Simak! Permintaan Khusus Wakil Ketua MPR Hidayat Kepada Karang Taruna Depok

Sabtu, 16 Februari 2019 – 19:59 WIB
Wakil Ketua MPR Hidayat Nur Wahid saat Sosialisasi Empat Pilar MPR di kalangan pemuda yang tergabung dalam Karang Taruna Kota Depok yang berlangsung di Ruang Teratai Gedung Pertemuan Kota Depok, Sabtu (16/2). Foto: Humas MPR

jpnn.com, DEPOK - Wakil Ketua MPR RI Hidayat Nur Wahid meminta generasi muda agar proaktif mencari dan menggali nilai-nilai yang terkandung dalam Pancasila.

Hal ini penting agar generasi muda bisa mengerti, memahami dan mengamalkannya dalam kehidupan sehari-hari. Bukan malah tak peduli terhadap nilai-nilai luhur bangsa, dan mengambil paham-paham dari luar yang belum tentu sesuai dengan karakter bangsa Indonesia.

BACA JUGA: Pesan Cak Imin Saat Diskusi Jejak Politik Santri Menyatukan Negeri

"Di era informasi dan keterbukaan seperti sekarang ini sangat mudah mencari dan mempelajari nalai-nilai yang ada di dalam Pancasila. Jangan cuek, atau menyalahkan orang lain, mengapa kita tidak mengenal Pancasila?,” kata Hidayat menjawab pertanyaan salah seorang peserta Sosialisasi Empat Pilar MPR di kalangan pemuda yang tergabung dalam Karang Taruna Kota Depok yang berlangsung di Ruang Teratai Gedung Pertemuan Kota Depok, Sabtu (16/2).

Ikut hadir pada acara tersebut Wali Kota Depok Muhammad Idris, dan Wakil Ketua Karang Taruna Jawa Barat Imam Budi Hartono.

BACA JUGA: Pesan Cak Imin Buat Kandidat dan Tim Sukses Jelang Pemilu 2019

Pada sesi tanya jawab, ada seorang peserta yang mengaku tidak begitu paham dengan nilai-nilai luhur yang terkandung dalam Pancasila. Bahkan menurutnya, banyak generasi milenial seusianya yang tidak memahami apa itu Pancasila.

Padahal, Hidayat dalam pemaparannya mengatakan MPR sudah banyak melakukan sosialisasi diberbagai kalangan. Termasuk remaja dan anak-anak sekolah.

BACA JUGA: HNW Mempersilakan Ribuan Anggota Majelis Taklim Melihat Perdebatan Wakil Rakyat

Saat menyampaikan sosialisasi, Hidayat antara lain mengatakan, lahirnya Indonesia tak lepas dari kebesaran hati para ulama. Para ulama mau mengalah, tidak mendahulukan egonya, semata-mata agar Indonesia yang diproklamirkan pada 17 Agustus bisa tetap berdiri. Karena itu, selain jas merah generasi muda harus ingat pada jas hijau (jangan melupakan jasa ulama).

“Indonesia yang diproklamirkan 17 Agustus, nyaris bubar jika para ulama menolak usulan AA. Maramis yang menolak Piagam Jakarta. Bisa saja ulama menolak usulan itu, dengan alasan mayoritas masyarakat Indonesia itu muslim, dan jika Piagam Jakarta tidak disetujui kami akan memutuskan tidak bergabung dengan NKRI", kata Hidayat menambahkan.

Tetapi, sikap seperti itu kata Hidayat tidak muncul. Sebaliknya, para ulama setuju, mereka mau menerima usulan AA. Maramis, dan menghapus tujuh kata dalam piagam Jakarta, sehingga bunyinya menjadi Ketuhanan Yang Maha Esa. Itu dilakukan, semata mata agar negara Indonesia yang lahir pada 17 Agustus bisa dipertahankan.(adv/jpnn)

BACA ARTIKEL LAINNYA... Masyarakat Antusias Ikut Sosialisasi Empat Pilar MPR, Begini Respons Mahyudin


Redaktur : Tim Redaksi

Silakan baca konten menarik lainnya dari JPNN.com di Google News

Terpopuler