Virus Corona tidak Tahan Panas dan Lembab, Impor Produk Olahan dari Tiongkok Aman

Sabtu, 29 Februari 2020 – 20:34 WIB
Virus Corona. Foto: istimewa

jpnn.com, JAKARTA - Ketua Umum Gabungan Pengusaha Makanan dan Minuman Indonesia (GAPMMI) Adhi S. Lukman mengatakan produk olahan Tiongkok yang masuk ke Indonesia aman dari virus corona atau Covid-19. Menurut Adhi, virus tidak bisa menyebar melalui produk karena akan mati dalam perjalanan, cuaca panas maupun kelembaban.

"Aman. Virus itu mati dalam proses panas, proses dingin dan dia (virus corona) tidak tahan panas. Informasi yang saya dapat corona ini tidak tahan lembab. Indonesia ini daerahnya panas dan lembab, sehingga seharusnya tidak terjadi penularan itu," kata Adhi dalam diskusi "Mengukur Efek Korona, Siapkah Kita?" di Jakarta, Sabtu (29/2).

BACA JUGA: Dasco Minta Kemendagri Bentuk Desk Corona

Adhi menambahkan bila pengiriman produk olahan menggunakan kontainer di kapal dari Tiongkok, maka virus corona juga akan mati. Menurut Adhi, panas di kontainer itu mencapai 45 derajat celcius sehingga virus corona tidak bisa hidup di sana.

"Kalau lewat kontainer pun, suhunya 45 derajat sehingga virus tidak bisa hidup di sana," katanya.

BACA JUGA: Corona Ganggu Perekonomian, Misbakhun Minta Pajak UMKM Diistimewakan

Ia menuturkan, Indonesia memang banyak mengimpor produk makanan dan minuman dari Tiongkok. "Namun sebenarnya virus tidak ada pengaruhnya terhadap produksi," katanya.

Adhi menyebut, Indonesia mengimpor produk holtikultura dari Tiongkok sebesar USD 1,4 miliar per tahun. Kemudian, produk pangan olahan sekitar USD 850 juta pertahun. Selain itu, ada juga beberapa produk lain yang diimpor dari Tiongkok.

BACA JUGA: Iskan Minta Pemerintah Tegas Menyatakan Indonesia Bebas Corona

Adhi pun menilai tepat langkah pemerintah yang melarang impor hewan hidup dari Tiongkok. "Kalau pemerintah hanya melarang (impor) hewan hidup, ini memang tepat sekali," katanya.

Hanya saja, Adhi mengatakan masalahnya sekarang adalah persoalan logistik dan penutupan beberapa fasilitas pelabuhan dan transportasi di sana. "Yang diantisipasi sekarang adalah persoalan logistik dan shipping," ungkapnya.

Ia mengaku mendapat laporan dari Cosco atau China Ocean Shipping, yang merupakan shipping line terbesar di Tiongkok, pengiriman mengalami penurunan sampai 20 persen karena beberapa pelabuhan ditutup dan akibat dari libur panjang.

Akibatnya, kata Adhi, pengiriman beberapa mesin dan sparepart dari Tiongkok ke Indonesia mengalami penundaan sehingga berdampak pada proses produksi di tanah air.

"Itu berpengaruh terhadap proses produksi di sini, karena ada beberapa sparepart yang dibutuhkan karena mesin rusak, sehingga terjadi penundaan produksi atau hambatan produksi. Itu dampak langsungnya," ungkap Adhi.

Sisi lain, Adhi melanjutkan, dampak tidak langsungnya adalah terhadap dunia pariwisata yang tentu berdampak pula pada usaha makanan dan minuman. Wisatawan Tiongkok, termasuk beberapa negara lain, juga tidak melakukan kunjungan ke Indonesia.

"Ini pasti berpengaruh ke hotel, makanan, minuman. Ini harus diantisipasi pemerintah," ujar dia.

Adhi berharap pemerintah memberikan stimulus untuk mendorong bagaimana pengusaha bisa bertahan di sirkulasi ekonomi lokal. "Karena kondisi dunia sekarang tidak menentu," tegasnya.

Terlebih lagi, kata Adhi, pagi tadi ada informasi bahwa Presiden Amerika Serikat Donald Trump membatalkan KTT ASEAN di Las Vegas, AS, April 2020. "KTT ini menjadi patokan negara ASEAN dan dunia," katanya.

Selain itu, ujar dia, banyak pula pameran-pameran di luar negeri yang dibatalkan. Misalnya, pameran makanan di Jepang. Pameran hotel di Singapura, serta lainnya. Hal ini berdampak pada kerugian, yang tidak hanya dari sisi akomodasi, tetapi peralatan, sewa, dan sebagainya.

"Potensi peningkatan mendapatkan buyer baru juga ada hambatan," paparnya.

Selain impor, kata Adhi, dari sisi ekspor juga demikian. Beberapa pembeli dari Tiongkok menunda permintaan pengiriman dari Indonesia. Namun, kata Adhi, pekan lalu terdapat kabar gembira bahwa ada peluang meningkatkan ekspor. Karena di Tiongkok sekarang ini, penjualan produk makanan olahan meningkat drastis.

"Karena di sana ada imbauan tidak makan pangan segar, tidak masak di rumah, tidak dine in di restoran. Jadi, pangan olahan diserbu dan banyak ibu-ibu rumah tangga membeli pangan olahan untuk dimakan di rumah demi keamanan," katanya.

Selain ke Tiongkok, lanjut dia, peluang mengekspor produk olahan ke Singapura juga meningkat. Menurut dia, pangan olahan di pasar Singapura banyak kosong karena banyak dibeli masyarakat untuk disimpan.

"Nah, ini peluang tetapi namanya juga produk baru masuk ke negara lain, perizinan harus diantisipasi karena lama. Yang jelas ada kesempatan untuk dimanfaatkan bersama," katanya.

Lebih lanjut Adhi berharap pemerintah dan pengusaha berkolaborasi untuk mengantisipasi berbagai persoalan yang ada. "Semua harus dikolaborasikan," tegasnya. (boy/jpnn)


Redaktur & Reporter : Boy

Silakan baca konten menarik lainnya dari JPNN.com di Google News

Tag

Terpopuler