Sandiaga Beber Cara Perkuat Ketahanan Produksi Pangan

Sabtu, 06 Oktober 2018 – 00:30 WIB
Sandiaga Uno. Foto: Ricardo/JPNN.com

jpnn.com, JAKARTA - Sandiaga Uno menilai ketahanan pangan masih menjadi permasalahan di dalam negeri. Karena itu, calon wakil presiden nomor urut 02 itu berjanji memberikan perhatian terhadap problem tersebut jika terpilih pada Pemilu 2019.

Saat berkunjung ke redaksi Jawa Pos di Jakarta, Kamis (4/10), Sandi mengungkapkan problem mahalnya harga makanan di Jakarta jika dibandingkan dengan beberapa negara tetangga lainnya.

BACA JUGA: Kunjungi Jawa Pos, Sandiaga Kenang Tagihan dari Dahlan Iskan

”Merujuk pada data World Bank, makanan di Indonesia itu dua kali lipat lebih mahal dibanding dengan harga di India,” ujarnya.

Namun, tingginya harga makanan itu bertolak belakang dengan kesejahteraan dan nilai tukar petani. Sebab, meski harga beli beras tercatat tinggi, ongkos produksi petani juga meningkat secara tajam karena mahalnya pupuk dan komponen lainnya.

BACA JUGA: Ini Alasan Kubu Prabowo Langsung Percaya Cerita Ratna

Salah satu upaya yang akan dilakukannya jika nanti terpilih menjadi Wapres adalah menerapkan penggunaan teknologi. Khususnya yang berkaitan dengan upaya menyuburkan lahan.

”Kita tingkatkan kesejahteraan petani, kita dorong rantai distribusinya agar terbuka dan berkeadilan. Menggunakan fungsi teknologi dan mekanisasi juga,” imbuhnya.

BACA JUGA: Sandiaga Langsung Irit Bicara soal Ratna Sarumpaet

Menurut dia, upaya tersebut juga sejalan dengan komitmen yang diusung olehnya dan Prabowo Subianto. Pria bernama lengkap Sandiaga Salahuddin Uno itu menjelaskan, ada dua fokus yang disebutnya dapat memperkuat ketahanan produksi pangan di Indonesia.

Pertama, lapangan kerja yang lebih produktif kepada petani. Dengan demikian, mereka bisa naik kelas. Kedua, mengamankan harga-harga bahan pokok yang ada di pasar. ”Kami akan perkuat sumber-sumber produksi nasional. Kita fokus di bidang pertanian,’’ tambahnya.

Sandi juga berkaca pada pengalamannya sepanjang menjadi Wagub DKI Jakarta. Saat itu dia berupaya memaksimalkan potensi sentra-sentra produksi pangan yang tersebar seluruh tanah air. Caranya, menginstruksi PT Food Station Tjipinang Jaya (BUMD DKI di bidang pangan) untuk membeli pasokan dari petani lokal. Pasokan beras pun didapat dari beberapa wilayah petani di Pulau Jawa hingga Sulawesi Selatan.

”Ya, kita dapat dengan harga yang terjangkau juga. Food Station waktu itu satu-satunya Bulog versi pemda yang tidak membeli beras impor. Kita tahu dan kita punya datanya,’’ jelas ayah tiga anak itu. (dee/c10/fat)

BACA ARTIKEL LAINNYA... Neno Warisman Digelari Laksamana di Aceh, Kagak Salah Itu?


Redaktur & Reporter : Soetomo

Silakan baca konten menarik lainnya dari JPNN.com di Google News

Terpopuler