Timor Leste Bakal Punya Presiden Baru

Fretilin Klaim Dapat Dukungan Horta

Selasa, 20 Maret 2012 – 11:51 WIB

DILI - Timor Leste dipastikan bakal memiliki presiden baru untuk lima tahun ke depan. Pasalnya, presiden berkuasa, Jose Ramos-Horta, dipastikan terlempar dari dua besar suara terbanyak pada pemilihan presiden (pilpres) Timor Leste putaran pertama.
 
Wartawan Jawa Pos, Mohammad Ilham dari Dili, Timor Leste melaporkan, kandidat yang melaju ke putaran kedua adalah Francisco "Lu-Olo" Guterres dari Partai Fretilin dan Taur Matan Ruak, calon independen yang didukung CNRT (Partai Kongres Nasional untuk Rekonstruksi Timor Leste) pimpinan Xanana Gusmao.
 
Penghitungan suara memang belum sepenuhnya selesai. Hingga pukul 18.03 waktu setempat kemarin atau 16.03 WIB, suara yang masuk baru mencapai 450.905 atau masih kurang 185.146 suara yang belum terhitung. Tetapi, sudah dapat dipastikan, Lu-Olo keluar sebagai pemenang putaran pertama.
 
Tokoh yang dikalahkan Horta di putaran kedua Pilpres 2007 itu unggul dengan jumlah 128.266 suara atau 28,45 persen. Matan Ruak menempel pada peringkat kedua dengan 113.553 suara atau 25,18 persen.
 
"Selamat kepada Francisco Lu-Olo dan Taur Matan Ruak. Salah seorang di antara mereka akan jadi presiden berikutnya. Lebih penting lagi karena pemilihan berlangsung tertib, aman, dan tidak ada gangguan berarti," kata Horta dalam konferensi pers di Palacio Presidente Timor Leste, Dili, kemarin.
 
Gagal melaju ke putaran berikutnya tidak membuat Horta kecewa. Dia tetap bangga karena yang lebih penting menurut dia adalah situasi tetap stabil dan aman. "Saya salut karena pemilihan berlangsung dengan penuh respek di antara para kontestan, partai-partai, dan rakyat," ujar peraih Nobel Perdamaian 1996 itu.
 
Lalu, dikemanakan suara Horta yang terbilang besar, mencapai 80.291 suara atau 17,81 persen" Bersama La Sama (79.653 suara/17,67 persen), mantan menteri luar negeri Timor Leste tersebut menjadi pemilik suara terbanyak di luar dua besar.
 
Di situ menariknya. Siapa di antara Lu-Olo dan Ruak yang bisa menggaet mereka, dialah yang akan keluar sebagai pemenang di putaran kedua kelak. Tak heran, gerilya politik terhadap Horta dan La Sama pun mulai dilakukan kedua kubu yang melaju ke putaran kedua. 
 
Klaim Fretilin yang mengusung Lu-Olo, Horta dan pendukungnya akan mengalihkan suara di putaran kedua nanti kepada Lu-Olo. "Kami dengar di CBS News (media Australia), presiden memberikan dukungan kepada Lu-Olo," kata Arsenio Bano, wakil presiden Fretelin, kepada Jawa Pos.
 
Tetapi, ketika dikonfirmasi pada konferensi pers yang menggunakan tiga bahasa, yakni Tetun, Portugis, dan Inggris, tersebut, Horta menjawab dengan diplomatis. "Sekarang saya masih berstatus presiden. Sebagai presiden, saya tidak boleh berpihak kepada siapa pun. Tugas saya mendorong agar pemilihan berlangsung aman, tertib, hingga terpilih presiden baru," tutur Horta.
 
Di Timor Leste, jabatan presiden memang lebih banyak seremonial. Kendali pemerintahan ada di tangan perdana menteri yang sekarang dijabat Xanana Gusmao.
 
Kalau presiden dipilih langsung oleh rakyat, perdana menteri dipilih oleh parlemen. Para legislator dipilih lewat pemilu legislatif yang rencananya dilangsungkan pada Juni nanti. Biasanya, partai pemenang pemilu berhak memilih dan mendapatkan jabatan perdana menteri.
 
Terus, bagaimana dengan Horta setelah nanti turun dari kursi presiden? Akankah dia akan berusaha menjadi perdana menteri (PM) kembali sebagai barter suara? Pria yang dikenal sebagai diplomat ulung itu menjabat PM pada 26 Juni 2006?19 Mei 2007 sebelum memenangi Pilpres 2007.
 
"Tidak penting saya menjabat atau tidak. Menjadi perdana menteri atau bukan. Lebih penting, saya menyelesaikan tugas tersisa, membawa negara ini hingga terpilih presiden baru," ujar Horta.
 
Horta cukup bangga karena pada pemilihan presiden kali ini partisipasi masyarakat cukup tinggi, mencapai 67 persen dari total warga Timor Leste yang berjumlah sekitar 1,2 juta jiwa. Hanya, itu memang menurun ketimbang dua pemilihan sebelumnya yang partisipasinya mencapai 90 persen.
 
Diduga, penurunan tersebut terjadi karena warga yang memiliki hak suara hanya boleh memberikan suara di daerah asalnya, sesuai dengan kartu penduduk mereka. Padahal, banyak warga dari distrik-distrik terpencil yang merantau ke Dili untuk bersekolah atau bekerja. Mereka kesulitan untuk pulang kampung guna memberikan suara.
 
Sementara itu, Lu-Olo dengan sangat percaya diri menyatakan bakal menang pada putaran kedua nanti. "Saya senang dengan hasil ini dan saya optimistis kami akan menang pada putaran kedua," kata pria yang memenangi putaran pertama Pilpres 2007 namun kemudian kalah di putaran kedua tersebut di markas tim suksesnya di Hudilarang.
 
"Saya optimistis kami bakal mendapatkan dukungan dari rakyat," lanjut pria berusia 58 tahun itu. Apakah termasuk dari Horta" "Kita lihat saja perkembangannya," lanjutnya.
 
Terlepas dari situasi yang aman, masih ada beberapa masalah pada pilpres kali ini. Salah satunya, dihentikannya penghitungan suara di Distrik Baucau karena ada indikasi penggelembungan suara, jumlah kartu suara lebih banyak daripada jumlah pemilih. (ham/c10/ttg)
BACA ARTIKEL LAINNYA... Raja Tonga Meninggal Dunia


Redaktur : Tim Redaksi

Silakan baca konten menarik lainnya dari JPNN.com di Google News

Terpopuler