Rival Gibran di Pilkada Solo Hanya Sebagai Calon Boneka?

Senin, 24 Agustus 2020 – 15:16 WIB
Duet Bagyo Wahyono dan F.X. Suparjo (Bajo) yang menantang Gibran Rakabuming - Teguh Prakosa pada Pilkada Kota Surakarta 2020. Foto: ANTARA/Bambang Dwi Marwoto

jpnn.com, SOLO - Bagyo Wahyono dan F.X. Suparjo (Bajo) tak dapat menyembunyikan raut muka bahagia setelah KPU Surakarta menyatakan keduanya dinyatakan lolos verifikasi vaktual, Jumat kemarin (21/8).

Meski demikian, lolosnya Bagyo Wahyono dan Supardjo lewat jalur independen di Pilkada Solo sempat diragukan. Stigma calon boneka pun sempat muncul.

BACA JUGA: Ini Tokoh yang Difavoritkan Gibran Rakabuming, Tak Ada Nama Jokowi

Soal tudingan pasangan ini sebagai calon boneka demi memuluskan langkah putra sulung Presiden Joko Widodo, Gibran Rakabuming Raka memenangi pilkada 9 Desember mendatang, tim Bajo menanggapi santai.

Mereka menegaskan jika Bajo adalah bakal calon yang masih memiliki peluang melawan hingga memenangkan pertarungan melawan Gibran-Teguh Prakosa yang diusung PDIP.

BACA JUGA: Mobil Berisi Satu Keluarga Masuk Jurang di Bogor

“Selentingan bahwa Bajo ini hanya setingan, dianggap boneka atau apa pun itu sama sekali tidak benar. Karena kami persiapan lebih dari satu tahun yang lalu,” kata Penanggungjawab Tim Pemenangan Bajo, Budi Yuwono.

Diakui Budi, tudingan-tudingan bahwa Bajo hanya boneka yang digunakan untuk menghindarkan Gibran-Teguh melawan kotak kosong itu kerap muncul.

BACA JUGA: Polisi Tangkap Penembak Pengusaha Pelayaran di Kelapa Gading, Ini Identitasnya

“Ada tudingan bahwa kami ini boneka agar mereka dapat menghindari kotak kosong. Padahal kami yakin kita lewat jalur independen karena kami memang dari masyarakat kecil,” imbuhnya.

Kendati demikian, dia tak memungkiri bahwa prosesnya memang tidak mudah. Upaya dari pihak lain yang mencoba merintangi Bajo untuk dapat maju pilkada semakin banyak.

Salah satunya datang dari sejumlah orang yang baru-baru ini menyatakan KTP mereka digunakan secara paksa sebagai syarat dukungan pasangan Bajo.

“Kami mengikuti tahapan dari KPU. Tahap pertama kami mengumpulkan KTP dukungan. Kami tidak dapat mengecek satu-satu apakah itu riil atau tidak, bahwa KTP yang masuk kami anggap riil,” ujarnya. 

Apabila pemilik KTP menyatakan tidak mendukung maka dinyatakan oleh KPU bahwa dukungan KTP itu tidak memenuhi syarat. “Secara unsur dari awal kami niatkan tidak menipu siapa pun.

Pasangan Bajo ini maju menjadi bakal calon wali kota dan wakil wali kota berkat dukungan organisasi masyarakat bernama Tikus Phiti,” tandasnya.

Meski optimistis dan yakin sebagian masyarakat menginginkan perubahan, tetapi dia juga ragu karena Bajo harus menanggung tugas berat.

“Dilihat dari kacamata matematika berat. Kami independen, belum pernah ikut alur politik, lawannya anak presiden. Power jelas punya, dan uang mungkin banyak. Seperti semut lawan gajah,” ujarnya. (rs/irw/per/JPR)

 

Jangan Lewatkan Video Terbaru:


Redaktur & Reporter : Rah Mahatma Sakti

Silakan baca konten menarik lainnya dari JPNN.com di Google News

Terpopuler