Sanksi Isolasi

Oleh: Dahlan Iskan

Jumat, 04 Maret 2022 – 08:08 WIB
Dahlan Iskan (Disway). Foto: Ricardo/JPNN.com

jpnn.com - SUDAH tiga hari saya tidak bisa menghubungi kenalan di Kiev, ibu kota Ukraina. WA saya pun tidak dibalas, bahkan tidak dibaca.

Saya bisa menduga mereka sudah tidak di Ukraina lagi. Kartu telepon Kiev-nya tentu sudah tidak berfungsi lagi di area lain.

BACA JUGA: Mati Lagi

Saya masih berharap mereka mau kirim nomor baru ke saya. Dari mana pun tempat mereka yang baru.

Akan tetapi, harapan itu tidak muncul pun sampai tadi malam.

BACA JUGA: Perang Hati-Hati

Saya pun menelepon Sasha (Aleksandra Klintsevich) mahasiswi Belarusia yang kuliah di Universitas Teknologi Sumbawa (UTS): apakah sehari kemarin Sasha masih bisa menelepon teman-teman di Ukraina? Dan apakah mereka masih bisa menonton TV Ukraina?

Sasha menjawab: "Saya masih bisa menelepon mereka tadi. Mereka juga masih bisa menonton TV Ukraina."

BACA JUGA: Era 1.000 Km

Berarti Kiev masih terkontrol oleh tangan pemerintahan Presiden Zelenskyy.

Kemarin Anda sudah tahu: hari kedelapan perang di Ukraina. Masih datar-datar saja.

Kalau sampai hari ke-10 besok Kiev belum juga jatuh ke tangan Rusia apa yang akan terjadi?

Mungkin juga tidak terjadi pembalikan keadaan. Kelihatannya tidak akan ada bantuan militer ataupun peralatan tempur yang canggih dari luar Ukraina.

Ukraina akan bertahan dengan apa yang ada. Inilah perang yang pihak penyerangnya tidak perlu kesusu.

Penyerang seperti tidak takut pihak yang diserang sempat konsolidasi. Atau sempat terima bantuan yang hanya telat datang.

Amerika Serikat memang memberikan dukungan penuh pada Ukraina. Seperti yang ditegaskan Presiden Joe Biden di pidato kenegaraan tiga hari lalu.

Namun, Amerika sudah pasti tidak akan mengirimkan pasukan ke Ukraina.

Kalau Amerika saja bersikap seperti itu berarti Inggris juga begitu, apalagi Jerman, lebih-lebih lagi Prancis.

Kini patriot Ukraina harus berjuang sendiri: bela negara tercinta. Akan tetapi kekuatan Ukraina memang terbatas.

Di kota-kota yang sudah ditaklukkan Rusia, tidak terjadi perlawanan yang sesungguhnya. Kota Kharkiv, Mariupol, dan Kherson sudah kosong dari tentara Ukraina.

Kharkiv adalah kota terbesar kedua di Ukraina. Sekitar 500 Km di timur Kiev.

Mariupol dan Kherson adalah dua kota pelabuhan di selatan. Dari Kherson pasukan Rusia akan menuju kota pelabuhan terbesar: Odesa.

Seharusnya, negara sekuat Rusia bisa menaklukkan Ukraina dalam satu atau dua hari. Kenyataannya, hari kedelapan lewat begitu saja. Odesa pun belum dimasuki, apalagi  Kiev.

Pengamat militer di Barat pun bertanya-tanya: mengapa begitu. Sudah pasti bukan karena perlawanan yang menakutkan.

Memang banyak barikade dipasang di jalan-jalan masuk Kiev, tetapi tumpukan pasir dan karung itu tidak ada artinya bagi tank Rusia. Berarti Rusia memang tidak memilih cara perang kilat.

Barat memang lebih fokus pada serangan di bidang ekonomi. Barat akan melumpuhkan Rusia dari kekuatan ekonominya.

Serangan seperti itu sudah terbukti menyengsarakan negara seperti Iran, Korea Utara, dan Kuba. Juga Venezuela. Dan Bolivia.

Negara-negara itu menderita karena diputus saluran darah mereka: negara lain pun kena sanksi bila berbisnis dengan mereka.

Demikian juga perusahaan yang menjalin bisnis dengan negara-negara itu. Pasti takut.

Meng Wanzhou, putri pendiri Huawei itu, sampai ditangkap Amerika hanya gara-gara tuduhan anak perusahaan Huawei berbisnis dengan Iran.

Apakah Rusia akan diisolasi sampai sekeras isolasi terhadap Iran? Dan Rusia akan mengalami kesulitan yang sama dengan Iran?

Sejauh ini sanksi pada Rusia sebatas untuk perusahaan-perusahaan Rusia tertentu. Juga untuk tujuh bank Rusia, termasuk kepada tokoh-tokoh bisnis Rusia yang dianggap dekat dengan Vladimir Putin.

Namun, belum ada sanksi kepada perusahaan atau negara yang masih berbisnis dengan Rusia.

Rusia adalah negara besar yang bisa hidup mandiri: energinya cukup untuk ekonomi dan rakyat mereka, sumber pangannya cukup, jumlah penduduknya juga cukup besar untuk memutar perekonomian, wilayahnya sangat luas –daratan maupun lautnya.

Kalaupun Rusia harus –seperti penderita Covid– menjalani isolasi, ia akan seperti isolasi di sebuah vila yang besar: yang ada sawahnya, kolam renangnya, lapangan sepak bolanya, dan karaokenya.

Itu mirip Tiongkok. Atau Amerika sendiri. Atau juga mirip Indonesia –kalau saja kita cukup energi dan pangan.

Apalagi kalau Rusia dan Tiongkok akan menjalani isolasi bersama, itu seperti dua villa besar yang dibuka pagarnya.

Itulah yang tidak bisa dilakukan Iran, Korut, dan Cuba. Juga Venezuela dan Bolivia.

Maka kalaupun di hari ke 10 besok Kiev sudah bisa jatuh ke tangan Rusia, perang masih akan terus berlanjut di bidang ekonomi. Kali ini kita akan ikut jadi pelakunya –setidaknya bisa menjadi korbannya. (*)

Anda bisa menanggapi tulisan Dahlan Iskan dengan berkomentar https://disway.id/. Setiap hari Dahlan Iskan akan memilih langsung komentar terbaik untuk ditampilkan di Disway.

BACA ARTIKEL LAINNYA... Dua Mata


Redaktur : M. Fathra Nazrul Islam
Reporter : Tim Redaksi

Silakan baca konten menarik lainnya dari JPNN.com di Google News

Terpopuler