Tidak Berdesak-desakan, Cium Hajar Aswad pun Mudah

Sabtu, 13 Juli 2013 – 00:42 WIB
LEBIH LONGGAR: Imawan Mashuri (melambai) di halaman dalam Masjidilharam saat umrah di awal Ramadan. Foto: Dok Pribadi
MESKI Masjidilharam sedang direnovasi, umrah pada awal Ramadan kali ini tetap lancar. Selain jamaah belum begitu banyak, kondisi itu merupakan imbas kebijakan pengetatan kuota jamaah yang diberlakukan mulai tahun ini. Berikut laporan IMAWAN MASHURI, Dirut Holding Jawa Pos Multimedia Corp (JPMC), dari Tanah Suci.
 
DI BAWAH terik matahari yang menyengat Makkah, umrah pada awal Ramadan tahun ini terasa longgar. Jamaah tidak berdesak-desakan seperti umrah pada waktu yang sama pada tahun-tahun sebelumnya. Padahal, saat ini sedang dilakukan renovasi besar-besaran di kompleks Masjidilharam. Di antaranya, penambahan bangunan knockdown dua lantai untuk fasilitas tawaf (mengitari Kakbah) musim haji tiga bulan mendatang.
 
Sejak pemerintah Arab Saudi memutuskan untuk menggarap proyek perluasan dan penambahan tempat tawaf dua lantai di lingkaran dalam halaman Kakbah itu, kuota haji tahun ini dikurangi cukup besar. Rata-rata 20 persen untuk masing-masing negara. Indonesia termasuk yang paling merasakan dampak pengurangan kuota tersebut. Sebab, jumlah jamaah yang dipangkas mencapai 42 ribu orang dari 210 ribu kuota semula.
 
Pengetatan kuota haji itu juga berdampak pada pengurusan visa umrah tahun ini yang mulai diperketat. Tidak semua pemohon visa umrah langsung dikabulkan seperti pada waktu-waktu sebelumnya. Karena itu, jamaah yang bertawaf pada hari pertama Ramadan Rabu (10/7) tidak sampai berdesak-desakan atau meluber hingga ke dalam masjid.
 
"Banyak jamaah saya yang berhasil mencium Hajar Aswad," ujar Saiful Bahri, mutawif Shafira Surabaya.
 
Baru pada hari kedua Ramadan, jumlah jamaah bertambah secara signifikan. Gelombang jamaah terus berdatangan. Terutama dari jazirah Arab sendiri. Sebab, pada awal Ramadan, instansi-instansi pemerintah maupun swasta di Arab diliburkan. Karena itu, warga memanfaatkan untuk beribadah umrah di Tanah Suci. Diperkirakan, jumlah itu akan terus bertambah hingga meluberi halaman Kakbah pada hari-hari mendatang.
 
Halaman Kakbah saat ini terasa lebih sempit karena sedang ada pembangunan knockdown dua lantai, mengitari Kakbah. Bangunan tersebut digunakan untuk fasilitas tawaf jamaah. Lantai duanya sudah terpasang semua. Pemasangan pagar besi berwarna terang juga hampir rampung di lantai tersebut.
 
Sementara itu, pembangunan di lantai satu belum kelar karena masih digunakan untuk lalu lintas jamaah umrah yang diperkirakan tinggal 1,5 juta orang pada akhir Ramadan nanti. Biasanya sekitar 2,5 juta jamaah berumrah pada 10 hari terakhir Ramadan.
 
Bangunan melingkar menyerupai velodrom atau seperti donat raksasa kalau dilihat dari atas itu digunakan untuk tawaf musim haji nanti. Pembuatannya membutuhkan sekitar 50 unit crane tower untuk mengangkat dan memindahkan bahan bangunan serta peralatan konstruksi. Seluruh konstruksi berbahan baja.
Lebarnya sekitar 11 meter. Jika dipakai salat jamaah, bisa diisi sembilan saf. Tidak berdinding, tapi dipasangi pagar setinggi satu meter agar tidak menutup seluruh pandangan dari dalam masjid ke arah Kakbah. Tiangnya dibuat dari besi baja berdiameter 60 cm. Berdiri seperti susunan gawang.
 
Sebelum ada bangunan itu, dalam sejam, tempat tawaf tersebut bisa menampung 50 ribu jamaah. Penambahan "cincin" di tempat tawaf itu diharapkan bisa menampung 130 ribu jamaah per jam. Lantai pertama tempat tawaf tersebut nanti khusus digunakan untuk jamaah uzur/lansia dan penyandang cacat fisik yang memerlukan kursi roda. Kondisi itu mirip jalur khusus di tempat sai (berjalan/berlari kecil tujuh kali dari Bukit Shafa ke Marwa) yang menyediakan tempat bagi jamaah berkursi roda.
 
Proyek perluasan dengan dana SR 80 miliar itu dirancang untuk meningkatkan kapasitas Masjidilharam agar bisa menampung lebih dari dua juta jamaah. Proyek ekspansi baru tersebut termasuk pembangunan gedung masjid besar, perluasan dan pengembangan halaman sekitar masjid, trotoar, terowongan, toilet, serta pengembangan fasilitas layanan untuk AC, listrik, dan air minum.
 
Sebuah terowongan 1.200 meter akan dibangun melewati Hindi Jabl. Terowongan lain sepanjang 1.100 meter dibangun di bawah Jabl Madafie. Untuk kondisi darurat, akan dibangun terowongan 700 meter melintasi dua terowongan lainnya dari Jabl al Ka"bah.
 
Sebagian proyek perluasan tempat sai telah selesai dan bisa meningkatkan kapasitas dari 44.000 jamaah menjadi 118.000 jamaah per jam. Saiful, yang hampir 20 tahun tinggal di Makkah, percaya bangunan baru itu ditujukan untuk perbaikan pelaksanaan haji dan umrah. Memang, diakui, pilar-pilar di halaman Kakbah tersebut bisa menghalangi pandangan jamaah melihat Kakbah. "Tapi, bangunan tersebut knockdown, sehingga bisa dicopot bila tidak diperlukan," jelasnya.
 
Imam Besar Masjidilharam Sheikh Abdul Aziz Ash-Sheikh mendukung penuh kebijakan pemerintah Arab Saudi tersebut. Dia menilai hal itu dilakukan demi kepentingan jamaah. Berdasar catatan resmi pemerintah Saudi, pada musim haji tahun lalu, tercatat ada 3,161 juta jamaah. Namun, jumlah itu sangat mungkin menembus angka empat juta orang jika ditambah jamaah tidak resmi.
 
Memasuki hari kedua Ramadan (11/7), selepas tarawih, Makkah diguyur hujan. Walau tidak deras dan tidak lama, air dari langit itu cukup membasahi ratusan ribu jamaah yang baru keluar dari Masjidilharam.
 
Hujan itu termasuk langka karena belum tentu terjadi dalam lima Ramadan terkahir. Karena itu, warga Makkah dan jamaah umrah menyambut dengan rasa syukur dan sukacita.
 
Suhu udara langsung turun. Dari 42 derajat menjadi 38 derajat Celsius. Sementara itu, pasukan kebersihan Masjidilharam langsung bergerak cepat membersihkan seluruh kompleks masjid. Dalam sekejap, masjid pun bersih dari genangan air maupun sampah-sampah yang terbawa arus.
 
Ramadan di dua kota suci umat Islam, Makkah dan Madinah, memang selalu marak, terutama menjelang buka puasa. Begitu banyak orang yang ingin membagikan takjil. Di antara saf-saf salat, digelar plastik panjang. Juga di tempat-tempat keramaian umum. Termasuk di pinggir-pinggir jalan, teras-teras toko, serta mal di sekitar Masjidilharam. Pemandangan serupa terlihat di sekitar Masjid Nabawi, Madinah.
 
Di atas plastik yang terbentang itu, disajikan makanan. Semua boleh menyantapnya. Biasanya berupa kurma rutop, kurma muda yang mulai matang. Enaknya luar biasa. Lalu, air zam-zam atau teh Arab. Ada juga roti, buah, dan nasi kebuli. Semua bergantung yang bersedekah.
 
Siapa yang bersedekah? Warga lokal maupun jamaah umrah. Mereka berebut berkah Ramadan. Bahkan, ada yang jemput bola dengan mengajak jamaah untuk bergabung di beberan plastik mereka. Buka bersama seperti itulah yang sering dirindukan jamaah dari negara mana pun. "Saya tidak pernah melewatkan kegembiraan ini," ujar Tahmit Lombok, salah seorang jamaah asal Indonesia. (*/c5/ari)

BACA ARTIKEL LAINNYA... Sehat Diminum, Tidak Berkarat dan Jadi Pendingin Ruangan

Redaktur : Tim Redaksi

Silakan baca konten menarik lainnya dari JPNN.com di Google News

Terpopuler