Surat Terbuka Warga Carita Untuk Presiden Jokowi

Sabtu, 09 Desember 2017 – 16:35 WIB
Surat Terbuka Warga Carita Untuk Presiden Jokowi. Ilustrasi

jpnn.com, PANDEGLANG - Timan (50) yang mengaku mewakili Masyarakat Pesisir Carita, Banten mengadu ke Presiden Joko Widodo. Bentuk pengaduan itu dibuat dalam surat terbuka agar masalah yang dialami bisa ada solusinya.

Masalah yang dihadapi Timan dan warga pesisir Carita adalah tertutupnya akses menuju proyek pemecah ombak dan pengerukan sungai.

BACA JUGA: Kasatlantas Polres Probolinggo Teringat Pesan Tukul Arwana

Akses jalan diduga ditutup oleh investor yang akan membangun hotel di area tersebut.

Upaya mencari solusi dari penutupan akses jalan ini sudah dilakukan. Kamis (7/12) lalu, Dinas Perumahan Kawasan Permukiman dan Pertanahan Provinsi Banten pun menginisiasi pertemuan untuk mencari solusi.

BACA JUGA: Mahyudin Buka Sosialisasi BPH Migas di Kaltim

Pertemuan berlangsung di Kantor Polsek Carita. Ironisnya, masyarakat pesisir Pantai Carita tak diundang.

Meski tak diundang, namun di lokasi sekitar 60 warga dari tiga kampung Desa Carita dan Desa Sukajadi, Kecamatan Carita, yakni kampung Pegedongan, Pakojan dan Udik tetap mendatangi pertemuan. Pihak manajemen hotel yang diundang justru tak datang. Masalah pun menggantung.

BACA JUGA: Innalillahi, Istri Bupati Pidie Tewas di Tol Cipali

Seperti apa pengaduan warga Carita ke Presiden Jokowi? Berikut Surat Terbuka yang diterima, Sabtu (9/12).

Bapak Presiden yang kami muliakan, seperti kata pepatah, “tak ada laut, maka tak ada ikan; tak ada ikan, maka tak ada nelayan,” begitulah nasib para nelayan alami di kampung halaman kami sendiri.

Ingin kami curahkan sekelumit nasib kami, tentang pesisir pantai yang biasa kami gunakan sebagai tempat memulai aktivitas mengais rezeki di tanah leluhur kami.

Bapak Presiden, begitu pahit nasib yang kami alami di negeri yang Bapak pimpin ini. Bagi kami rakyat kecil, melaut adalah sumber pencaharian kami untuk menghidupi keluarga (anak, istri dan orangtua). Akan tetapi, jika jalan kami untuk beraktivitas ditutup, maka kami tidak dapat lagi untuk menghidupi keluarga kami.

Bapak Presiden, di awal tahun 2017 ini ada investor baru dari Jakarta membeli banyak bidang tanah (manajemen hotel bersangkutan dan sekitarnya) di Pantai Carita, tepatnya di Desa Sukajadi. Masyarakat merasa resah sejak investor tersebut datang, karena sikap investor yang arogan.

Mengapa kami menolak investor tersebut? Di pertengahan tahun 2017 terjadi perselisihan antara masyarakat dan pihak Hotel. Hal ini berawal dari pihak hotel yang melarang dan menghalangi kami, dengan tidak memberikan akses jalan untuk ke pantai.

Bahkan pihak hotel membuat tembok yang menghalangi jembatan bambu untuk akses kami ke pantai. Permasalahan tersebut sampai saat ini belum selesai, sebab akses jembatan yang dibangun masyarakat secara swadaya sewaktu-waktu dapat ditutup kembali oleh pihak hotel.

Bapak Presiden, di bulan Oktober 2017, pemerintah daerah mencanangkan program untuk kepentingan masyarakat Pantai Carita dengan memperluas dan memperdalam muara sungai ke laut yang telah lama dangkal.

Bagi kami, program pemerintah tersebut sangat penting sebagai jalur yang juga sangat penting untuk akses memasukkan dan mengeluarkan perahu nelayan untuk melaut. Tetapi, program pemerintah tersebut mendapat penentangan dari pihak Hotel. Mereka berdalih program tersebut mengotori dan merusak pemandangan.

Pada November 2017, program pemerintah lanjutan berupa pembuatan tanggul pemecah ombak untuk mengatasi dan melindungi kampung masyarakat Carita, khususnya Kampung Pegedongan, dari bahaya ombak besar yang sewaktu-waktu bisa menerjang kampung, lagi-lagi mendapat penentangan dari pihak Hotel hingga masalah tersebut dibawa ke ranah hukum.

Diperparah lagi, semua akses keluar-masuk proyek untuk kebutuhan material batu-batu tanggul pemecah ombak ditutup portal besi dan digembok serta dijaga oknum-oknum tertentu.

Kami sebagai masyarakat kecil tidak bisa berbuat apa-apa selain mengadu kepada Bapak Presiden agar kiranya mendengarkan keluhan kami. Tak ada tempat kami mengadu selain kepada Tuhan dan Bapak Presiden yang kami harapkan bisa membantu memberikan kami akses masuk ke pantai untuk bisa mencari nafkah demi menghidupi keluarga.

Sampai berita ini diunggah, belum didapatkan konfirmasi dari pihak investor hotel yang dimaksud. (jpnn)

BACA ARTIKEL LAINNYA... Satu Warga Meninggal Keracunan Makanan


Redaktur : Tim Redaksi

Silakan baca konten menarik lainnya dari JPNN.com di Google News

Terpopuler