The Front Runner

Oleh: Dhimam Abror Djuraid

Rabu, 13 April 2022 – 21:50 WIB
Anies Baswedan. Ilustrasi. Foto: Ricardo/JPNN.com

jpnn.com - Pemilu Amerika Serikat 1988 menyisakan kisah dramatis mengenai seorang politikus cemerlang yang jalannya sudah sangat lempang menuju kursi kepresidenan di Gedung Putih, tetapi kemudian terpeleset pada detiik-detik krusial.

Politikus itu, Gary Hart, yang mengundurkan diri dari pencalonan presiden karena skandal perselingkuhannya dibongkar ke publik pada 1987.

BACA JUGA: Anis Matta Sebut Demo Mahasiswa 11 April Sebagai Alarm

Pemilih di Amerika masih ingat bagaimana foto seorang model bernama Donna Rice yang tersenyum di pangkuan Gary Hart, politikus Demokrat yang menjadi unggulan presiden, beredar luas di media.

Hart dan Rice ketahuan sedang berlibur di sebuah resort dan menikmati pantai di atas kapal persiar ‘’Monkey Business’’.

BACA JUGA: Kasus Ade Armando Harus Diusut, Tetapi Jangan Lupakan Tuntutan Mahasiswa di Demo 11 April

Foto itu menjadi momen kehancuran karier yang cemerlang dalam sejarah politik Amerika.

Foto itu menyebabkan Hart mundur dari persaingan tiket kepresidenan Partai Demokrat dan menghancurkan karier politiknya yang cemerlang.
Hart mengundurkan diri begitu saja.

BACA JUGA: Demo 11 April 2022, Polisi Tahan 12 Provokator

Partai Demokrat kehilangan jago, dan akhirnya menyerah kepada calon dari Partai Republik, George Herbert Bush, yang menjadi wakil presiden Ronald Reagan.

Masa kepemimpinan Reagan yang kalang kabut membuat publik Amerika muak terhadap Partai Republik.

Gary Hart dari Partai Demokrat menjadi alternatif yang sangat menjanjikan. Pintar dan tampan dengan kemampuan komunikasi politik yang memukau.

Bandingkan dengan tampang George Bush yang terkesan katrok—karena berasal dari Texas—meskipun terkenal kaya raya sebagai juragan minyak.
Kejatuhan Hart tidak pernah dikonfirmasi dengan tuntas.

Hart tidak pernah memberi penjelasan resmi mengenai pengunduran dirinya.

Hart juga tidak menjelaskan hubungan pribadinya dengan Rice, dan bagaimana dia bisa melakukan tindakan bodoh itu.

Hal itu menjadi salah satu misteri politik terbesar dalam sejarah Amerika.

Sutradara Jason Reitman kemudian membuat film ‘’The Front Runner’’ dengan bintang Hugh Jackman sebagai Gary Hart.

Jackman memerankan dengan baik perjalanan politik Gary Hart sejak menjadi senator mewakili Colorado, lalu kariernya menanjak bak meteor, tetapi kemudian jatuh bak meteor juga hingga hancur berkeping-keping.

Fakta ini mengilhami lahirnya buku "The Front Runner" oleh wartawan Matt Bai.

Drama kehidupan Hart menandai momen penting dalam politik dan budaya Amerika, yang bisa melejit karena media dan hancur karena media juga.

Hart jauh unggul dalam jajak pendapat untuk menjadi calon presiden Partai Demokrat pada pemilu 1988, menghadapi calon dari Partai Republik George Bush yang putus asa.

Namun, rumor perselingkuhan di luar perkawinan muncul.

Rumor tersebut mendorong wartawan harian Miami Herald,Tom Fiedler, untuk melakukan investigasi terhadap kehidupan pribadi Hart dan hubungannya dengan Rice.

Berbulan-bulan Fiedler mengintai rumah Rice di Washington dan mengumpulkan bukti sekeping demi sekeping sampai ditemukannya foto itu.

Fiedler dan timnya mengkonfrontasi Hart. Dia menolak menjawab pertanyaan mengenai kehidupan pribadinya.

Segera setelah itu, di tengah pertanyaan yang tak henti-hentinya mengenai kehidupan pribadinya ia mengundurkan diri dari persaingan.

Keputusan itu diambil Hart setelah Fiedler menyodorkan foto Hart bersama Rice di kapal prsiar.

Hart tidak bersedia memberi konfirmasi atau memberi wawancara. Ia memilih mundur dari pencalonan dan meninggalkan misteri politik sampai sekarang.

Tradisi politik liberal Amerika menghalalkan semua cara untuk menjatuhkan karir politik seorang politisi selama hal itu didukung oleh fakta.

Hal itu disebut sebagai negative campaign. Selama kampanye negative didukung oleh fakta hal itu diperbolehkan.

Namun, kampanye hitam, black campaign yang hanya didukung oleh desas-desus dan spekulasi murahan menjadi hal tercela dan haram dalam tradisi politik demokrasi dan pers di Amerika.

Di Indonesia, kampanye negatif dan kampanye hitam menjadi dua hal yang silang sengkarut tidak keruan.
Publik tidak bisa lagi membedakan mana kampanye negatif dan mana kampanye hitam.

Kemampuan literasi media yang sangat rendah membuat publik melahap apa saja yang disajikan oleh media.

Menjelang pilpres yang tinggal dua tahun lagi eskalasi kampanye negatif dan kampanye hitam itu makin meningkat.

Pengeroyokan terhadap Ade Armando menjadi isu politik yang menjadi perbincangan luas sampai menenggelamkan isu utama demonstrasi mahasiswa (11/4).

Petinggi Partai Solidaritas Indonesia Grace Natalie menyebut para pengeroyok ada hubungan dengan kelompok relawan Anies Baswedan. Simpulan itu diambil setelah melihat tangkapan layar pembicaraan di WA group kelompok orang yang menamakan dirinya ‘’Relawan Anies 4’’.

Di situ ada perbincangan yang menginformasikan keberadaan Ade Armando pada demonstrasi mahasiswa itu.

Dari tangkapan layar itu Grace Natalie mengaitkan pengeroyokan itu dengan kelompok relawan Anies.

Pengeroyokan Ade Armando menjadi salah satu bukti kesekian kalinya bahwa politik Indonesia semakin sering bersinggungan dengan kekerasan.

Pengeroyokan Ade Armando adalah resonansi empirik dari kerasnya polarisasi publik terhadap isu-isu politik.

Dua tahun menjelang perhelatan pilpres polarisasi politik publik makin keras dengan munculnya isu-isu politik yang desisive seperti penundaan pemilu dan perpanjangan masa jabatan kepresidenan.

Jokowi sudah melarang jajaran kabinetnya untuk berbicara mengenai penundaan pemilu dan wacana perpanjangan masa kepresidenan 3 periode.

Jokowi sudah melantik anggota KPU dan Bawaslu dan sudah menegaskan bahwa tahapan pemilu sudah bergulir dan hari H sudah diputuskan dan disepakati Rabu 14 Februari 2024.

Namun, sebagian mahasiswa tidak begitu yakin dengan pernyataan Jokowi.

Pernyataan itu tidak menghentikan demonstrasi mahasiswa, hanya menggeser lokusnya saja dari Istana ke Gedung DPR RI Senayan.

Pernyataan Jokowi tidak cukup meyakinkan sejumlah mahasiswa UI (Universitas Indonesia) yang mencegat Luhut Panjaitan dalam kunjungan ke UI dan mencecarnya dengan pertanyaan seputar wacana penundaan pemilu dan big data yang diklaim Luhut sebagai sumber wacana perpanjangan periode kepresidenan.

Polarisasi akibat Pilgub DKI 2017 yang membelah publik menjadi dua kelompok kampret vs cebong merantak sampai ke Pilpres 2019.

Pertarungan kaceb bertransformasi menjadi pertempuran antara kadrun vs cebong. Polarisasinya tetap berpusat pada kelompok islamis berhadapan dengan kalangan nasionalis liberal sekular.

Pilgub DKI menjadi ajang pertarungan politik digital antara dua pihak yang bersaing.

Kampanye komputasional yang dilakukan kedua pihak sangat terbuka, masif, dan cenderung brutal. Masing-masing kubu mengeklaim mempunyai legitimasi etik untuk menyerang lawannya tanpa mengindahkan etika-etika demokrasi.

Dalam tradisi demokrasi liberal serangan dengan mempergunakan teknik negative campaign adalah sesuatu yang sah dan absah.

Seorang kandidat bisa saja dihajar oleh isu negatif mengenai apa saja, termasuk masalah pribadi, sepanjang semuanya didasari oleh fakta.

Namun, melempar isu yang spekulatif tanpa bukti-bukti yang bisa dipertanggungjawabkan bisa masuk dalam kategori black campaign yang murahan dan nista.

Publik tahu bahwa PSI melakukan crusade, perang jihad, melawan Anies Baswedan. Segala cara dipakai untuk mencegah Anies menjadi presiden. Hal itu sudah ditegaskan secara terbuka oleh Ketua PSI Giring Ganesha.

Menjelang masa-masa terakhir kepemimpinannya sebagai gubernur DKI, Anies menjadi ‘’The Front Runner’’ yang potensial.

Masih ada beberapa front runner lainnya seperti Ganjar Pranowo dan Prabowo Subianto. Namun, Anies mempunyai potensi untuk menjadi the front runner di posisi terdepan.

Grace Natalie, mantan wartawan yang melanjutkan karier menjadi politikus, tentu tahu tradisi jurnalistik investigasi yang mengubah secara dramatis peta politik di berbagai negara.

Fenomena di Amerika membuktikan ketajaman jurnalisme investigasi bisa menggulingkan Hart, dan Nixon, dan hampir menjatuhkan Clinton.

Namun, yang dilakukan Grace baru sebatas melempar isu yang ‘’spurious’’, meragukan, mengenai hubungan Anies dengan insiden Armando.

Kalau saja Grace bisa memberikan bukti-bukti invesitgatif sekelas jurnalisme Amerika, tidak mustahil laporannya akan bisa mengubah konstelasi politik Indonesia 2024.

Namun, kalau isu yang dilempar hanya sekadar spekulasi yang lemah, The Front Runner bisa-bisa malah makin melaju tak terbendung. (*)

 

Jangan Lewatkan Video Terbaru:


Redaktur : M. Kusdharmadi
Reporter : Cak Abror

Silakan baca konten menarik lainnya dari JPNN.com di Google News

Terpopuler