Sensasi Bermalam di Pulau Sadau, Misteri Makam tak Tergerus Ombak

Minggu, 22 November 2015 – 00:44 WIB
Pantai di Pulau Sadau. Foto: Rury Jamianto/Radar Tarakan/JPG

jpnn.com - PULAU Sadau, sebuah pulau kecil yang  lokasinya berada di sebelah barat Pulau Tarakan, menyimpan sejuta pesona keindahan pantainya. Di sudut pulaunya terdapat lokasi indah yang mungkin jarang atau bahkan belum diketahui masyarakat luas.

---------------

BACA JUGA: Di Kapuas Hulu, Ringgit Lebih Laku daripada Rupiah

RURY JAMIANTO, Pulau Sadau

--------------

BACA JUGA: Jarang Muncul di Layar Kaca setelah Berhijab, Kini Bisnis dan Mengaji

SECARA administratif, Pulau Sadau masuk dalam wilayah Kelurahan Karang Harapan, Kecamatan Tarakan Barat, Kota Tarakan. Namun pulau yang luasnya hanya 37 hektare ini, tidak setenar pulau Tarakan. Nama Pulau Sadau kembali populer saat pemerintah kota Tarakan memiliki wacana membangun jembatan Bulungan Tarakan (Bulan) yang melalui Pulau Sadau.

Nama Pulau Sadau juga kembali muncul ke publik, saat pemerintah kota memiliki konsep wisata di pulau yang harus ditempuh sekitar 15 menit dari Pasar Beringin ini.

BACA JUGA: Ketika Novelis Aguk Irawan "Berjihad Literasi" di Pesantren Baitul Kilmah

Seperti apa Pulau Sadau kini? Sejak Selasa (17/11) lalu, Radar Tarakan (Jawa Pos Group) melakukan peliputan khusus di pulau ini.

Konsep wisata tradisional yang dikemas dalam balutan tatabudaya pesisir pantai, sudah sampai di telinga warga setempat.

Dari kejauhan, pulau ini terlihat berbentuk bulat sedikit lonjong. Untuk menuju pulau Sadau, memang tidak ada jalur reguler. Anda harus mencari sendiri speed boat atau perahu sampan bermesin ketinting. Radar Tarakan memilih naik melalui dermaga Beringin 3 dengan tarif Rp100 ribu.

Mendekat pulau yang berhadapan langsung dengan perusahaan Intraca ini, nuansa tradisional nelayan dalam mencari ikan sudah terlihat. Kita akan banyak menjumpai keramba-keramba yang dipasang nelayan di sekitar pulau Sadau untuk mendapatkan ikan.

Di sekitar Pulau Sadau masih terlihat hutan mangrove perawan. Bahkan di salah satu sudut pulau, bibit magrove tumbuh subur. Mangrove muda ini sengaja dibudidayakan oleh masyarakat pesisir sebagai upaya menahan abrasi pantai.

Tim Radar Tarakan tiba di pulau ini bertepatan dengan meredupnya matahari di ujung Pulau Sadau. Suasana hening dan cahaya temaram lampu LED di langit-langit rumah penduduk menyapa di balik senja yang mulai gelap.

Bermalam di pulau tersebut memiliki sensasi tersendiri. Suasana laut pasang dengan deburan ombak yang tenang begitu jelas di balik redupnya suasana malam yang secara langsung kami nikmati. Indahnya pemandangan pesisir pantai di antara bangunan khas rumah penduduk, menarik mata kami di antara gelapnya malam.

Di Sadau, lokasi indah yang dapat kita kunjungi dan jarang diketahui khalayak ramai adalah Pantai Keramat. Di Pantai Keramat ini, dapat kita menemukan bebatuan yang berukuran kecil di sekitar bibir pantai, tebing terjal yang masih alami makin menambah indahnya pesona pantai ini.

Selain pesona Pantai Keramat, di sana ada sebuah makam keramat suku Tidung yang bertahun-tahun lamanya sudah ada di pulau ini. Inilah yang membuat pantai ini diberi nama Pantai Keramat.

Konon, sang pemilik Makam Keramat ini adalah sosok seseorang yang mulia budi pekertinya. Sosok mulia ini tak pernah mengambil apapun yang bukan miliknya. Saat menemukan barang yang walau tak memiliki pemilik, ia selalu menanyakan ke setiap orang yang ia jumpai.

Dalam kesehariannya yang sederhana, sosok ini dikenal sangat santun, berbudi baik dan gemar membantu sesama. Maka sepeninggalannya di pulau ini, apapun yang kita temukan hendaklah dikembalikan kepada sang pemilik atau membiarkan barang tersebut berada di tempatnya semula.

Oleh warga Pulau Sadau, keberadaan makam keramat di dekat pantai tersebut dipertahankan hingga hari ini.

Walau berada di bibir pantai, makam ini tidak pernah tergerus ombak seperti daratan lainnya. “Makam ini konon bisa berpindah mas, entah benar atau tidak namun mas bisa lihat makam di bibir pantai ini dari dulu seperti itu. Padahal sering dihantam ombak laut,” ujar Samsudin, Ketua RT 13 Pulau Sadau.

Tak heran, beberapa pengunjung selalu menjadikan pantai ini sebagai tujuan utama saat berkunjung ke Pulau Sadau. Terutama warga Suku Tidung.

Tidak hanya sampai di situ, tim Radar Tarakan bersama Ketua RT 13 mencoba mendatangi salah satu sumber mata air. Airnya yang bisa langsung diminum menjadi keunikan tersendiri. Walau letaknya berada di dekat Pantai Keramat, namun tidak terasa asin sama sekali.

Menurut Samsudin, sumber mata air ini menjadi salah satu sumber kebutuhan masyarakat pulau Sadau.

“Airnya tidak asin, bening dan tidak berbau, jadi bisa langsung diminum tanpa harus dimasak,” ungkap Samsudin kepada Radar Tarakan,  saat melakukan observasi di sumber mata air dekat Pantai Keramat, Rabu  (18/11).

Karena sempat ragu, Radar Tarakan mencoba sendiri meminum air yang sumbernya dekat dengan pantai tersebut. Dan setelah diminum, memang benar airnya tidak menimbulkan aroma bau apalagi asin.

“Air ini sudah diuji kelayakannya oleh Dinas Kesehatan Kota Tarakan dan memiliki Ph yang cocok untuk dikonsumsi,” jelas Samsudin sambil ikut meminum air yang keluar dari sumber dengan bantuan mesin pompa bertenaga genset.

Dengan beragam keindahan pulau ini, ditambah dengan ramahnya para penduduk yang didominasi nelayan ikan dan udang, membuat Sadau tak bisa diabaikan begitu saja.(*/eru/ddq)

BACA ARTIKEL LAINNYA... Kisah Buruh Cuci Piring yang Kini Miliarder


Redaktur : Tim Redaksi

Silakan baca konten menarik lainnya dari JPNN.com di Google News

Terpopuler