karbon, sehingga mendukung transisi energi Pertamina dan Indonesia" pungkas Nicke. (mcr10/jpnn)


Redaktur & Reporter : Elvi Robiatul

Silakan baca konten menarik lainnya dari JPNN.com di Google News

Terpopuler