Senator DKI Pesimistis Pilkada Berjalan Demokratis

Sabtu, 11 Maret 2017 – 21:31 WIB
Komisioner KPU dan Bawaslu DKI di acara Tim Pemenangan Ahok-Djarot. Foto: Andrian Gilang/JPNN

jpnn.com, JAKARTA - Pendukung Anies Baswedan-Sandiaga Uno terus mempermasalahkan kehadiran Ketua KPU DKI Jakarta Sumarno dan Ketua Bawaslu DKI Jakarta Mimah Susanti di acara rapat tertutup partai pengusung pasangan Basuki T Purnama-Djarot Saiful Hidayat beberapa waktu lalu.

Salah satu yang mempermasalahkan adalah anggota DPD RI asal DKI Jakarta Dailami Firdaus.

BACA JUGA: Djarot: Relawan Agus-Sylvi Dukung Kami

Menurut pria yang sudah mendeklarasikan dukungannya kepada Anies-Sandi ini, kehadiran Sumarno dan Mimah menimbulkan sebuah tanda tanya besar di masyarakat.

"Apapun pembelaan Sumarno mengenai ikhwal kehadirannya di acara tersebut jelas menjadi catatan negatif bagi penyelenggaraan Pilkada di DKI Jakarta. Apalagi acara tersebut adalah rapat tertutup partai pengusung salah satu paslon dan juga sudah masuk pada masa kampanye putaran ke dua Pilkada DKI Jakarta," jelas dia dalam surat elektronik yang dikirimkan ke redaksi RMOL, Sabtu (11/3).

BACA JUGA: Relawan Agus-Sylvi Beralih Dukung Ahok-Djarot

Menurut Dailami, kehadiran keduanya juga makin menajamkan opini masyarakat bahwa terjadi sebuah pemufakatan untuk memenangkan salah satu paslon. Kejadian ini bisa dikategorikan sebagai sebuah kejahatan dalam berdemokrasi.

"Secara pribadi sebagai putra daerah yang diamanahi untuk duduk di DPD RI benar-benar sangat kecewa sekali. KPUD sebagai penyelenggara Pilkada jelas-jelas sudah meruntuhkan kepercayaan masyarakat dan merusak sistem demokrasi yang kita bangga-banggakan," tegas dia seperti dilansir Kantor Berita Politik RMOL.

BACA JUGA: Djan Faridz: Saya Difitnah karena Dukung Ahok

"Seharusnya beliau tidak perlu menghadiri acara tersebut, bilapun itu termasuk ke dalam agenda kampanye paslon. Akhirnya opini liar akan terus bergulir dan memperlihatkan bahwa memang ada kesengajaan dan persengkokolan untuk memuluskan salah satu paslon sebagai pemenang di Pentas Pilkada DKI Jakarta," imbuhnya.

Dailami menjelaskan, DKI Jakarta sebagai barometer, seharusnya bisa menjadi contoh bagi nasional, maupun internasional untuk tidak main-main dalam sebuah proses pesta demokrasi, seperti pilkada.

"Yang pasti saat ini jelas sudah dimasyarakat terbangun opini yang penggiringan kekuatan secara menyeluruh untuk memenangkan salah satu paslon dan saya sangat pesimis bahwa Pilkada DKI Jakarta akan berjalan dengan demokratis," demikian Dailami. (prs/rmol)

BACA ARTIKEL LAINNYA... Khusyuknya Ziarah Khusus Djarot ke Makam Bung Karno


Redaktur & Reporter : Adil

Silakan baca konten menarik lainnya dari JPNN.com di Google News

Terpopuler