Tekan Kecelakaan Kerja di Sektor Perkebunan, BPJS Ketenagakerjaan Gelar Workshop K3

Jumat, 11 Agustus 2023 – 20:29 WIB
BPJS Ketenagakerjaan bersama ILO dan GAPKI menyelenggarakan workshop K3 bertajuk 'Promosi K3 dan Pencegahan Kecelakaan Kerja-Penyakit Akibat Kerja Pada Perkebunan Kelapa Sawit di Indonesia' di Jakarta, Senin (8/8). Foto: Dokumentasi Humas BPJS Ketenagakerjaan

jpnn.com, JAKARTA - Direktur Pelayanan BPJS Ketenagakerjaan Roswita Nilakurnia secara resmi membuka workshop K3 bertajuk 'Promosi K3 dan Pencegahan Kecelakaan Kerja-Penyakit Akibat Kerja Pada Perkebunan Kelapa Sawit di Indonesia', Senin (8/8).

Kegiatan ini diselenggarakan atas kolaborasi BPJS Ketenagakerjaan bersama Organisasi Perburuhan Internasional (ILO) dan Gabungan Pengusaha Kelapa Sawit Indonesia (GAPKI).

BACA JUGA: BPJS Ketenagakerjaan & Perumda Pasar Togaha Berkolaborasi, Permudah Pedagang Terlindungi

Sebagai informasi, kelapa sawit menjadi salah satu komoditas utama penggerak perekonomian nasional.

Pasalnya, Indonesia saat ini memiliki lahan perkebunan sawit seluas 16,8 juta hektare yang mampu menyerap 6 juta tenaga kerja.

BACA JUGA: Mitra Shopee Kini Bisa Menjadi Peserta BPJS Ketenagakerjaan, Simak Cara Daftarnya!

Kondisi ini otomatis menempatkan Indonesia sebagai produsen sawit terbesar di dunia.

Namun di balik itu, tantangan yang dihadapi tentu semakin besar.

Berdasarkan data BPJS Ketenagakerjaan, jumlah kasus kecelakaan kerja dan penyakit akibat kerja (PAK) yang dialami oleh pekerja perkebunan menduduki peringkat teratas dan terus bertambah setiap tahunnya.

Terhitung sejak 2019 hingga pertengahan tahun ini, jumlahnya mencapai 52.762 kasus.

Belum optimalnya sistem manajemen K3 dan perilaku kerja yang tidak aman menjadi penyebab tingginya angka tersebut.

BPJS Ketenagakerjaan sebagai badan hukum publik yang ditugaskan untuk memberikan perlindungan jaminan sosial kepada pekerja berinisiatif menggandeng berbagai pihak untuk melakukan kegiatan promotif dan preventif.

Roswita Nilakurnia dalam sambutannya menyoroti perlunya langkah-langkah mitigasi untuk menekan angka kecelakaan kerja, khususnya di sektor sawit.

“Jadi kita sangat sadar, ini mungkin bagian dari diskusi pada workshop ini untuk mendapatkan masukan dalam bentuk dukungan dan partisipasi dari semua unsur terkait untuk mendorong peningkatan pemahaman K3 pada sektor perkebunan," kata Direktur Pelayanan BPJS Ketenagakerjaan itu.

Melalui workshop ini, kata Roswita, untuk mendapatkan masukan dalam bentuk dukungan dan partisipasi dalam penyusunan dan pelaksanaan program K3 pada sektor perkebunan.

Sebab terhitung sejak 2019 hingga Mei 2023, ada sebanyak 52.762 kasus kecelakaan kerja pada pekerja sektor kelapa sawit dengan sebanyak 24,83 persen mengalami dampak kecelakaan kerja pada kaki, dan sebanyak 23,25 persen pekerja mengalami dampak kecelakaan kerja pada bagian mata.

Sementara itu, Direktur Jenderal Binwasnaker dan K3 Kementerian Ketenagakerjaan Haiyani Rumondang menyampakan apresiasinya atas upaya bersama dalam mempromosikan K3.

“Kami sebagai pemerintah dalam hal ini Kementerian Ketenagakerjaan dan unit yang menangani keselamatan kesehatan kerja sangat berterima kasih dengan acara yang sudah dilakukan bersama oleh BPJS Ketenagakerjaan dan juga kantor ILO Jakarta,” ucap Dirjen Haiyani.

Dirjen Haiyani berharap kegiatan ini dapat diselenggarakan secara berkelanjutan dan memiliki output yang terukur.

Pasalnya, dia menganggap kesadaran terhadap K3 menjadi poin penting dalam mendukung terwujudnya kesejahteraan pekerja.

“Selama ini kita berinteraksi penuh untuk penegakan hak upah, jaminan sosial dan lain-lain, termasuk kesejahteraan, peningkatan fasilitas di tempat kerja. Ternyata semua itu juga tidak bisa optimal kalau kita tidak mempromosikan K3," ujar Dirjen Haiyani.

"Jadi akan sia-sia juga tuntutan kita yang sebanyak-banyaknya untuk hak lain, jika tidak dibarengi dengan pemenuhan K3 ini,” imbuhnya.

Perwakilan ILO Jakarta Abdul Hakim menyebut K3 bisa menjadi pintu masuk agar angka kecelakaan kerja dan PAK bisa diturunkan.

“Lingkungan kerja di perkebunan kelapa sawit memiliki bahaya dan risiko terhadap keselamatan dan kesehatan kerja, dalam hal ini tantangan yang harus kita pecahkan bersama-sama dengan kolaborasi dan kerjasama, bukan dengan hal yang lain," kata Abdul Hakim.

Menurutnya, workshop ini merupakan contoh kerja sama yang tidak hanya menggunakan pendekatan yang konvensional, yaitu tripartit, tetapi juga dalam bentuk baru, yaitu mengikutsertakan jaminan sosial dan lembaga jaminan sosial, seperti BPJS Ketenagakerjaan.

Pada kesempatan yang sama, Wakil Ketua II GAPKI Satrija B Wibawa berharap kolaborasi ini mampu mendorong optimalisasi promosi K3 yang secara tidak langsung juga akan meningkatkan produktivitas para pekerja sawit.

Sebagai informasi, workshop ini juga diikuti ratusan peserta secara hybrid. (mrk/jpnn)


Redaktur : Sutresno Wahyudi
Reporter : Sutresno Wahyudi, Sutresno Wahyudi

Silakan baca konten menarik lainnya dari JPNN.com di Google News

Terpopuler