Sentil Sekjen PSSI, Fakhri Husaini: Di Organisasi, Garis Komando Sudah Jelas

Sabtu, 11 April 2020 – 22:35 WIB
Eks Pelatih Timnas U-19 Fakhri Husaini. Foto: Amjad/JPNN

jpnn.com, JAKARTA - Ketua Umum PSSI M Iriawan sempat meminta maaf kepada Komisi X DPR RI karena ulah Sekjen Ratu Tisha Destria. Dia bahkan, menyebut bawahannya sudah overlapping dalam beberapa keadaan. Hal ini sangat disayangkan oleh mantan pelatih Timnas, Fakhri Husaini.

“Kami sudah evaluasi. Memang saya melihat terlalu overlapping keberadaan Sekjen, sehingga bapak bisa tahu sekarang yang bersangkutan tidak ada lagi memberikan keputusan yang bersifat strategis bahkan penyampaian-penyampaian di media pun saya ambil alih semua. Karena memang ada hal yang kurang pas," kata M Iriawan dalam Rapat Dengar Pendapat dengan Komisi X DPR RI pada Rabu (8/4) lalu.

BACA JUGA: Sekjen PSSI Dikritik Komisi X DPR RI, Begini Respons Iwan Bule

"Kemudian saya minta maaf juga kepada Bapak terkait tempat duduk saat bapak berada di SEA Games 2019 Manila. Saya tidak tahu ini, tapi saya ucapkan mohon maaf atas perlakukan Sekjen kami yang memang kurang pas kepada Bapak  secara khususnya," imbuh pria yang karib disapa Iwan Bule tersebut.

Menanggapi kondisi tersebut, Fakhri melihat memang tak bagus langkah dari Sekjen saat Ketum sudah merasa ada overlapping.

BACA JUGA: DPR RI Kritik PSSI Karena Ulah Sekjen, Penilaian Pengamat Cukup Menohok

"Kalau di sepak bola, overlapping itu diperlukan, bahkan bisa menjadi bagian dari strategi dan senjata ampuh untuk membongkar pertahanan lawan," kata Fakhri.

Namun, kondisi berbeda jika itu terkait dengan roda sebuah organisasi, apalagi sangat besar seperti PSSI. Idealnya, tugas dan fungsi pokok pejabat harus sesuai sehingga tak ada tumpang tindih tugas.

BACA JUGA: Pengakuan Pasien Positif Corona Pertama di NTT, Ternyata Sempat Singgah di Jakarta dan Bali

"Berbeda dengan di organisasi, garis komandonya sudah jelas, ada birokrasi, ada otorisasi dan batasan ruang lingkup kewenangan jabatan yang harus ditaati oleh seluruh pejabat maupun staf," terang Fakhri.

Sebelumnya, Anggota Komisi X Djohar Arifin mengkritik PSSI karena melihat Sekjen PSSI kerap mengambil keputusan strategis melampaui perannya di tubuh federasi.

Djohar mencontohkan salah satunya keputusan soal penundaan laga leg kedua final Piala Indonesia antara PSM Makassar kontra Persija Jakarta di 2019 lalu. Padahal, izin keamanan sudah ada dan diberikan.

Kemudian, terkait perlakukan Sekjen kepada perwakilan Komisi X yang tak mengenakkan saat SEA Games 2019 Filipina.

"Kami diminta oleh KBRI masuk sebagai undangan VIP. Tetapi ternyata di kursi tidak ada nama kami. Yang ada tiga nama lain. Saya tanya siapa yang memasukkan tiga nama itu, ternyata Sekjen. Akhirnya kami duduk di bangku biasa. Kemudian Sekjen Federasi sepak bola Filipina datang dan mengajak kami pindah. Sekjen kita (PSSI, red) tak peduli,” tandasnya.(dkk/jpnn) 


Redaktur & Reporter : Muhammad Amjad

Silakan baca konten menarik lainnya dari JPNN.com di Google News

Terpopuler