Tak Dinafkahi Batin: Masak Saya Memaksa Minta

Selasa, 05 Desember 2017 – 13:33 WIB
Tak Dinafkahi Batin: Masak Saya Memaksa Minta. Ilustrasi Fajar/Radar Surabaya/JPNN.com

jpnn.com, SURABAYA - Karin masih cinta sama suaminya. Rasa sayang itu belum sepenuhnya hilang.

Namun, wanita yang berumur 25 tahun itu harus berpikir realistis.

BACA JUGA: Pesona Karyawati Cantik Bikin Pikiran Suami Ngeres

Di usianya yang masih muda dan saat hasrat menggebu, warga Manukan, Surabaya, Jawa Timur tentunya tidak hanya butuh dinafkahi lahir saja, tapi kebutuhan batin juga harus diseimbangkan oleh suaminya, Donwori.

Hingga suatu waktu, Karin pun menuntut dan berkata: Kalau istri menolak dosa, tapi kalau istri meminta lalu suami menolak, hukumnya apa?

BACA JUGA: Tetanggaku Janda Idolaku

===================================
Anggun Angkawijaya - Radar Surabaya
===================================

Wajah Karin masih tampak bersedih. Dia berkali-kali dia mengusap air mata yang menetes di pipinya.

BACA JUGA: Istri Kecentilan saat Lihat Pria Tampan

Matanya juga masih merah karena banyak menangis saat duduk di ruang tunggu Pegadilan Agama kelas 1 A Surabaya, Senin (4/11).

Bersama seorang kerabatnya, dia menunggu pengacaranya yang sedang mengurusi administrasi sidang.

Perempuan berparas ayu ini sedih karena harus berpisah dengan Donwori, 30, suaminya.

Meskipun lelaki yang sudah menikahinya selama dua tahun ini mampu memberi kebahagiaan materi, tapi belum bisa menyenangkannya di ranjang. Waduh….

“Sebenarnya saya masih berat meninggalkan dia. Tapi bagaimana lagi, dia jarang pulang. Kalau pulang langsung tidur. Masak saya harus maksa-maksa minta,” kata Karin usai menjalani sidang perceraiannya.

Karin mengatakan, dia harus tinggal berjauhan dengan suaminya karena harus menjaga ibunya yang sedang sakit.

Dia di Surabaya, sedangkan Donwori bekerja di Jakarta. Seminggu sekali suaminya pulang.

“Kalau repot bisa dua minggu sekali atau sebulan sekali,” imbuhnya.

Setahun pertama, Karin bisa memaklumi. Kalau Donwori tak pulang, dia yang ke Jakarta.

Tapi, Karin kecewa berat karena suaminya lebih sering menyerah saat bertempur.

Awalnya perempuan ini tidak mempermasalahkannya. Tapi setelah Donwori sering menolak melaksanakan kewajibannya dan pilih mengibarkan bendera putih, akhirnya Karin bertanya secara halus.

“Tapi ya sering dijawab nggak enak,” ungkap Karin.

Pernah Karin mengajak suaminya berobat ke dokter, eh malah ditolak. Bahkan mereka perah bertengkar hebat.

“Kalau istri nolak katanya dosa, lah kalau suami nolak bagaimana hukumnya?” cetus Karin.

Setelah dipertimbangkan dalam- dalam, akhirnya Karin memutuskan untuk berpisah dengan Donwori.

Selain masalah kepuasan batin, dia juga ingin segera punya momongan.

“Daripada saya selingkuh dan tersiksa, mending berpisah saja,” tegas Karin.

Sementara ini Karin tinggal bersama ibunya di rumah asalnya di Manukan.

Sedangkan Donwori memilih tinggal di Tegalsari, Surabaya. (rud/sb/ang/jek/JPR)

BACA ARTIKEL LAINNYA... Kakek Kecantol Cinta Janda Cantik Beranak Satu


Redaktur : Tim Redaksi

Silakan baca konten menarik lainnya dari JPNN.com di Google News

Terpopuler