Waduh, LSP U-14 Kemenpora Panen Masalah

Kamis, 28 April 2016 – 10:37 WIB
Felix Lasut, Korwil Manado, salah satu peserta workshop LSP U-14 Kemenpora yang kecewa/ foto: Amjad/JPNN

jpnn.com - JAKARTA- Segera diputarnya Liga Sepakbola Pelajar (LSP) U-14 Kemenpora ternyata tak membuat para Korwil senang. Penyebabnya, dana stimulan untuk penyelenggaraan di daerah ternyata cukup kecil. Selain itu, juga tak ada transparansi anggaran dana stimulan. Menurut Korwil LSP U-14 asal Manado, Felix Lasut, produk unggulan U-14 milik Kemenpora ini ternyata tak dikelola dengan baik. 

"Ini mereka melibatkan kami di daerah, tapi kami dari daerah tidak diurus. Kasihan pak menterinya, bawahannya asal jalankan program, outputnya tak jelas, promosi ke daerah cuma semu," katanya, usai workshop, Kamis (27/4).

BACA JUGA: Jajal Timnas Singapura Sebelum Berlaga di PON

Karena manajemen workshop yang buruk itulah, kredibilitas lembaga pimpinan Imam Nahrawi itu jatuh di mata Korwil-Korwil LSP U-14 Kemenpora. 

"Wajar kalau pemerintah tidak bisa bikin Jatuh PSSI, kinerja mereka kayak gini. Kelihatan, me-manage workshop saja kayak gini, jauh dengan PSSI," tegas mantan pemain sepakbola di era Galatama itu.

BACA JUGA: Klik aja! Pembagian Dana Tambahan buat Peserta ISC A

Peserta kompak mempertanyakan, dana stimulan yang dipotong sepihak oleh panitia, tapi pihak Pejabat Kemenpora ternyata menyebut tak ada potongan.

"Bagaimana bisa Deputi bilang tidak dipotong, tapi panitia penyelenggara bilang dipotong, dari Rp 30 juta, bisa cuma dapat Rp 25 juta, ada yang main-main dengan anggaran pemerintah ini," ungkap Felix.

BACA JUGA: Ini Skuat Persija buat Lawan Persipura

Kekecewaan peserta semakin bertambah, saat pertanyaan terkait kemungkinan adanya tim dari daerah yang tak bisa berangkat ke Jakarta karena kekurangan dana.

"Ini U-14 tidak hadiah, masa nanti tim yang kekurangan dana untuk ikut putaran nasional di Jakarta disarankan tidak usah berangkat, bukannya malah dibantu transportasinya, malah dijatuhkan begitu," terang lelaki yang juga wakil ketua Komisi Disiplin di Asprov PSSI Sulawesi Utara itu.

Dengan label pembinaan, pemerintah, menurut dia, juga harus tanggung jawab. Jangan sekadar menggelar, tapi tim yang susah payah untuk bertanding di daerah dan lolos, malah disarankan tidak perlu berangkat dan menyerahkan jatahnya ke klub yang punya dana besar untuk berangkat.

"Ini bukan klub pro. Ini tim daerah, tim usia muda untuk pembinaan. Masak ngomongnya begitu itu orang (Deputi III Kemenpora, Raden Isnanta)," tegasnya.

Masalah lainnya, menurut Abdul Muis, Korwil Nusa Tenggara Timur (NTT), adalah efisiensi. Kemenpora, menurutnya, bisa mengirimkan dua sampai tiga orang ke daerah hanya untuk menyerahkan kwitansi dana stimulan. 

"Padahal dokumen dikirim via pos, lebih irit. Dana itu, biarkan dikumpulkan, untuk membantu transport yang lolos ke Jakarta untuk putaran nasional. Tapi itu tidak dilakukan, mana efisiensi itu, transparan juga tidak," tegasnya. (dkk/jpnn)

‎Berikut daftar masalah LSP U-14:

1. Tidak memiliki kode disiplin, padahal penting dan menjadi salah satu hal dasar dalam kompetisi.

2.‎Tidak transparan dan efisien dalam anggaran

3.Tidak mempedulikan ‎kondisi finansial tim wakil provinsi sebagai bagian pembinaan. 

4.‎ Me-manage workshop dengan buruk, rapat molor dan Korwil kecewa.

5.Program dinilai‎ kurang efektif untuk meningkatkan pembinaan sepakbola usia muda di Indonesia

 

BACA ARTIKEL LAINNYA... Tribun buat Jokowi di Mandala Kian Dipercantik


Redaktur : Tim Redaksi

Silakan baca konten menarik lainnya dari JPNN.com di Google News

Terpopuler