Tiga Menteri Sambut Kapal Pesiar Pacific Eden di Tanjung Benoa Bali

Jumat, 14 April 2017 – 11:00 WIB
Pacific Eden. Foto: cruise advice

jpnn.com, BALI - BENOA - Pemerintahan Presiden Joko Widodo tak mau setengah-setengah menjadikan pariwisata sebagai core economy bangsa. Sebagai salah satu bentuk keseriusan, tiga menteri yakni Menko Bidang Kemaritiman Luhut Binsar Panjaitan, Menpar Arief Yahya dan Menhub Budi Karya Sumadi menjemput cruise perdana di Tanjung Benoa, Bali, 13 April 2017.

Mereka didampingi Gubernur Bali Made Mangku Pastika dan Kapolda Bali Irjen Pol Petrus R Golose. Mereka menyambut kedatangan perdana kapal pesiar Pacific Eden yang berada di bawah group Carnival Corporation & PLC dari Australia.

BACA JUGA: Wow! Ada Festival Ikan Nusantara dan Lomba Masak di Muara Angke

Para pejabat Kabinet Kerja itu, Menkomar Luhut, Menpar Arief dan Menhub Budi Karya itu langsung ditemui oleh Mr. Sture Myrmell, President of Carnival Australia of Carnival Corporation dan Mr. Mike Drake, Director P&O Australia Carnival Group. Mereka juga disambut oleh kesenian Bali yang tampil khas dengan musik yang dinamis dan para penari yang jelita dengan pakaian adat warna-warna emas.

Mereka menyebut Indonesia punya kekayaan dan keindahan alam yang sulit tertandingi. Indonesia punya segalanya, dan sangat berproapek dikembangkan sebagai destinasi cruise. Mereka sangat tertarik untuk bersandar ke Bali, Lombok, Jakarta sampai Komodo Labuan Bajo NTT.

BACA JUGA: Top, Bandara Silangit Segera Menjadi International Airport

"Sayangnya, bersandar di pelabuhan-pelabuhan Indonesia itu sangat mahal. Termasuk di Benoa Bali," sebut Mike Drake, Director P&O Australia Carnival Group. Dia paparkan data benchmark biaya sandar yang 10-15 persen lebih mahal daripada Singapore, Malaysia dan Hong Kong.

Tiga menteri itupun bengong dan terbelalak melihat biaya yang mahal itu. "Sementara fasilitas yang disediakan Pelindo III masih sangat minim. Dari soal air bersih, pengolahan sampah, sampai fasilitas di terminal. Strategi harga inilah yang membuat kapal-kapal cruise pindah sandar ke negara tetangga!" kata Luhut.

BACA JUGA: Sumut Gelar Paten Fashion and Food Festival 2017

Karena itu, Luhut langsung meminta Menhub Budi Karya untuk memanggil Pelindo III untuk membicarakan soal fee sandar dan lepas sandar di semua pelabuhan di tanah air. "Tolong perbaiki harganya, bechmark dengan Singapore," jelas Luhut.

Menurut Menkomar, masalah port charges yang tinggi, fuel prices, sampah, air, dan lainnya, sudah bertahun-tahun terjadi. Terminalnya juga harus segera diperbaiki. Inilah critical yang harus segera diselesaikan.

"Tolong segera dideregulasi, dibuat kebijakan yang cepat untuk mengatasi hal tersebut, buat National Cruise Tourism Strategy," katanya.

Luhut berjanji akan segera membereskan semua problematika di Pelindo III itu, agar bisa mendatangkan cruise lebih banyak lagi. Dia mengingatkan semua pihak agar bekerja sama untuk menyelesaikan masalah dan memperbaiki pernak-pernik hambatan. "Kerjasama antar Kementerian, Pemerintah Daerah, dan lembaga terkait lainnya harus terus bersinergi," tuturnya di lantai 7 Kapal Pesiar berwarna biru tua itu.

"Semua peraturan yang tidak masuk akal dan mempersulit harus di deregulasi. Benoa ini akan dibangun terminal cruise bertaraf internasional, untuk persiapan IMF-World Bank Annual Meeting pada Oktober 2018 yang akan dihadiri oleh 13.000 sampai 18.000 peserta dari 189 negara," kata Luhut.

Menko Luhut menjelaskan, ke depan Bali bisa dijadikan destinasi Fly and Cruise. Terbang ke Bali, lalu sailing dengan yacht mereka ke berbagai pulau di tanah air. Setelah selesai, menjelajahi pulau-pulau indah di Lombok sampai Labuan Bajo, Wakatobi, kembali ke Bali dan terbang ke negaranya lagi.

Mimpi Luhut adalah menjadikan Bali sebagai tempat para jet-setter dan orang-orang superkaya dunia.

Menpar Arief Yahya menambahkan cruise di Indonesia menurun jumlahnya, dari 400 calls menjadi 350 calls tahun 2016. "Tetapi jumlah penumpangnya bertambah, dari 200 ribu 2015 naik 260 ribu tahun 2016. Itu menunjukkan cruise yang bergerak ke Indonesia itu ukurannya lebih besar, dari small size ke medium dan big size," jelas Arief Yahya.

Untuk cruise, lanjut Menpar Arief, Indonesia itu hanya mendapatkan 1 juta wisman, nilai devisanya USD 1 Miliar. Angka itu terlalu kecil dibandingkan potensi Indonesia senagai negara Bahari atau Maritim. "Bandingkan dengan Malaysia, yang sudah 8 juta wisman, kita terlalu kecil kalau hanya 1 juta. Maka proyeksi kami akan menjadi 4 juta wisman atau USD 4," katanya.

Group Carnival Corporation & PLC ini, memiliki 10 brand kapal pesiar dan 100 kapal, dan mengangkut lebih dari 10 juta wisatawan. Carnival juga mengagregat kapal-kapal besar, seperti AIDA, Carnival, Cunard, Holland America Line. fathorn, P&O Cruise, Princess Cruises & Seabourn.

Sepanjang 2017 itu, Carnival akan merapat ke Tanjung Benoa, Lombok, Komodo, Jakarta dan Purbalingga. (adv/jpnn)

BACA ARTIKEL LAINNYA... Garuda Buka Rute ke Papua Barat, Akses Semakin Terbuka


Redaktur : Tim Redaksi

Silakan baca konten menarik lainnya dari JPNN.com di Google News

Tag

Terpopuler