Strategi Aceh Menjaring Wisman di Pesta Kesenian Bali

Senin, 22 Mei 2017 – 14:45 WIB
Tari Saman. Foto: Kemenpar

jpnn.com, BALI - Setelah sukses mempromosikan Pesona Aceh di Jogjakarta, April lalu, Provinsi Nangroe Aceh Darussalam membidik Pulau Dewata Bali. Pesta Kesenian Bali (PKB) & Buleleng Expo 2017 yang digelar 17-21 Mei 2017 di Eks Pelabuhan Buleleng, Singaraja, Bali, menjadi ajang tebar pesona untuk menjaring banyak wisman ke Aceh.

“Kami mempromosikan Aceh sebagai destinasi wisata halal atau yang kini dikenal juga dengan sebutan family friendly,” ungkap Kepala Dinas Pariwisata Aceh Reza Pahlevi.

BACA JUGA: Kemendes PDTT Berpotensi Bangun Lebih dari 5 Ribu Homestay Tahun Ini

Tim kesenian dari Sanggar Cut Nyak Dhien Meuligo binaan Niazah A Hamid ikut diboyong ke destinasi wisata terbaik dunia 2017 versi TripAdvisor. Di Bali, mereka tampil dengan sejumlah tarian unggulan Aceh yang sudah mendunia.

“Tari Prang Sabil dan Tari Saman berhasil tampil elegan pada acara malam pembukaan. Ini membuat banyak wisatawan mancanegara yang juga hadir meramaikan malam pembukaan ikut terpukau,” ujarnya.

BACA JUGA: STP Nusa Dua Bali Berguru dari Jawara My Kitchen Rules 2016

Wisman memang pantas terpukau menyaksikan Tari Saman. Salah satu tarian terindah dan tersulit untuk dilakukan yang sudah diakui dunia itu sudah dipertontonkan band dunia sekaliber Coldplay di single 'Amazing Day' dalam Album A Head Full of Dreams. Tarian ini juga sudah diakui UNESCO sebagai warisan budaya tak benda milik dunia.

“Sebuah kebanggaan tarian Aceh dapat tampil maksimal dalam pesta kesenian Bali ini. Hal ini tentunya menjadi media strategis dalam memperkenalkan kekayaan dan keunikan seni budaya Aceh,” ujar Reza.

BACA JUGA: 3 Kementerian Kompak Resmikan Program Pengembangan Desa Wisata Indonesia

Tidak hanya tampil di panggung PKB, Aceh juga ambil bagian di Expo Buleleng. “Sebagai bentuk keseriusan Pemerintah Aceh dalam mempromosikan industri pariwisatanya, Aceh juga ikut dalam Expo Buleleng dengan tampilan stand yang khusus didekor unik berlatarkan gapura Aceh,” ungkapnya.

Ada dua industri Pariwisata Aceh yang ikut dalam pameran tersebut. Dua-duanya punya nama besar. Di barisan pertama, ada Aceh Great Wall Tour. Satunya lagi Asoe Nanggroe Wisata. Keduanya menjual paket-paket wisata menarik serta ragam produk unggulan Aceh, seperti kopi, pakaian adat dan cinderamata khas Aceh.

Reza berharap, adanya kesempatan promosi luar daerah ini tentunya memperkuat positioning Aceh sebagai family friendly destination. “Semoga industri pariwisata Aceh semakin berkembang dan dapat berdampak positif bagi kemajuan Aceh masa akan datang dan memperkuat positioning Aceh sebagai family friendly destination kelas dunia,” ungkapnya.

Menteri Pariwisata Arief Yahya mengapresiasi promosi yang dilakukan Disbudpar Aceh. “Ibarat menjaring ikan, pilihlah kolam yang berjubel ikannya. Ini sudah tepat dilakukan, karena 40 persen wisatawan datang dari Bali. Jadi tidak salah jika bali menjadi tempat yang tepat untuk berpromosi,” ujarnya.

Menteri Pariwisata Arief Yahya memang tidak ada lelahnya memberikan semangat mendorong pariwisata Indonesia agar lebih maju ke semua pihak. Termasuk mendorong Aceh agar selalu mengobarkan semangat memajukan pariwisata Indonesia ke daerah lain.

Menpar mengatakan, langkah Aceh untuk menjadikan family friendly destination sebagai core economy daerah sudah tepat. Pertama, sejak tahun 2014 terjadi ledakan pasar wisata halal di dunia. Size pasar wisata halal sangat signifikan. Dari 6,8 miliar penduduk dunia, 1,6 miliar adalah muslim dan 60 persen di bawah usia 30 tahun. Jika dibandingkan dengan total penduduk Tiongkok 1,3 miliar orang dengan 43 persen di bawah usia 30 tahun.

"Total pengeluaran wisatawan muslim dunia USD142M, hampir sama dengan pengeluaran wisatawan Tiongkok USD 160M yang sekarang ini menjadi rebutan seluruh negara di dunia, terutama yang mengembangkan pariwisata, Aceh sudah tepat dan harus terus ditingkatkan dengan konsisten," ungkap Menpar.

Kedua, dari sisi sustainability atau growth wisata halal juga memperlihatkan kenaikan yang signifikan, yakni 6,3 persen. Lebih tinggi dari rata-rata pertumbuhan dunia, 4,4 persen lebih besar dari rata-rata growth Tiongkok 2,2 persen dan ASEAN 5,5 persen.

Data dari Comcec Report February 2016, Crescentrating, tahun 2014 ada 116 juta pergerakan halal traveler. Mereka memproyeksikan pada tahun 2020 akan menjadi 180 juta perjalanan, atau naik 9,08 persen. Di Indonesia juga naik, dalam tiga tahun terakhir rata-rata 15,5 persen.

Ketiga, spread atau benefit-nya juga besar. Rata-rata wisman dari Arab Saudi membelanjakan USD 1.750 per kunjungan. Uni Arab Emiratet USD 1.500 per kepala. Angka itu jauh lebih besar dari-rata-rata wisman dari Asia yang berada di kisaran USD 1.200.

"Karena itu sudah memenuhi syarat 3S, size, sustainable, dan spread. Ini menjadi alasan paling kuat, mengapa Aceh harus menetapkan pariwisata sebagai portofolio bisnisnya. Menjadikan halal tourism sebagai core economy-nya," ujar pria asli Banyuwangi itu. (adv/jpnn)

 

BACA ARTIKEL LAINNYA... Ini Dia Kampiun Morotai Underwater Photo Contest 2017


Redaktur : Tim Redaksi

Silakan baca konten menarik lainnya dari JPNN.com di Google News

Tag

Terpopuler