Tolak Boikot, Timnas Belanda Peduli Isu Pelanggaran HAM di Qatar

Rabu, 24 Maret 2021 – 21:33 WIB
Pelatih kepala tim nasional Belanda Frank de Boer (kanan) memimpin sesi latihan di Zeist, Belanda, Selasa (23/3/2021), jelang bertolak ke Turki untuk laga kualifikasi Piala Dunia 2022 zona Eropa sehari berselang. (ANTARA/AFP/ANP/Koen van Weel)

jpnn.com, BELANDA - Tim nasional Belanda ingin meningkatkan kesadaran atas isu pelanggaran HAM terhadap pekerja migran di Qatar.

Namun, timnas Belanda menolak langkah boikot atas putaran final Piala Dunia 2022 yang akan digelar di jazirah Timur Tengah itu.

BACA JUGA: Gareth Bale Ternyata Tak Ingin Permanen di Spurs

Belanda yang berada di Grup G fase kualifikasi zona Eropa, akan mengawali perjuangan mereka dengan laga tandang ke Turki pada Rabu waktu setempat (Kamis WIB).

Asosiasi sepak bola Belanda (KNVB) sendiri sudah sempat mengeluarkan pernyataan terkait isu eksploitasi pekerja migran di Qatar, tetapi memastikan tidak akan menempuh aksi boikot.

BACA JUGA: Kualifikasi Piala Dunia: Persiapan Timnas Prancis Terganggu hal Tak Biasa

"Perhatian sekarang tertuju kepada apakah kami akan tetap berangkat ke sana jika lolos," kata pelatih kepala Belanda Frank de Boer dalam jumpa pers sebagaimana dilansir Reuters.

"Mengangkat pertanyaan soal itu adalah sebuah langkah yang benar. Semua orang tahu apa yang terjadi di sana tidak baik."

BACA JUGA: Pemain muda Barcelona ini Enggan Dibandingkan dengan Iniesta

"Human Rights Watch dan Amnesty International juga sudah bilang dengan tetap ke sana, kami bisa mengkampanyekan isu ini lebih vokal," ujarnya menambahkan.

Setelah bertahun-tahun ditekan oleh berbagai kelompok pembela HAM, Qatar baru-baru ini mengubah regulasi ketenagakerjaan mereka demi menghapuskan sebagian sistem sponsor 'kafala', menghapuskan kewajiban pekerja meminta izin dari atasan pemberi sponsor kerja jika ingin pindah pekerjaan atau meninggalkan Qatar.

Qatar juga meningkatkan 25 persen upah minimum bulanan menjadi 1.000 riyal (sekira Rp3,9 juta) yang berlaku untuk semua pekerja, bukan hanya warga lokal.

Bulan lalu harian Inggris The Guardian melaporkan setidaknya 6.500 pekerja migran -yang sebagian besar terkait proyek Piala Dunia- meninggal di Qatar, sejak negara itu memenangi pengajuan diri sebagai tuan rumah 10 tahun lalu, seturut kalkulasi mereka sendiri berdasar catatan resmi pemerintah.

Pemerintah Belanda awal bulan ini menangguhkan misi dagang ke Qatar, dengan alasan kekhawatiran atas isu pekerja migran terkait persiapan Piala Dunia.

Kapten Belanda, Georginio Wijnaldum, mengaku ia dan rekan-rekannya telah membahas soal isu tersebut.

"Ini jelas topik besar, tetapi kami semua percaya harus tetap berangkat ke sana jika lolos. Di sana kami bisa memberi dampak lebih besar untuk perubahan yang dituju," ujarnya.(Antara/jpnn)


Redaktur & Reporter : Ken Girsang

Silakan baca konten menarik lainnya dari JPNN.com di Google News

Terpopuler