Saran dari Mantan Kepala Bais untuk Kepolisian terkait Penanganan Teroris

Minggu, 17 November 2019 – 05:26 WIB
Polisi berjaga pascabom bunuh diri di Mapolrestabes Medan, Sumut, Rabu (13/11/2019). ANTARA FOTO/Irsan Mulyadi/aww

jpnn.com, JAKARTA - Pihak kepolisian diharapkan mengubah pola penyampaian informasi ke publik terkait penanganan aksi serangan teroris.

Saran tersebut disampaikan Mantan Kepala Badan Intelijen Strategis (Bais) Laksamana Muda TNI (Purnawirawan) Soleman B. Ponto,

BACA JUGA: Pengakuan Istri Terduga Teroris yang Sempat Diamankan Densus 88

"Ada beberapa yang perlu diperbaiki, seperti penggunaan diksi, cara penyampaian, dan tempat keluarnya informasi," kata Laksamana Muda TNI (Purn.) Soleman B. Ponto di Jakarta, Sabtu (16/11)..

Soleman menilai pola penyampaian informasi selama ini malah berpotensi mengakibatkan risiko serangan dari para pelaku teror tersebut makin besar ke Polri.

BACA JUGA: 2 Terduga Teroris yang Ditembak Mati di Hamparan Perak Dipastikan Perakit Bom Medan

Soleman mengatakan, publik selalu mendengar bagaimana informasi yang keluar, seperti Densus telah menembak terduga teroris. Sementara itu, alam bawah sadar orang bisa saja tidak terima dengan model informasi tersebut.

"Baru terduga sudah ditembak mati, ada orang yang tidak terima dengan ini, kita (aparat hukum, red) tidak tahu akibatnya ada yang dendam, keluarganya, atau siapa," ucap Soleman.

BACA JUGA: Seorang Polisi Terluka dalam Baku Tembak dengan Terduga Teroris di Hamparan Perak

Diksi yang dipergunakan untuk menyampaikan informasi, kata Soleman, cukup dengan memberikan keterangan yang tidak menampakkan kearoganan dan mengecilkan para pelaku teror tersebut.

"Jadi, Polri harus besar dan mereka kecil, jangan mereka yang terlihat besar dan Polri seakan berusaha dengan cara besar melumpuhkan mereka," kata Soleman.

Selain itu, Polri hendaknya tampil dengan satu nama saja sehingga kekuatan dan besarnya kepolisian makin terlihat.

"Sekarang kita lihat, ada polres, polda, Densus, mabes, ada juga reskrim, dan nama lain lagi. Cukup satu nama saja, polisi, itu saja," ucapnya.

Dengan banyak nama, seakan banyak institusi yang berupaya melumpuhkan terorisme. Hal tersebut tentunya membuat Polri terlihat kecil. Sebaliknya, pelaku teror terlihat besar.

"Begitu pula corong penyampaian satu juga, tidak semua ngomong, kepolisian daerah ngomong, Densus juga, reskrim, belum lagi mabes," ujarnya. (antara/jpnn)

 


Redaktur & Reporter : Soetomo

Silakan baca konten menarik lainnya dari JPNN.com di Google News

Terpopuler