Rumor Prabowo Minta Jatah Menhan di Kabinet Jokowi-Ma'ruf, Ini Kata Pengamat

Kamis, 10 Oktober 2019 – 03:00 WIB
Ketua Umum Gerindra Prabowo Subianto bertakziah ke rumah duka mendiang Presiden Ketiga RI BJ Habibie di kawasan Kuningan, Jakarta Selatan, Rabu (11/9) sekitar pukul 21.30 WIB. Foto: Aristo Setiawan/JPNN.com

jpnn.com, JAKARTA - Sempat tersiar kabar bahwa Ketua Umum Partai Gerindra Prabowo Subianto meminta jatah kursi menteri pertahanan (Menhan) di kabinet Jokowi-Ma'ruf Amin dalam lima tahun mendatang.

Menurut pengamat politik, Ireng Maulana, jika kabar tersebut benar, maka hal itu tidak akan menguntungkan Prabowo Subianto sendiri.

BACA JUGA: Prabowo Tentukan Sikap 3 Hari Sebelum Pelantikan Presiden

"Jika Prabowo akhirnya hanya mengincar kursi Menhan, maka perannya yang semakin menguat dianggap sejajar dengan aktor politik arus utama di perpolitikan nasional akan memudar. Sebagian besar orang akan menilai tingginya pragmatisme Prabowo, dan akan mencatat Ia hanya puas dengan kursi menteri," ujarnyya dalam keterangan tertulis kepada JPNN.

Dia menambahkan, posisi Menhan akan menjadikan Prabowo jadi bawahan presiden yang notabene adalah Jokowi yang dua kali bertarung dengan dirinya pada Pilpres.

BACA JUGA: Prabowo Tidak Sodorkan 3 Nama Calon Menteri, Tetapi…

"Bawahan tidak lagi sejajar apapun dalihnya," ujar pengamat alumni Lowa State University, lowa (IA) Amerika Serikat, Program Master of Art in Political Science ini.

Ireng menegaskan, jika Prabowo tidak sungguh-sungguh untuk mengambil posisi Menhan, dia masih akan menjadi rujukan kekuatan politik yang mewarnai dinamika demokrasi Indonesia.

BACA JUGA: Intip Kesiapan Pasukan TNI AD Mengamankan Pelantikan Jokowi-Maruf

Di banyak peristiwa politik belakanan ini, lanjut Ireng, publik masih sangat menunggu sikap dan tindakan politik Prabowo sebagai respons dari berbagai persoalan yang ada di tanah air.

Menurutnya, kelihatan sekali Prabowo masih diperhitungkan sebagai salah satu kekuatan politik arus utama.

Karenanya, mengincar posisi Menhan, akan membuat Prabowo Subianto sama seperti menggali penolakan yang dalam dari para pendukungnya yang sudah terlanjur loyal. Mereka akan menyimpan ingatan tentang Prabowo yang ternyata hanya mementingkan jabatan.

"Ketika Prabowo sudah mempersempit ruang perannya sendiri dengan menjadi Menhan, itu sama saja mengkerdilkan arti penting dirinya sebagai tokoh politik," beber Ireng.

Ireng mengingatkan, Prabowo Subianto tidak perlu menjadi Menhan mengingat kapasitas dirinya diperlukan bersama kekuatan bangsa lainnya untuk memback-up pemerintah dalam urusan kepentingan nasional yang jauh lebih besar dan lebih krusial.

"Jika kepentingan untuk mendukung pemerintahan Jokowi direpresentasikan dengan menempati jabatan tertentu, maka mungkin akan lebih elegan jika Prabowo mau mewakafkan dirinya masuk dalam jajaran Watimpres sehingga pikiran-pikiran dan keberpihakannya terhadap kemajuan negara akan lebih langsung memperkuat gerak langkah kepemimpinan Jokowi," tandasnya.

Menurutnya, publik lebih ingin menyaksikan kolaborasi yang konstruktif dari para tokoh misalkan antara Jokowi dan Prabowo dalam konteks Presiden dan Watimpres.

Jika pun Gerindra mengincar kursi Menhan, lebih baik menyiapkan orang lain yang sesuai untuk posisi tersebut. (jpnn)

 


Redaktur & Reporter : Rasyid Ridha

Silakan baca konten menarik lainnya dari JPNN.com di Google News

Terpopuler