Teknologi Korea Ini Berpotensi Jadi Kunci Pengelolaan Laut Indonesia

Senin, 12 Desember 2022 – 04:36 WIB
Pengamat Sebut pembukaan investasi pengangkatan harta karun di perairan Indonesia merugikan. Foto : Natalia Laurens/JPNN

jpnn.com, JAKARTA - Korea-Indonesia Marine Technology Cooperation Research Center (MTCRC) mengadakan kuliah umum berjudul ‘General Lecture on Remote Sensing, Ocean Satellite, and Case Application’ di Jakarta pada 6-9 Desember.

Kuliah umum itu dilakukan dalam rangka mengimplementasikan proyek Official Development Assistance (ODA) “Pembentukan Sistem Aplikasi Pengelolaan Perairan Indonesia Menggunakan Satelit Geostasioner Korea”.

BACA JUGA: Potensi Laut Sangat Besar, Bea Cukai Beri Asistensi Ekspor ke Perusahaan di Wilayah Ini

ODA merupakan kerja sama antara Kementerian Samudera dan Perikanan Republik Korea, Kementerian Koordinator Bidang Kemaritiman dan Investasi Republik Indonesia, Korean Hydrographic and Oceanographic Agency (KHOA), Korea Institute of Ocean Science and Technology (KIOST) bersama MTCRC.

"Indonesia memiliki garis pantai terpanjang kedua di dunia, dan teknologi penginderaan jauh merupakan salah satu teknologi kunci untuk mengelola lautan Indonesia yang luas secara efektif," kata Direktur Korea MTCRC Park Hansan dalam keterangan tertulis dari Korea-Indonesia MTCRCi pada Sabtu.

BACA JUGA: Perkuat Pengawasan Perairan Indonesia, Bea Cukai Meluncurkan 2 Kapal Patroli Laut Baru

Dia berharap melalui kegiatan kuliah umum tersebut para peserta dapat meningkatkan pengetahuan di bidang penginderaan jauh, satelit laut dan aplikasi kasus termasuk pada bidang kemaritiman, yang dapat digunakan untuk meningkatkan riset kelautan Indonesia dan pengembangan kebijakan maritim.

Ketua departemen pelatihan dan survei MTCRC Jeon mengatakan kuliah umum teori satelit laut tahun ini diharapkan dapat menjadi peluang yang dapat memberikan pelatihan satelit laut yang lebih profesional.

BACA JUGA: China Garap Megaproyek Baru, Kereta Cepat Bakal Melintas di Bawah Laut

"Kami berencana memperluas partisipasi peserta pelatihan, menambah konten pelatihan serta mengundang pakar. Melalui pelatihan ini, kami berharap dapat menjadi landasan untuk menyelesaikan masalah maritim yang terjadi di perairan Indonesia dan membina para ahli-ahli kelautan," katanya.

Acara tersebut diadakan secara hybrid dan diikuti 107 peserta dari berbagai institusi seperti Badan Riset dan Inovasi Indonesia (BRIN), Badan Meteorologi Klimatologi dan Geofisika (BMKG), Kementerian Lingkungan Hidup dan Kehutanan (KLHK), Kementerian Kelautan dan Perikanan, Sekolah Tinggi Teknologi Angkatan Laut (STTAL), Universitas Diponegoro, Universitas Maritim Raja Ali Haji, Universitas Udayana dan Institut Pertanian Bogor.

Pada kesempatan itu, hadir pula enam pembicara ahli antara lain dari BRIN, Universitas Indonesia, Institut teknologi Sepuluh Nopember, Universitas Hasanuddin.

Materi yang diberikan berfokus pada pelatihan penggunaan dan pemanfaatan data satelit di bidang kelautan, mulai dari teori hingga metode aplikasi aktual, dengan berbagai sub topik mengenai penggunaan data satelit dan penginderaan jauh untuk pemantauan ekosistem, akuakultur, perikanan dan oseanografi. (ant/dil/jpnn)


Redaktur & Reporter : M. Adil Syarif

Silakan baca konten menarik lainnya dari JPNN.com di Google News

Terpopuler