Tentara Amerika Pergi, Krisis Kemanusiaan Mengancam Afghanistan

Selasa, 13 Juli 2021 – 22:21 WIB
Tentara Nasional Afghanistan (ANA) memeriksa sejumlah penumpang di pos pemeriksaan distrik Khogyani, Provinsi Nangarhar, Afghanistan, Minggu (23/2/2020). Foto: ANTARA FOTO/REUTERS/Parwiz/wsj/djo

jpnn.com, JENEWA - Lebih banyak warga Afghanistan kemungkinan akan meninggalkan rumah mereka akibat meningkatnya kekerasan, kata badan pengungsi Perserikatan Bangsa-Bangsa (PBB), ketika Taliban menguasai lebih banyak wilayah usai penarikan pasukan asing pimpinan AS dari negara itu.

"Afghanistan berada di ambang krisis kemanusiaan lainnya. Ini dapat dihindari. Ini harus dihindari," kata juru bicara Komisaris Tinggi PBB untuk Pengungsi (UNHCR) Babar Baloch pada konferensi pers di Jenewa, Selasa.

BACA JUGA: Amerika Akhirnya Tarik Semua Pasukan dari Bagram, Afghanistan Kini Sendirian

"Kegagalan untuk mencapai kesepakatan damai di Afghanistan dan menghentikan kekerasan saat ini akan memicu perpindahan (orang) di negara itu, serta ke negara-negara tetangga dan lainnya," tambah Baloch.

UNHCR mengatakan sekitar 270.000 warga Afghanistan baru saja mengungsi di dalam negeri sejak Januari, sehingga jumlah penduduk yang terpaksa meninggalkan rumah mereka menjadi lebih dari 3,5 juta orang.

BACA JUGA: Situasi Afghanistan Lebih Mengkhawatirkan ketimbang COVID-19, China Lanjutkan Evakuasi Warganya

Mereka yang terpaksa melarikan diri menyalahkan situasi keamanan, insiden pemerasan oleh kelompok bersenjata non-negara, dan bom rakitan di jalan-jalan utama, selain hilangnya pendapatan dan gangguan layanan sosial, kata Baloch.

Jumlah korban sipil telah meningkat sebesar 29 persen selama kuartal pertama dibandingkan dengan tahun 2020, kata UNHCR, mengutip angka dari Misi Bantuan PBB di Afghanistan.

BACA JUGA: Timnas Indonesia Kalah dari Afghanistan, Egy Maulana Mencengangkan

"Kami mendesak masyarakat internasional untuk meningkatkan dukungan kepada pemerintah dan rakyat Afghanistan dan tetangganya pada saat yang kritis ini," kata Baloch.

Jenderal AS yang memimpin perang di Afghanistan, Austin Miller, melepaskan komandonya dalam sebuah upacara di ibu kota Kabul pada Senin (12/7), dan diam-diam meninggalkan negara itu, sebagai simbol berakhirnya konflik terpanjang Amerika.

Presiden AS Joe Biden telah mengakui bahwa masa depan Afghanistan jauh dari kepastian, tetapi dia mengatakan rakyat Afghanistan harus menentukan nasib mereka sendiri. (ant/dil/jpnn)


Redaktur & Reporter : Adil

Silakan baca konten menarik lainnya dari JPNN.com di Google News

Terpopuler