Tak Takut dengan KKB di Papua, Bamsoet Tetap Menuju ke Kawasan Freeport

Rabu, 04 Maret 2020 – 17:47 WIB
Ketua MPR RI Bambang Soesatyo mengunjungi PT Freeport Indonesia di Tembagapura, Mimika, Papua, Rabu (4/3). Foto: Humas MPR RI

jpnn.com, TEMBAGAPURA - Ketua MPR RI Bambang Soesatyo meminta PT Freeport Indonesia untuk menyejahterakan rakyat Papua.

Hal ini disampaikan pria yang akrab disapa Bamsoet itu saat mengunjungi PT Freeport Indonesia di Tembagapura, Mimika, Papua, Rabu (4/3).

BACA JUGA: Tinjau Persiapan PON XX, Bamsoet: Dahsyat dan Luar Biasa

"Papua merupakan tanah yang diberkati Tuhan sehingga kekayaan nasional harus diolah di dalam negeri dan dimanfaatkan sebesarnya untuk rakyat, sebagai wujud rasa syukur kepada Tuhan. Jangan sampai di tengah melimpahnya kekayaan sumber daya alam, bangsa kita khususnya masyarakat Papua malah justru dirundung kemiskinan," kata Bamsoet.

Selain itu, Bamsoet menegaskan negara tidak boleh kalah oleh Kelompok Kriminal Bersenjata (KKB) di Papua.

BACA JUGA: Putra Papua Diangkat Jadi Direktur Freeport Indonesia

Karena itu, meskipun pihak keamanan menyarankan untuk menunda karena ada kontak senjata dan tidak kondusif di daerah yang akan dilalui di Distrik Tembagapura, tetapi dirinya beserta rombongan pimpinan MPR RI, DPR RI, dan DPD RI tetap berangkat meninjau aktivitas usaha PT Freeport Indonesia.

Menempuh perjalanan darat 2,5 jam dari Timika menuju Tembagapura dengan menggunakan kendaraan lapis baja dan dilanjutkan menggunakan trem atau kereta gantung menuju puncak Gressberg di ketinggian 4.200 meter di atas permukaan laut.

BACA JUGA: Freeport Akan Tarik Orang Papua Lulusan Luar Negeri

Bamsoet dan rombongan meninjau langsung aktivitas penambangan pasca-keberhasilan pemerintahan Presiden Joko Widodo menguasai 51 persen saham PT Freeport Indonesia melalui Induk Industri Pertambangan yang dipimpin PT Inalum.

"Ini membuktikan kedaulatan bangsa atas kekayaan alam yang terkandung di dalam bumi Indonesia. Sebagaimana amanah Pasal 33 ayat 3 UUD NRI 1945 bahwa bumi, air dan kekayaan alam yang terkandung di dalamnya dikuasai oleh negara dan dipergunakan untuk sebesar-besar kemakmuran rakyat. Setelah menguasai 51 persen saham Freeport, pemerintah pusat dan daerah harus memastikan cadangan 1,8 miliar ton mineral tambang emas dan tembaga senilai lebih dari Rp 2.500 triliun di Grasberg, membawa keuntungan bagi kemakmuran Papua khususnya dan Indonesia umumnya," ujar Bamsoet.

Dalam kunjungan ini, Bamsoet meninjau underground 1.760 meter di bawah permukaan tanah tambang Grasberg Freeport.

Turut hadir Wakil Ketua MPR RI Lestari Moerdijat, Wakil Ketua MPR RI Arsul Sani, Wakil Ketua MPR RI Fadel Muhammad, Wakil Ketua DPD RI Sultan Najamudin, Ketua Forum Komunikasi dan Aspirasi MPR RI untuk Papua/MPR FOR PAPUA Yorrys Raweyai, serta para anggota DPR RI dan DPD RI Dapil Papua dan Papua Barat. Hadir pula Kapolda Papua Irjen Paulus Waterpauw.

Rombongan didampingi jajaran PT Freeport Indonesia, antara lain Presiden Direktur Tony Wenas, Kepala Teknik Tambang Zulkifli Lambali, dan Direktur HR Ahmad Ardianto.

Ketua DPR RI 2014-2019 ini memaparkan, dengan cadangan 1,8 miliar ton mineral, Freeport masih bisa berproduksi hingga 2051.

Jeda waktu 31 tahun sejak 2020 ini tak boleh disia-siakan Freeport untuk membangun Indonesia melalui aktifitas usaha pertambangan.

Setelah menunjuk Claus Wamafma, putra asli Papua pertama yang dipercaya menduduki kursi direktur, Freeport harus mampu menyerap lebih banyak tenaga kerja lokal Papua hingga mencapai 50 persen.

Data PT Freeport Indonesia, dari 7.096 pekerja sebanyak 2.890 atau sekitar 40,7 persen merupakan warga asli Papua.

"Saat ini Freeport sedang mengalihkan pertambangannya dari tambang terbuka ke bawah tanah, dan digadang menjadi tambang bawah tanah terbesar di dunia, dengan peningkatan kapasitas produksi bertahap," kata Bamsoet.

Bamsoet melanjutkan peningkatan itu dimulai pada 2020 sebesar 96 ribu ton per hari, 2021 sebesar 160 ribu ton per hari, 2022 sebesar 216 ribu ton per hari, dan 2023 sebesar 217 ribu ton per hari.

"Jangan sampai peralihan ini menyebabkan terganggunya penyerapan tenaga kerja. Malah justru harus menjadi peluang untuk menyerap lebih banyak tenaga kerja lokal asal Papua," papar Bamsoet.

Wakil Ketua Umum KADIN Indonesia ini juga mengagumi Masjid Al Baabul Munawar dan Gereja Oikhumene Soteria yang berada berdampingan di perut bumi kedalaman 1.760 meter di bawah permukaan tanah.

Selain itu, Bamsoet juga mengingatkan Freeport bisa mempercepat pembangunan smelter di Gresik yang saat ini progresnya masih dibawah 5 persen.

Sesuai amanah UU No.4 Tahun 2009 tentang Pertambangan Mineral dan Batu Bara (Minerba), perusahaan tambang wajib membangun smelter atau pemurnian tambang untuk meningkatkan nilai tambah produk hasil tambang. (tan/jpnn)

 


Redaktur & Reporter : Fathan Sinaga

Silakan baca konten menarik lainnya dari JPNN.com di Google News

Terpopuler