Sudah Rp 13 Triliun Dana Asing Kabur

Sejak 26 September hingga 13 Oktober

Jumat, 17 Oktober 2014 – 07:22 WIB

jpnn.com - JAKARTA - Panasnya tensi politik yang dipicu persaingan kubu koalisi Jokowi dan Prabowo memantik kekhawatiran pelaku pasar. Direktur Eksekutif Lembaga Riset Katadata Heri Susanto menyatakan, perseteruan politik yang tak kunjung reda setelah pemilihan presiden mendapat reaksi negatif investor di pasar finansial.

"Sepanjang periode 26 September hingga 13 Oktober, Rp 13 triliun dana asing kabur dari Indonesia," ujarnya di Jakarta kemarin (16/10).
 
Menurut Heri, arus modal keluar atau capital outflow itu terlihat dari total net sell investor asing di pasar modal yang mencapai Rp 7 triliun.

BACA JUGA: Indonesia Siap Dominasi Ekonomi Dunia

Adapun di pasar obligasi, kepemilikan investor asing atas Surat Utang Negara (SUN) juga menyusut Rp 6 triliun. "Tren ini bisa berlanjut kalau situasi politik tidak kunjung mereda," katanya.
 
Periode 26 September 2014, kata dia, digunakan sebagai titik awal perhitungan capital outflow. Sebab, itu bertepatan dengan memanasnya tensi politik seiring persaingan sengit di DPR saat pengesahan RUU pemilihan kepala daerah (pilkada).

Momen tersebut menunjukkan bahwa Koalisi Indonesia Hebat yang menguasai pemerintahan takluk oleh Koalisi Merah Putih (KMP).

BACA JUGA: Dahlan Iskan di Business Leader Forum: Perusahaan Harus Makin Fokus

Pada 26 September itu, investor asing langsung melakukan aksi jual di pasar saham hingga Rp 1,4 triliun. Akibatnya, indeks harga saham gabungan (IHSG) anjlok 68 poin ke level 5.132. Pada 13 Oktober, IHSG sudah anjlok 219 poin ke 4.913.

Sementara itu, nilai tukar rupiah pada 26 September melorot 60 poin dan menembus level psikologis Rp 12.007 per USD. Pada 13 Oktober, rupiah sudah merosot ke Rp 12.202 per USD.
 
Heri menyebutkan, saat ini investor global tengah galau menanti kebijakan Bank Sentral Amerika Serikat (AS) atau The Fed. Karena itu, investor menjadi lebih sensitif pada isu-isu politik.

BACA JUGA: Produk Kecantikan Kimia Farma Laris Manis di Luar Negeri

Apalagi, salah satu keunggulan Indonesia di mata investor selama ini adalah stabilitas politik yang terjaga baik. "Ini harus menjadi perhatian para politisi agar secepatnya menjalin rekonsiliasi," ucapnya.
 
Karena itu, lanjut Heri, investor akan terus mencermati manuver-manuver politisi dalam beberapa pekan ke depan. Terutama setelah Jokowi-Jusuf Kalla dilantik sebagai presiden dan wakil presiden.

Dari situ, investor akan melihat apakah efektivitas pemerintahan akan terganggu oleh dominasi kubu Prabowo di parlemen. "Kalau masih ada gangguan dan ganjalan, bisa jadi kegelisahan investor pasar modal akan menular ke sektor riil," jelasnya.
 
Ekonom Bank DBS Gundy Cahyadi menambahkan, stabilitas politik memang menjadi prasyarat utama bagi keberlanjutan ekonomi Indonesia. Dia mengungkapkan, dalam sebulan terakhir, rupiah melemah 4 persen atau lebih besar dibanding depresiasi mata uang Asia lain yang rata-rata hanya 2 persen.

Sementara itu, IHSG drop 4,6 persen atau lebih tajam dibanding pelemahan pasar saham Asia yang rata-rata 3 persen.

"Faktor global memang berpengaruh. Tapi, di Indonesia ada tambahan sentimen negatif dari panasnya situasi politik," ujarnya. (owi/c22/oki)

BACA ARTIKEL LAINNYA... ATSI Dukung Rencana Pitalebar Indonesia


Redaktur : Tim Redaksi

Silakan baca konten menarik lainnya dari JPNN.com di Google News

Terpopuler