Universitas PGRI Semarang Dukung Pengembangan Desa Wisata

Sabtu, 02 September 2017 – 16:00 WIB
Homestay desa wisata. Foto: JPG

jpnn.com, SEMARANG - Universitas-universitas di Indonesia tak mau ketinggalan memajukan sektor pariwisata di tanah air. Terbaru, mahasiswa dan mahasiswi Universitas PGRI Semarang (UPGRIS) turun langsung membantu warga Desa Sepakung, Kecamatan Banyubiru, Kabupaten Semarang.

Mereka melakukannya dalam program kuliah kerja nyata (KKN) yang berlangsung selama 1,5 bulan. Koordinator KKN Kabul Nurrachman mengatakan, kegiatan itu diikuti 38 mahasiswa dan mahasiswi dari delapan jurusan.

BACA JUGA: Wonderful Indonesia Mulai Bidik Wisman Kota Tier-2 Tiongkok

"Jadi, selama 1,5 bulan di Sepakung, kami memberikan pelatihan adminitrasi hingga keterampilan sesuai apa yang Desa Sepakung butuhkan," kata Kabul, Kamis (31/8).
Menurut Kabul, Sepakung sedang berkembang menjadi desa wisata alam.

Karena itu, pihaknya memberikan pelatihan terkait pariwisata. Salah satunya pertolongan pertama pada wisatawan. Selain itu, mahasiswa dan mahasiswi UPGRIS juga memberikan pelatihan lain kepada warga.

BACA JUGA: Pasca Kedatangan Yachter, Tarakan Makin Terbuka dengan Direct Flight Hongkong

"Kami memberikan pelatihan seperti pemandu wisata dan homestay, pembuatan peta tracking desa wisata, pelatihan bahasa Inggris, pembuatan paket wisata, hingga pelatihan pertolongan pertama gawat darurat," ujar Kabul.

Mahasiswa dan mahasiswi UPGRIS juga memberikan pelatihan pembuatan kerajingan tangan serta kuliner. Hal itu diharapkan bisa meningkatkan perekonomian warga Desa Sepakung.
"Ada pula pelatihan pembuatan suvenir dari bambu, pelatihan pembuatan singkong keju, hingga manisan kolang-kaling," kata Kabul.
Sementara itu, Kepala Desa (Kades) Sepakung Ahmad Nuri berterima kasih kepada mahasiswa dan mahasiswi UPGRI.

BACA JUGA: Kembangkan Wisata Religi, Kemenpar Dukung Pekan Pesona Pesantren di Ciamis

Menurut Ahmad, ilmu yang ditularkan mahasiswa dan mahasiswi UPGRIS sangat membantu warga Desa Sepakung. "Desa Sepakung ini memang sedang mengembangkan wisata alam dan kami membuat destinasi wisata alam. Pelatihan ini diharapkan warga semakin kreatif untuk memajukan wisata di Sepakung," terang Ahmad.

Dia menambahkan, salah satu ilmu yang paling bermanfaat adalah pelatihan pembuatan gula semut (gula merah berbentuk bubuk).
Pelatihan itu diberikan kepada kelompok sadar wisata (Pokdarwis), kelompok wanita tani (KWT), dan perwakilan tiap dusun sebagai alternatif pengolahan gula dari bahan getah nira.

"Banyak pelatihan yang diajarkan oleh tim KKN. Tidak hanya pelatihan pengolahan getah nira menjadi gula semut, tetapi juga memberikan pelatihan menjadi tour guide, pengolahan homestay, sampai penanganan tanggap gawat darurat," imbuh Ahmad.

Di sisi lain, tiga dosen UPGRIS juga tergerak memajukan pariwisata saat turun ke Desa Bendosari, Plantungan, Kendal. Mereka adalah Ngasbun Egar, Fitri Yulianti, dan Siti Musarakoh. Ketiganya siap menyulap Bendosari menjadi desa wisata berbasis pertanian.

Pemberdayaan desa itu merupakan program pengabdian masyarakat yang ditangani tim Iptek Bagi Desa Mitra (IBDM) UPGRIS.

"Di Desa Bendosari ada wisata alam yang namanya Curug Jeglong. Di lokasi tersebut pengunjung disuguhi hutan pinus yang teduh. Ini menjadi modal utama Desa Bendosari untuk menjadi desa wisata dengan konsep eduwisata," ujar Ngasbun, Selasa (22/8).

UPGRIS bukan satu-satunya universitas yang bergerak memajukan pariwisata Indonesia.

Sebelumnya, ribuan mahasiswa dan mahasiswi baru Universitas Sebelas Maret (UNS) Solo juga sudah membuat gebrakan ketika menampilkan koreografi 10 Bali Baru, Kamis (17/8).

Saat itu, mereka menampilkan formasi dari kertas berwarna berdurasi 41,89 detik dalam Student Vaganza One Indonesia UNS 2017.

Kreativitas mahasiswa dan mahasiswi baru UNS itu berbuah penghargaan dari Museum Rekor Dunia Indonesia (MURI).
Gebrakan yang dilakukan UPGRIS dan UNS sejalan dengan strategi pentahelix ABCGM yang digaungkan Menpar Arief Yahya.

UPGRIS dan UNS masuk dalam kategori academician alias akademisi. Empat unsur lainnya adalah business, community, government, dan media. "Kini, kerjasama Pentahelix itu makin konkret, dengan bungkus Indonesia Incorporated," jelas Arief Yahya.

Dengan pelaku usaha atau unsur B "business" juga makin tampak. Kebijakan Co Branding sudah MoU dengan 28 perusahaan nasional yang produknya di Co Branding dengan Wonderful Indonesia atau Pesona Indonesia. "Dan masih banyak lagi pelaku bisnis yang serius Co Branding," katanya.(jpnn)

BACA ARTIKEL LAINNYA... Yes, Sriwijaya Siap Daratkan 188 Turis Malaysia ke Belitung


Redaktur : Tim Redaksi

Silakan baca konten menarik lainnya dari JPNN.com di Google News

Terpopuler