Sesjen MPR Ma’ruf Cahyono Dikukuhkan Jadi Ketua KAFH Universitas Jenderal Soedirman

Minggu, 07 Juni 2020 – 23:52 WIB
Sesjen MPR RI Ma'ruf Cahyono sekaligus Ketua KAFH Universitas Jenderal Soedirman. Foto: Humas MPR

jpnn.com, JAKARTA - Pandemi Covid-19 yang melanda di berbagai tempat tidak menghalangi insan alumni Fakultas Hukum Universitas Jenderal Soedirman, Puwokerto, Banyumas, Jawa Tengah untuk beraktivitas.

Pada 2 Juni 2020, mulai pukul 19.00 WIB hingga 23.00 WIB, para alumni Fakultas Hukum Universitas Jenderal Soedirman yang terhimpun dalam Keluarga Alumni Fakultas Hukum (KAFH) Universitas Jenderal Soedirman melakukan dua acara sekaligus yakni Halalbihalal Hari Raya IdulFitri 1414 H dan Pelantikan Pengurus KAFH Universitas Jenderal Soedirman Masa Bakti Tahun 2020-2025, secara virtual.

BACA JUGA: MPR RI Berikan Penghargaan Kepada Prajurit TNI

Hadir dalam acara video conference yang diikuti oleh ratusan anggota KAFH Universitas Jenderal Soedirman itu, Rektor Universitas Jenderal Soedirman Prof. Dr. Ir. Suwarto MS, Dekan Fakultas Hukum Universitas Jenderal Soedirman Prof. Dr. Ade Maman Suherman MSc, Ketua Keluarga Alumni Universitas Jenderal Soedirman, Astera Primanto Bhkati serta tokoh dan alumni lainnya.

Pada malam itu, Ade Maman Suherman mengukuhkan Sesjen MPR Dr. Ma’ruf Cahyono sebagai Ketua KAFH Universitas Jenderal Soedirman Masa Bakti 2020-2025.

BACA JUGA: Ketua MPR RI Lebih Suka Menyebut Gaya Hidup Baru Ketimbang New Normal

“Kami mengucapkan terima kasih kepada Prof. Ade Maman Suherman, atas berkenannya mengukuhkan kepengurusan KAFH Universitas Jenderal Soedirman,” ujar Ma’ruf Cahyono.

“Bapak Ade Maman juga keluarga alumni Fakultas Hukum Universitas Jenderal Soedirman,” tambahnya.

BACA JUGA: Ketua MPR RI Minta Kepala Daerah Sosialisasikan Protokol New Normal

Ma’ruf Cahyono terpilih sebagai Ketua KAFH Universitas Jenderal Soedirman secara aklamasi pada Musyawarah Nasional Keluarga Alumni Fakultas Hukum  Universitas  Jenderal  Soedirman  Purwokerto  pada  tanggal  21 Februari  2020  bertempat  di  Hotel  Java  Heritage, Purwokerto, Banyumas, Jawa Tengah.

Sebagai forum tertinggi di kalangan KAFH Universitas Jenderal Soedirman, Musyawarah Nasional, selanjutnya memberi mandat kepada Ma’ruf Cahyono untuk menyusun kepengurusan KAFH Universitas Jenderal Soedirman Masa Bhakti 2020-2025.

Dalam kepengurusan ini, Ma’ruf Cahyono didampingi Suwardi sebagai Wakil Ketua Umum dan Imarotun Noor Hayati M SH SpN sebagai Sekretaris Jenderal. Sedang Dr. Tedi Sudrajat SH MH sebagai Wakil Sekretaris Jenderal. Sementara itu, Sri Wahyuni Handayani dipercaya sebagai Bendahara Umum didampingi Ivada Widiastuti sebagai Wakil Bendahara Umum.

Dalam kepengurusan KAFH Universitas Jenderal Soedirman Masa Bhakti 2020-2025 tersusun atas 11 Departemen dan 23 Bidang, juga ada Dewan Penasehat dan Dewan Ahli.

Duduk sebagai Dewan Penasehat adalah, Wahyu Prasetyo Wibowo, H. Priyo Anggoro Budi Rahardjo, Achmad Mulyono, Asep Maryono, dan Tony Adhitya. Sedang sebagai Dewan Ahli adalah Prof. Dr. Hibnu Nugroho, Prof. Dr. Muhammad Fauzan S, Agung Widyantoro, Dr. Angkasa SH MHum, Dr. Rahmat Triyono, Dr. Abdul Kholik, dan Tulus Abadi.

Dari nomenklatur dan susunan pengurus yang ada, Ma’ruf Cahyono optimis mampu menjalankan amanah seluruh alumni yang jumlahnya ribuan dan tersebar di seluruh wilayah tanah air bahkan di luar negeri.

“Organisasi keluarga alumni yang telah kita sahkan, sesungguhnya adalah  miniatur sekaligus potret harapan kita semua sebagai alumni fakultas hukum, sekaligus sebagai wadah  aktualisasi peran kita yang didedikasikan untuk  sesama alumni, almamater tercinta fakultas hukum, dan untuk masyarakat, bangsa dan negara,” ujarnya.

Ma’ruf Cahyono lewat video conference mengajak kepada semua untuk bersikap optimistis.

“Meyakini bahwa kita mampu membawa biduk keluarga ini dalam satu ikatan silaturahmi yang semakin indah dan harmonis,” ujarnya.

“Bersama-sama almamater kampus merah tercinta fakultas hukum dan Universitas Jenderal Soedirman umumnya, berkontribusi secara nyata dalam mewujudkan Tri Dharma Perguruan Tinggi,” tambahnya.

Dengan susunan kepengurusan yang ada, 11 Departemen dan 23 Bidang, Ma’ruf Cahyono menyebut kepengurusan pada masa bhakti ini merupakan wadah yang lengkap. Dengan wadah itulah diharap semua alumni KAFH Universitas Jenderal Soedirman dapat berekspresi, beraktualisasi, dalam bidang apapun.

Semua alumni disebut memiliki kesempatan, kemauan, dan kemampuan untuk mengambil peran dan kontribusinya kepada almamater, masyarakat,  bangsa dan negara.

“Saya yakin aktualisasi diri adalah salah satu kebutuhan manusia yang akan mencari tempatnya”, ujarnya. Untuk itulah di wadah keluarga alumni ini diharapkan mengaktualisasikan diri. “Insha Allah ke depan akan semakin semarak, menjadi tempat yang indah untuk bercengkrama, bersilaturahmi,” tutunya.

Sebagai manusia biasa, Ma’ruf Cahyono juga mengakui wadah yang ada sebagai ruang untuk melewati usia menuju senja sehingga perlu memanfaatkan wadah yang ada untuk beribadah, bersilaturahmi dan melakukan hal-hal yang baik.

“InsyaAllah akan mendatangkan kebahagiaan,” harap pria yang juga menjadi Wakil Ketua Keluarga Alumni Universitas Jenderal Soedirman itu.

Perbedaan pemikiran dan pandangan di antara alumni, disebut oleh Ma’ruf Cahyono sebagai warna-warninya taman sari yang akan membuat taman sari itu semakin asri dan indah.

“Perbedaan apapun di antara alumni menunjukan bahwa kita kaya ide dan pemikiran. Nada dan irama jika kita harmonisasikan tentulah menjadi lagu cinta yang indah dan menentramkan hati,” tuturnya.

Dirinya berharap untuk menjadikan taman sari dan lagu cinta menjadi anugerah yang membawa hikmah pelajaran baik sehingga menjadi keluarga alumni yang bijak dalam menghadapi setiap persoalan seberat apapaun.

Dalam video conference itu, Ma’ruf Cahyono mengajak kepada semua yang hadir dalam pertemuan virtual untuk melangkah bersama, membawa perahu KAFH mewujudkan impian bersama. Diharap semua jangan pantang meyerah karena semua adalah adalah laskar Soedirman.

“Meskipun kamu mendapat latihan jasmani yang sehebat hebatnya tidak akan berguna jika kamu memiliki sifat menyerah. Kepandaian yang bagimanapun tingginya, tidak ada gunanya jika orang itu mempunyai sifat menyerah”, pesannya dengan penuh puitis.

Pesan yang disampaikan itu juga dikaitkan dengan apa yang dihadapi oleh seluruh ummat manusia saat ini, yakni pandemi Covid-19. Pandemi Covid-19 yang terjadi dikatakan menuntut kita untuk tidak menyerah.

“Betapapun kerasnya angin, kuatnya badai kita harus mampu sampai pada tujuan,” tegasnya.

Dalam menghadapi pandemi Covid-19, ada upaya untuk menjalani masa yang disebut new normal. Siasat yang demikian, new normal, menurut Ma’ruf Cahyono merupakan keniscayaan.

“Keniscayaan bagi manusia untuk selalu menyesuaikan dengan alam dan lingkungan”, ungkapnya. Disebut manusia yang mampu bertahan, ialah yang mampu merespon dengan cepat dan tepat perubahan situasi dan kondisi yang terjadi.

Ia mengutip pendapat ilmuwan biologi, Charles Darwin yang termaktub dalam buku The origin of species bahwa “it is not the strongest of the species that survive, nor the most intelligent, but the one most responsive to change” (yang mampu bertahan hidup bukanlah ia yang kuat, bukan pula yang memiliki kecerdasan tinggi, melainkan seseorang yang paling responsif terhadap perubahan).

Lebih lanjut dipaparkan sebagai insan jurist, seyogyanya kita menjadi barisan yang paling mudah untuk melakukan adaptasi di tengah kondisi new normal seperti sekarang ini.

“Bagaimana tidak, tingkat fleksibilitas kaum jurist di tengah-tengah masyarakat menjadi yang paling tinggi dibandingkan profesi yang berasal dari cabang-cabang ilmu lain,” tuturnya.

Diungkapkan, ilmu hukum tak akan mampu merambat di ruang hampa. Oleh karenannya ia memerlukan suatu instrument dalam mengekspresikan diri. Instrumen dan tempat yang paling tepat dalam mereflkesikan serta mengimplementasikan keilmuan para kaum jurist tidak lain ialah di tengah-tengah masyarakat itu sendiri.

Dari sinilah Ma’ruf Cahyono menyebut kemampuan kita beradaptasi dengan kondisi apapun, new normal, semua itu tergantung dari kita sendiri.

Sebagai bangsa Indonesia, dikatakan kita harus bersyukur karena memiliki landasan nilai sebagai bekal mengabdi pada berbagai perubahan, yakni Pancasila. Pancasila dikatakan sebagai ideologi yang bekerja dan hidup.

“Negara Indonesia memiliki landasan moralitas dan haluan kebangsaan yang jelas dan visioner,” tegasnya.(jpnn)


Redaktur & Reporter : Friederich

Silakan baca konten menarik lainnya dari JPNN.com di Google News

Terpopuler