Usai Ucap Sumpah, Langsung Dansa

Rabu, 23 Januari 2013 – 06:27 WIB
WASHINGTON--Lebih dari 30 ribu pasang mata menjadi saksi langsung kemesraan Presiden AS Barack Hussein Obama dengan First Lady Michelle Obama di Washington Convention Center. Begitu selesai mengucap sumpah sebagai presiden ke-44 AS  pada Senin malam lalu (21/1), Obama menuju ke lantai dansa sebagai bagian tradisi pesta pelantikan yang disebut Commander-in-Chief"s Inaugural Ball. Tujuan acara itu ialah menghormati keluarga militer.

Dengan diiringi lagu At Last yang dinyanyikan Beyonce Knowles, Obama terlihat mesra berdansa berdua (pas de deux) dengan Michelle. Selain bersama istrinya, Obama berdansa dengan seorang bintara perempuan anggota Angkatan Udara AS (USAF). Sedangkan, Michelle berdansa dengan bintara laki-laki anggota marinir AS (USMC). Di antara tamu pelantikan, terlihat banyak pesohor. Mereka itu, antara lain, Alicia Keys, Kelly Clarkson, Stevie Wonder, Katy Perry, Usher, dan John Legend.

Seperti dilaporkan kontributor Jawa Pos, sebelumnya Obama berpidato di Capitol Hill selama 19 menit dan menggunakan 2.114 kata. Obama menyerukan persamaan dan persatuan dengan pidato tanpa teks. Ada beberapa hal penting yang disampaikan Obama. Yaitu, persamaan derajat perempuan, menyokong pernikahan gay, perubahan iklim, dan pengendalian senjata.

"Perjalanan kita belum selesai sampai saudara kita gay dan saudari kita yang diperlakukan seperti orang lain di bawah hukum. Sebab, jika kita benar-benar diciptakan sama, kita berkomitmen untuk menjaga cinta satu sama lain," terangnya.

Dari luar arena, kematangan berdemokrasi tecermin saat ratusan ribu warga dari berbagai ras, warna kulit, dan kepentingan melebur menjadi lautan manusia di National Mall. National Mall yang biasa disebut The Mall merupakan tanah lapang yang menghubungkan gedung Capitol dengan Monumen Washington. Saat pelantikan, warga yang menyemut bukan hanya pendukung Obama. Beberapa orang dan kelompok penentang Obama juga ambil bagian.

Seperti yang terlihat di salah satu sisi Pennsylvania Avenue yang menjadi perlintasan Obama dan berjarak hanya beberapa jengkal dari panggung utama. Sekelompok orang yang berafiliasi dengan Gereja Baptis Westboro (Westboro Baptist Church) terang-terangan mengutuk Obama.

Di Amerika, Gereja Baptis Westboro dikenal sebagai penentang homoseksual. Mereka meyakini bahwa kebijakan Obama memberikan hal yang sama kepada kelompok LGBT (lesbian, gay, biseksual, dan transgender) sebagai tindakan yang salah dan hanya akan mendatangkan kerugian bagi Amerika.

Saat protes berlangsung, beberapa orang pendukung Obama terlihat beradu argumen dengan pengunjuk rasa. Namun, jumlah pendukung Obanya yang banyak membuat pengunjuk rasa lebih banyak diam dan hanya mengangkat tinggi-tinggi poster yang mereka bawa. Jangankan dibubarkan, unjuk rasa di tengah pesta tersebut justru dijaga oleh puluhan polisi.

Masih dari Pennsylvania Avenue, ada bentuk protes yang sangat menarik dan terlihat aneh. Protes aneh tersebut tidak dilakukan oleh warga sipil atau LSM, tetapi oleh unsur pemerintah, yakni pemerintah Washington DC. Di panggung kehormatan yang dibangun tepat di depan gedung kantor pemerintahan yang juga berada di jalan yang sangat bersejarah itu, mereka memasang spanduk besar bertulisan A More Perfect Union Must Include Full Democracy in DC.

Pesan tersebut merupakan bentuk protes pemerintah dan warga Washington DC yang selama ini tidak mempunyai perwakilan sama sekali di Kongres (senator dan anggota DPR). Padahal, setiap pemilu warga Washington DC juga turut memberikan suara. Selama ini mereka hanya dianggap sebagai penggembira demokrasi. Washington DC juga merupakan salah satu penyumbang pajak terbesar bagi pemerintah federal.

Pemerintah dan warga Washington DC berharap agar Obama mendukung upaya mereka untuk mempunyai wakil di Kongres atau menjadi negara bagian baru. Konstitusi AS memang memosisikan Washington DC sebagai entitas khusus ibu kota dan bukan sebagai negara bagian. Karena itu, voting dari penduduk Washington DC selama ini tidak dihitung untuk menentukan posisi keanggotaan Kongres.

Sehari sebelum hari pelantikan, beberapa orang dan kelompok terlihat berunjuk rasa di depan Gedung Putih menentang kebijakan Obama. Mulai soal perang Iraq dan Afghanistan, Palestina, hingga legalitas aborsi. Salah seorang demontran yang terlihat siang itu adalah Theresa Cao. Perempuan paro baya yang mengaku aktivis antiperang itu terlihat mengibar-ngibarkan bendera Israel dalam ukuran besar sambil menenteng poster Obama dengan wajah Joker. "Ketidakjelasan sikap Obama terhadap Israel justru mengakibatkan perdamaian dunia terancam," kata Theresa.

Sekelompok orang berunjuk rasa menentang rencana program jaminan kesehatan yang diusulkan Obama (Obamacare) yang salah satu klausulnya mendukung semacam keluarga berencana (planned parenthood). "Program itu sama dengan pembunuhan berencana," seru salah seorang pengunjuk rasa dengan menggunakan pengeras suara. Planned parenthood memang memungkinkan seorang perempuan hamil memutuskan melanjutkan kehamilannya, atau aborsi dengan dana dari pemerintah. (*/c4/oki)

BACA ARTIKEL LAINNYA... Kali Pertama, Paus Ngetwit Berbahasa Latin

Redaktur : Tim Redaksi

Silakan baca konten menarik lainnya dari JPNN.com di Google News

Terpopuler