Soroti Kesediaan Pangan, Komite II DPD Terjun ke Daerah

Senin, 20 November 2017 – 18:59 WIB
Kunjungan Komite II DPD ke Balikpapan. Foto: istimewa

jpnn.com, BALIKPAPAN - Dalam pemenuhan kebutuhan pangan di Indonesia, masih ada hal yang perlu ditindaklanjuti dengan serius.

Yaitu aspek penyediaan pangan, kedaulatan pangan, kemandirian pangan, ketahanan pangan dan keamanan pangan.

BACA JUGA: Komite II DPD Minta Pupuk Bersubsidi di Jatim Dikelola Baik

Hal tersebut disampaikan oleh Wakil Ketua Komite II DPD Aji Muhamad Mirza Wardana saat kunjungan kerja dalam rangka pengawasan UU Nomor 18 tahun 2012 tentang Pangan, di Gedung Grand Sudirmann Balikpapan, Senin (20/11).

Dia juga menambahkan permasalahan penyediaan pangan salah satunya disebabkan oleh perubahan cuaca dan iklim.

BACA JUGA: DPD Minta Pupuk Bersubsidi di Jatim Dikelola dengan Baik

"Perubahan cuaca dan iklim makin masif di Indonesia, cenderung menyebabkan sulitnya membuat rencana pemenuhan kebutuhan pangan nasional yang akurat," ujarnya.

Hal lain yang perlu diperhatikan dalam penyediaan pangan, menurut Aji, adalah memperketat kualitas bahan pangannya.

BACA JUGA: Senator Asal DKI Memprakarsai Hajatan Betawi 2017

"Masih ada juga isu soal kandungan penyakit kuku dalam daging impor dan beberapa produk makanan yang beredar di Indonesia mengandung bahan pengawet, hal ini tentu harus diwaspadai dan sikapi dengan bijak," jelasnya.

Aji juga mengimbau agar Indonesia memiliki lahan gandum yang baik. Karena, menurutnya, adalah keniscayaan jika lahan gandum harus ada dan dikelola dengan baik, mengingat salah satu makanan di Indonesia adalah roti dan mi instan.

Namun, Indonesia masih mengimpor gandum dalam jumlah besar untuk memenuhi kebutuhan industri makanan di Indonesia.

Di kesempatan yang sama Kepala BULOG Divre Kalimantan Timur dan Utara, Muhamad Anwar, mengatakan Bulog membutuhkan ruang penyimpanan baru.

"Untuk kantor logistik kami hanya cukup menampung 4000 ton, jadi kalo mau menampung hasil tani dari Kaltara dibutuhkan gudang tambahan," ucapnya

Menurut Anwar, sesuai dengan perpres no 48, maka BULOG tidak hanya fokus kepada hasil tani padi saja tapi juga jagung dan kedelai.

Prestasi Bulog Divre Kaltim dan Utara ditunjukkan dengan perolehan peringkat satu dalam pencapaian omset di Indonesia pada 2016.

Kendala stabilitas harga pun disoroti Anwar. Menurutnya, dengan cadangan beras pemerintah yang dimiliki bulog maka beras bisa salurkan untuk menstabilkan harga pasar sesuai dengan arahan dari pemerintah.

"Salah satu upaya yang kami lakukan adalah pemindahan stok juga dari balikpapan ke samarinda dan ke daerah lainnya jika diperlukqn, hal ini untuk melakukan stabilisasi harga, tentunya hal ini sesuai arahan dari pemerintah, karena kapasitas kami disini sebagai operator," terangnya.

Sementara itu Asisten III Sekda Prov. Kaltim, Bere Ali, menyampaikann bahwa sampai saat ini beras masih mengarah ke tahap insentifikasi untuk memenuhi kebutuhan pangan dalam skala lokal.

Diaa juga mengapresiasi apa yang fokus dilakukan oleh DPD untuk itu.

"Kami mengapresiasi kinerja DPD RI, karena nyata hadir dan menyentuh daerah seperti dalam pertemuan ini," ujarnya.

Soal pangan sangat relevan dengan kaltim, Bere menambahkan, agro industri sangat penting sehingga dalam 8 tahun terakhir Provinsi Kalimantan Timur fokus ke sektor pertanian.

Selanjutnya, Kepala Dinas Pertanian Dan Ketahanan Pangan, Ibrahim mengatakan lahan pertanian masih kurang.

"Sentra padi kaltim ada di kaltara, tapi sekarang dibuatkan di kaltim, namun sawah kita itu 56 ribu hektar, dengan cadangan lahan 400ribu hektar akan tetapi masih termasuk lahan hutan," tandasnya.

Kaltim dalam kondisi sekarang butuh air untuk kegiatan pertanian, hal in menurut Ibrahim untuk memenuhi kebutuhan kegiatan tani.

Di satu sisi jagung yang menjadi primadona untuk para tani saat ini, hal ini karena mudahnya membudi dayakan jagung.

"Saat ini kami juga memerlukan prasarana untuk jagung karena berlebihan hasil produksi, diperkirakan 90.000 ton pada tahun 2018. Para petani mulai melirik untuk menanam jagung karena dalam 80 hari saja sudah bisa jadi uang, selain itu hama dan penyakit juga lebih sedikit dari pada padi. jagung masih bisa hidup di musim kemarau, sehingga meminimalisir keruhian petani," jelasnya.

Untuk ketersedian beras 214 ribu ton, sedangkan kebutuhannya, menurut Ibrahim, hanya sebesar 40.000 ton per bulan di Kaltim, sehingga masih aman stok untuk 6 bulan ke depan.

Dalam agenda pertemuan tersebut nampak hadir anggota komite II DPDRI Habib Ali Alwi, Permana Sari, Mohamad Saleh, Habib A. Bahasyim, Mesakh Mirin, Mamberob Yosephus, dan Aceng Fikri.

Pada akhir sesi, para senator berdiskusi dengan para narasumber.

Senator Kalimantan Selatan, Habib Abdurahman Bahasyim mengatakan bahwa masyarakat harus diberikan motivasi dalam bertani.

"Harus ada motivasi bagi masyarakat untuk bertani, dimana dengan bertani masyarakat juga bisa sejahtera dan petani bukan masyarakat kelas 2, nah pemerintah harus memberikan suatu mekanisme yang baik untuk para petani di Indonesia" ujarnya.

Kekecewaan soal pendistribusian beras pun disampaikan oleh Aceng Fikri.

"Dulu waktu saya masih menjadi Bupati Garut, Pendistribusian Bulog datanya tidak disampaikan ke masyarakat, padahal sudah 13-14 kali pendistribusiannya ke masyarakat tapi tidak diterima. Nah semoga tidak terjadi lagi masalah ini, dimana kolusi antara suplier dengan oknum," tegasnya.

Menjawab penyampaian Senator Jawa Barat Aceng Fikri, Kepala BULOG Divre Kaltim dan Utara Muhamad Anwar menjawab bahwa ada sanksi tegas bagi oknum yang 'bermain'.

"Jika ada oknum dari bulog yang bermain maka sanksinya adalah pemecatan, dan kami akan usut sampai tuntas ke pihak lain yang terkait," tegasnya.

Aji Mirza menegaskan hasil rapat hari ini akan disampaikan di tingkat pusat dengan kementerian terkait.

"Kami akan sampaikan hasil rapat hari in ke pusat, kami juga akan mengundang kementerian terkait dalam rapat dengar pendapat komite II," ujar Aji yang merupakan senator dapil Kalimantan Timur. (Adn/adv/jpnn)

BACA ARTIKEL LAINNYA... Anak Zaman Now Harus Berkontribusi Besar bagi Bangsa


Redaktur & Reporter : Natalia

Silakan baca konten menarik lainnya dari JPNN.com di Google News

Tag
adv_dpd  

Terpopuler