JPNN.com

Strategi Singapura Dalam Menghadapi Ancaman Keamanan Siber Global

Penulis: Hizra Marisa, staf pengajar pada Program Studi Ilmu Hubungan Internasional Universitas Paramadina

Selasa, 14 Januari 2025 – 17:23 WIB
Strategi Singapura Dalam Menghadapi Ancaman Keamanan Siber Global - JPNN.com
Keamanan siber. Ilustrasi: Daily Telegraph/Alamy

jpnn.com - Singapura telah lama dikenal sebagai salah satu negara paling maju di dunia dalam berbagai bidang, termasuk ekonomi, pendidikan, dan teknologi. Namun, salah satu pencapaian yang paling menonjol dalam beberapa dekade terakhir adalah keberhasilan Singapura dalam mengembangkan teknologi keamanan siber (Singapore Cybersecurity Strategy, 2021).

Di tengah dunia yang semakin terhubung secara digital, keamanan siber telah menjadi prioritas utama bagi banyak negara, termasuk Singapura.

BACA JUGA: LA California

Negara Singapura tidak hanya berhasil melindungi infrastrukturnya dari ancaman dunia maya, tetapi juga menjadi pemimpin global dalam inovasi keamanan siber.

Tulisan berikut akan mengelaborasi bagaimana dan apa saja strategi Singapura dalam menghadapi ancaman keamanan siber global yang semakin tampak di depan mata. Masalah keamanan siber menjadi ancaman sekaligus tantangan yang harus dihadapi tiap negara.

BACA JUGA: Hari Koplo

Strategi Keamanan Siber dan Pilar Keamanan Nasional Singapura

Bagi Singapura, keamanan siber adalah elemen penting dari keamanan nasional. Negara ini memiliki ekonomi yang sangat bergantung pada teknologi digital, mulai dari sektor keuangan hingga transportasi, sehingga rentan terhadap ancaman dunia maya
(CFDS, 2019).

BACA JUGA: Sapi Emoooooh

Untuk mengatasi ancaman ini, pemerintah Singapura mengambil langkah proaktif dengan membangun fondasi yang kokoh untuk keamanan siber. Salah satu langkah pertama adalah pendirian Cyber Security Agency of Singapore (CSA) pada tahun 2015.

CSA bertanggung jawab untuk mengawasi, mengembangkan, dan melaksanakan strategi keamanan siber nasional (Rosyad, 2019). Pemerintah juga meluncurkan Singapore Cybersecurity Strategy 2021, sebuah dokumen kebijakan yang memperjelas visi Singapura untuk menjadi pusat keamanan siber global.

Strategi ini menekankan empat pilar utama (Aurelia, 2024):

1. Memperkuat Infrastruktur Kritis, yakni melindungi sektor-sektor penting seperti energi, kesehatan, transportasi, dan keuangan,

2. Membangun Ekosistem Digital yang Tangguh, dengan cara meningkatkan kesadaran masyarakat tentang keamanan siber,

3. Meningkatkan Kemampuan Teknologi dan Profesionalisme, salah satu program yang dilakukan Singapura yakni dengan melatih tenaga kerja dalam bidang keamanan siber,

4. Memimpin Kolaborasi Internasional, dengan aktif bekerja sama dengan negara lain untuk melawan ancaman dunia maya.

Salah satu alasan utama di balik keberhasilan Singapura dalam keamanan siber adalah investasi besar dalam teknologi canggih (Mingjie, 2023). Pemerintah dan sektor swasta bekerja sama untuk mengembangkan solusi inovatif yang dapat melindungi sistem dari serangan.

Contohnya adalah pengembangan Artificial Intelligence untuk deteksi ancaman dunia maya (Ying Thian, 2024). Teknologi ini mampu menganalisis data dalam jumlah besar secara real-time dan mendeteksi pola aktivitas mencurigakan yang mungkin menunjukkan serangan. Dengan menggunakan AI, Singapura mampu mengurangi waktu respons terhadap ancaman, sehingga kerugian dapat diminimalkan.

Selain itu, Singapura juga memanfaatkan teknologi blockchain untuk meningkatkan keamanan transaksi digital. Teknologi ini digunakan di sektor keuangan untuk melindungi data pelanggan dan memastikan integritas transaksi. Hal ini sangat penting mengingat Singapura adalah salah satu pusat keuangan terbesar di dunia (Ying Thian, 2024).Studi Kasus: Serangan Siber SingHealth 2018.

Pada tahun 2018, Singapura mengalami salah satu serangan siber terbesar dalam sejarahnya, yang dikenal sebagai SingHealth Data Breach. Dalam insiden ini, data pribadi dari 1,5 juta pasien, termasuk informasi medis dari Perdana Menteri Lee Hsien Loong, dicuri oleh peretas. Serangan ini menjadi peringatan besar bagi pemerintah dan masyarakat tentang pentingnya keamanan siber.

Penyerangan terhadap SingHealth, penyedia layanan kesehatan terbesar di Singapura, dilakukan melalui metode yang sangat canggih. Penyerang menggunakan malware untuk mendapatkan akses ke sistem internal. Investigasi mengungkap bahwa serangan ini adalah bagian dari operasi yang sangat terorganisir, yang kemungkinan besar dilakukan oleh aktor negara (Alijoyo, 2019). Namun, pemerintah Singapura tidak tinggal diam.

Setelah serangan tersebut, berbagai langkah segera diambil untuk memperbaiki sistem keamanan siber negara ini (CFDS, 2019):

1. Audit Sistem Keamanan, pemerintah melakukan evaluasi menyeluruh terhadap semua sistem teknologi informasi di sektor kesehatan,

2. Meningkatkan Teknologi Keamanan. SingHealth mengimplementasikan sistem multifactor authentication dan enkripsi data tingkat lanjut,

3. Peningkatan Kesadaran dan Pelatihan. Staf medis dan teknisi dilatih untuk mengenali potensi ancaman dan meningkatkan respons terhadap insiden.

Pentingnya transparansi juga menjadi pelajaran berharga. Pemerintah Singapura secara terbuka mengakui kelemahan dalam sistem mereka dan berbagi hasil investigasi dengan publik. Langkah ini meningkatkan kepercayaan masyarakat dan menunjukkan
komitmen pemerintah dalam menangani masalah ini.

Kolaborasi Internasional dalam Keamanan Siber

Keberhasilan Singapura dalam keamanan siber tidak lepas dari kemampuannya untuk membangun kerja sama dengan negara lain. Sebagai anggota aktif dalam forum-forum internasional seperti ASEAN, Singapura memimpin berbagai inisiatif untuk memperkuat kerja sama regional dalam menghadapi ancaman dunia maya.

Misalnya, Singapura menjadi tuan rumah ASEAN Ministerial Conference on Cybersecurity (AMCC), yang bertujuan untuk meningkatkan koordinasi antara negara-negara anggota ASEAN dalam menghadapi ancaman dunia maya. Selain itu, Singapura juga bekerja sama dengan negara-negara maju seperti Amerika Serikat, Jepang, dan Australia untuk berbagi teknologi, pengetahuan, dan strategi keamanan siber (Anshori, 2019).

Di tingkat lokal, Singapura mendirikan ASEAN-Singapore Cybersecurity Centre of Excellence (ASCCE) pada tahun 2019. Pusat ini berfungsi sebagai tempat pelatihan dan penelitian bagi para profesional keamanan siber dari seluruh wilayah Asia Tenggara. Singapura juga memahami bahwa keberhasilan jangka panjang dalam keamanan siber bergantung pada kemampuan manusia. Oleh karena itu, pemerintah berinvestasi besar-besaran dalam pendidikan dan pelatihan.

Institusi pendidikan seperti National University of Singapore (NUS) dan Nanyang Technological University (NTU) menawarkan program khusus dalam keamanan siber. Selain itu, pemerintah meluncurkan inisiatif seperti Cybersecurity Career Mentorship Programme untuk menarik lebih banyak individu ke dalam bidang ini.

Di bidang penelitian, Singapura membangun pusat inovasi seperti National Cybersecurity R&D Laboratory. Pusat ini bertujuan untuk mengembangkan teknologi baru yang dapat melindungi sistem dari ancaman yang terus berkembang (pttati, 2024).

Tantangan Masa Depan Keamanan Siber Singapura

Meskipun Singapura telah mencapai banyak hal dalam keamanan siber, tantangan tetap ada. Ancaman dunia maya terus berkembang, baik dari sisi teknologi maupun aktor yang terlibat. Peretas semakin canggih dalam menggunakan AI, malware, dan teknik manipulasi sosial (social engineering).

Selain itu, meningkatnya adopsi teknologi seperti Internet of Things (IoT) juga menciptakan celah baru dalam sistem keamanan. Menurut penulis, Singapura harus terus berinovasi untuk mengatasi tantangan ini.

Di masa depan, Singapura berencana untuk memperluas penggunaan teknologi canggih seperti quantum computing dalam keamanan siber. Teknologi ini dapat meningkatkan enkripsi data ke tingkat yang jauh lebih tinggi, sehingga lebih sulit untuk ditembus oleh peretas.

Keamanan Siber Dalam Perspektif Hubungan Internasional

Keberhasilan Singapura dalam mengembangkan teknologi keamanan siber adalah hasil dari strategi yang terencana, investasi yang tepat, dan kerja sama yang efektif. Melalui kombinasi teknologi canggih, kebijakan yang kuat, dan komitmen terhadap pendidikan, Singapura telah membuktikan dirinya sebagai pemimpin global dalam keamanan siber.

Studi kasus SingHealth Data Breach menunjukkan bahwa bahkan negara yang paling maju sekalipun tidak kebal terhadap ancaman dunia maya. Namun, respons cepat dan langkah-langkah perbaikan yang diambil oleh Singapura menjadi contoh bagaimana sebuah negara dapat bangkit dan menjadi lebih tangguh setelah mengalami serangan.

Dalam konteks kajian Hubungan Internasional, keamanan siber merupakan bagian dari keamanan non-tradisional yang semakin penting di era globalisasi dan digitalisasi.

Keamanan siber melibatkan ancaman yang melampaui batas negara (Marisa, 2023). Serangan siber seperti peretasan, spionase digital, dan sabotase infrastruktur kritis bukan hanya masalah domestik, tetapi juga isu global yang memengaruhi hubungan antarnegara.

Koordinasi yang baik antar aktor, dalam hal ini aktor negara dan non negara sangat diperlukan, namun juga bisa menjadi arena di mana aktor-aktor ini saling bersaing dan berkolaborasi, menciptakan dinamika baru dalam sistem internasional.

Hal itulah yang pernah dibahas dalam buku Renard, “Cyber-diplomacy: the making of an International society in the digital age” (2017) Keamanan Siber dapat dilihat dalam kerangka Soft Power dan Hard Power (Renard, 2017).

Soft Power di mana negara menggunakan kemampuan sibernya untuk memproyeksikan pengaruh dan membangun citra sebagai pemimpin teknologi, seperti Singapura yang dikenal sebagai "Smart Nation”. Sedangkan Hard Power, serangan siber ofensif digunakan untuk menekan atau melemahkan lawan, sebagaimana terlihat dalam contoh kasus serangan siber geopolitik antara Rusia dan Ukraina.

Dengan terus berinvestasi dalam teknologi, pendidikan, dan kolaborasi internasional, Singapura berada di jalur yang tepat untuk tetap menjadi salah satu negara paling aman di dunia secara digital. Di tengah dunia yang semakin terhubung, pencapaian ini menjadi inspirasi bagi negara-negara lain untuk mengikuti jejak Singapura dalam membangun keamanan siber yang tangguh.(*)


Redaktur : M. Fathra Nazrul Islam
Reporter : Tim Redaksi

Silakan baca konten menarik lainnya dari JPNN.com di Google News

Terpopuler