Tradisi Unik Ini Bakal Jadi Kalender Pariwisata Bali April Mendatang

Minggu, 27 Maret 2016 – 16:10 WIB
Dua gajah mengikiti ritual Tradisi Tumpek Kandang di Bali. Foto: phri.or.id

jpnn.com - BALI – Dinas Pariwisata Bali selalu berkreasi dan berinovasi untuk meningkatkan kunjungan wisatawan datang berlibur ke Pulau Dewata. Itulah Bali. Apa saja akan menjadi atraksi yang tidak ada habis-habisnya demi mendulang fulus. 

Atraksi terbaru itu adalah dengan menjadikan tradisi Tumpek Kandang sebagai salah satu kalender pariwisata pada April mendatang.

BACA JUGA: Pileg dan Pilpres Digelar Serentak, Ini Prediksi Yusril

”Ini budaya Bali yang sangat unik dan wisatawan akan banyak yang datang dan menikmati, walaupun ini hanya sekedar tradisi terhadap binatang peliharaan, namun begitu indah jika diikuti ritualnya,” ujar Kepala Dinas Pariwisata Bali, AA Gede Agung Yuniartha, Sabtu (26/3). 

Pria yang disapa Agung itu mengatakan, jika perhitungan umat Hindu di Bali, perhelatan itu akan digelar tanggal 30 April 2016 di seluruh desa-desa di Pulau Dewata. Hampir setiap hari masyarakat Hindu melaksanakan kegiatan upacara keagamaan yang makna dasarnya yakni untuk memohon keselamatan, rasa syukur, dan perlindungan dari Tuhan Yang Maha Kuasa.

BACA JUGA: Sedaap! Resto Wonderful Indonesia Mulai Menggoda Selera Tiongkok

Nah, upacara Tumpek Kandang ialah salah satu upacara dalam rangka memuja keagungan Tuhan dengan cara melakukan pemeliharaan sebaik-baiknya atas ciptaan-Nya berupa binatang ternak atau hewan peliharaan.

”Upacara Tumpek Kandang ini dilakukan Sabtu Kliwon Wuku Uye menurut perhitungan kalender Bali-Jawa. Di hari tersebut datang dalam enam bulan sekali. Disebutkan dalam Lontar Sundarigama bahwa Upacara Tumpek Kandang merupakan upacara selamatan untuk binatang-binatang, baik binatang yang disembelih maupun binatang peliharaan yang secara hakikat untuk memuja Tuhan Yang Maha Esa, Siwa yang disebut Rare Angon, penggembala makhluk,” beber Agung dengan logat khas-nya.

BACA JUGA: Menteri Marwan Ajak Santri Pelototi Dana Desa

Lebih lanjut Agung mengatakan, upacara Tumpak Kandang ini adalah selamatan atau ungkapan terima kasih atau rasa kasih kepada semua binatang, khususnya binatang ternak atau hewan peliharaan. Bagi masyarakat agraris, binatang khususnya Sapi sangat membantu manusia. Tenaganya untuk bekerja di sawah, susunya untuk kesegaran dan kesehatan manusia bahkan kotorannya bermanfaat untuk menyuburkan tanaman.

Hal itu juga akan terjadi di "Bali Zoo" di Singapadu, Kabupaten Gianyar. Ratusan binatang diprediksi akan menjalani upacara Hindu "Tumpek Kandang" tersebut. " Kami harus mengikuti budaya ini dari tahun ke tahun, dan pasti kami lakukan rutin,” ujar Public Relations Executive Bali Zoo, Emma Kristiana Chandra, di Singapadu, Kabupaten Gianyar, Bali. 

Secara simbolis, beberapa satwa dikeluarkan dari penangkaran untuk diupacarai di antaranya gajah, siamang, owa jawa, beruang madu, dan binturong. Ritual yang digelar setiap enam bulan sekali itu digelar di pura setempat dengan dipimpin oleh pemuka agama Hindu.

Sebelum menjalankan ritual, pemuka agama setempat menghaturkan sesajen sebagai simbol penghormatan kepada dewa penguasa satwa yakni Sang Hyang Rare Angon sebagai perwujudan Dewa Siwa disertai doa-doa memohon keselamatan kepada seluruh satwa. "Perayaan hari suci ini juga berkaitan dengan konsep Tri Hita Karana," imbuhnya.

Tri Hita Karana merupakan filosofis masyarakat Bali dengan tiga harmonisasi hubungan manusia dengan Tuhan, manusia dengan alam dan manusia dengan lingkungan. Ritual suci umat Hindu itupun menarik perhatian wisatawan terutama wisatawan mancanegara yang saat itu tengah berkunjung.

Sekadar informasi, untuk bebanten selamatan bagi sapi, kerbau, gajah, kuda, dan yang semacamnya dibuatkan bebanten: tumpeng tetebasan, panyeneng, sesayutdan canang raka. Selain itu, untuk selamatan bagi babi dan sejenisnya: Tumpeng-canang raka, penyeneng, ketipat dan belayag. Sementara untuk bebanten sebangsa unggas, seperti: ayam, itik, burung, angsa dan lain-lainnya.

Direktur Program Doktor Ilmu Agama Pascasarjana Institut Hindu Dharma Indonesia Negeri Denpasar, Dr I Ketut Sumadi mengatakan, ritual Tumpek Kandang, mempersembahkan rangkaian janur (banten) berkombinasi bunga, kue dan buah-buahan khusus untuk binatang piaraan yang diharapkan mampu meningkatkan pendapatan keluarga.

Dalam ritual yang digelar setiap 210 hari sekali itu umat Hindu memuja Ida Betara Siwa dalam manifestasi sebagai Rare Angon. Kata dia, ritual pada hari tersebut merupakan lambang korban suci untuk semua jenis binatang yang hidup di alam semesta, termasuk yang menjadi piaraan seperti sapi, kerbau, babi, dan ayam.

Tradisi Tumpek Kandang, ia melanjutkan, ditujukan untuk menyucikan binatang yang diharapkan bisa memberikan kesejahteraan bagi umat manusia. Masyarakat Bali mewarisi Tumpak Kandang untuk menjaga tradisi memelihara kelestarian alam, keseimbangan ekosistem dalam mewujudkan hubungan yang harmonis antara sesama umat manusia, serta antara manusia dengan lingkungan dan Tuhan Yang Maha Esa (Tri Hita Karana).

Ketut Sumadi menjelaskan, dalam kehidupan sehari-hari, manusia kerap mengonsumsi daging yang bersumber dari hewan dan binatang.  "Mengkonsumsi daging hewan atau binatang sedikit banyak membawa pengaruh terhadap tabiat, sifat dan karakter manusia," ujar Ketut Sumadi.

Oleh sebab itu, ia melanjutkan, pada Hari Tumpek Kandang, umat manusia hendaknya dapat menyucikan diri, untuk menetralisir kekuatan-kekuatan binatang dalam diri. Ritual Tumpek Kandang yang umumnya dilakukan di kandang hewan piaraan itu, ia menjelaskan, juga merupakan wujud ungkapan rasa terima kasih dan syukur kepada Tuhan yang telah menciptakan flora dan fauna untuk kesejahteraan umat manusia.

Menpar Arief Yahya lebih melihat dari sisi tradisi dan budaya, yang menjadi kekuatan Bali sebagai destinasi nomor satu di tanah air. Wisman justru mencari keunikan dan kelangkaan tradisi yang bersanding rapi, antara yang sangat memegang teguh adat dan yang sangat open minded, terbuka oleh teknologi informasi, dan terbantu oleh aplikasi. “60 persen wisman mencari objek-objek yang tradisinya masih kuat seperti Bali,” kata Menpar Arief Yahya.

Ini juga pelajaran baik, bagi daerah-daerah yang memulai menjadikan pariwisata sebagai “lokomotif” yang menarik gerbong ekonomi daerah. Perkuat brand dulu, setelah brand value-nya kuat, mau berkreasi seperti apapun akan dengan mudah diterima publik secara global. “Itulah pentingnya, menaikkan branding, lalu diperkuat dengan advertising dan selling. Di atasnya teori BAS itu, menurut ahli marketing dunia dari Amerika, Philip Koetler, ada PR-ing," kata dia. (ray/jpnn)

BACA ARTIKEL LAINNYA... KNPI Persiapkan Jambore Poros Maritim Pemuda


Redaktur : Tim Redaksi

Silakan baca konten menarik lainnya dari JPNN.com di Google News

Terpopuler