Rizal Ramli: Ini Akan Dicatat Oleh Sejarah

Rabu, 15 Februari 2017 – 12:28 WIB
Rizal Ramli nyoblos di Pilkada DKI. Foto: Istimewa

jpnn.com - jpnn.com - Tokoh nasional Rizal Ramli memberikan hak suaranya di pemilihan Gubernur DKI Jakarta. Rizal mencoblos di TPS 043, Jalan Bangka VIII D, Jakarta Selatan, Rabu (15/2).

Mantan Menteri Koordinator Kemaritiman itu berjalan kaki menuju TPS tersebut didampingi sejumlah rekan-rekannya.

BACA JUGA: Bang Sandi Tak Ngebet Harus Satu Putaran

Rizal berpesan, pilkada DKI Jakarta harus jujur, adil dan tidak ada kecurangan.

"Demokrasi hanya bermanfaat jika tanpa kecurangan," ujarnya seusai mencoblos, Rabu (14/2).

BACA JUGA: Waspada, Sebentar Lagi Penghitungan Suara

Dia menambahkan, jika kecurangan mewarnai pilkada DKI Jakarta, maka sejarah akan mencatatnya buruk.

Sebaliknya, jika berjalan dengan baik tanpa kecurangan maka sejarah pun akan mencatatnya baik.

BACA JUGA: Mas Agus Lega Udah Nyoblos Dua Kali

"Baik buruknya Pilkada Jakarta ini akan dicatat oleh sejarah dan akan menjadi kenangan buat warga Jakarta," ujar tokoh pergerakan pada zaman orde baru ini.

Rizal berharap setelah pilkada warga Jakarta kembali bersatu melaksanakan kehidupan sosial tanpa ada pertikaian maupun pertengkaran.

Di mata Rizal, pilkada DKI Jakarta berpotensi menciptakan instabilitas sosial dan mengganggu kerukunan antarumat beragama, karena dilaksanakan bersamaan dengan proses persidangan kasus penistaan agama yang dilakukan Basuki Tjahaja Purnama alias Ahok.

Ekonom senior Indonesia ini mengatakan sebagai wujud kecintaannya kepada Jakarta, jauh-jauh hari sebelum pencoblosan dia sudah turun ke lapangan untuk meredam suasana politik yang begitu panas.

"Saya ikut berjemaah di Mesjid Lauze dan berdialog dengan warga di sana agar tak terbawa suasana politik yang begitu panas," paparnya.

Rizal menambahkan, pada detik-detik jelang pencoblosan dirinya juga melakukan silaturahmi dengan Ketua Umum PP Muhamadiyah.

Pada pertemuan itu Rizal mengingatkan, jangan sampai bangsa ini diadu domba dan saling dibenturkan seperti yang sekarang ini dirasakan, yaitu antara "kelompok santri" dengan "kelompok abangan".

Termasuk menghindari minoritas yang dibenturkan dengan kelompok mayoritas, antara kelompok suku tertentu dan umat agama tertentu. (boy/jpnn)

BACA ARTIKEL LAINNYA... Bamsoet Minta Polri Pelototi Dua Titik Rawan di DKI


Redaktur & Reporter : Boy

Silakan baca konten menarik lainnya dari JPNN.com di Google News

Terpopuler