Wanita Obesitas Sulit Hamil

Kamis, 10 Oktober 2013 – 08:45 WIB

jpnn.com - SAAT anda jalan-jalan ke pusat perbelanjaan atau tempat-tempat umum lainnya, tak sulit menemukan orang yang kelebihan berat badan. Bahkan makin hari tampaknya makin banyak saja orang yang mengalaminya, tak peduli berapa pun usianya.

Padahal dampaknya terhadap kesehatan tak dapat diremehkan. Yang paling mengejutkan, obesitas tak hanya mempengaruhi ukuran baju maupun risiko penyakit, tapi juga hubungan antarkeluarga hingga pendapatan. Berikut delapan efek samping obesitas terhadap kehidupan seseorang

BACA JUGA: Warga Sekitar Bandara Rentan Terserang Stroke

1. Lebih sering migrain

Setelah tim peneliti Johns Hopkins mensurvei 4.000 orang, ditemukan fakta bahwa semakin tinggi indeks massa tubuh seseorang, semakin besar peluang mereka untuk mengidap migrain episodik.

BACA JUGA: Takut Lihat Lubang? Mungkin Anda Terkena Trypophobia

Mereka yang obesitas pun berpeluang 81 persen lebih besar untuk mengalami sedikitnya 14 kali migrain setiap bulannya dibandingkan orang-orang yang berat badannya sehat. Bahkan wanita obes berusia 50 tahun ke atas tercatat yang paling sering mengalami sakit kepala kronis tersebut.

2. Lebih gampang kena kanker

BACA JUGA: Ingin Langsing? Ubah Gaya Hidup Anda

Mengapa orang-orang yang memiliki lemak tubuh lebih banyak identik dengan risiko kanker yang tinggi?

"Bisa jadi karena kelebihan sel-sel lemak tersebut dapat meningkatkan aktivitas hormon atau menambah faktor yang mengakibatkan pertumbuhan tumor," kata Dr. Raul Seballos dari Cleveland Clinic, seperti dilansir laman ABC News, Rabu (9/10).

Seballos juga menambahkan jika orang-orang obes berisiko lebih tinggi terkena segala jenis kanker, termasuk lebih lambat didiagnosis (ketika stadiumnya sudah tinggi) dibandingkan orang yang lebih kurus dan lebih sering meninggal karenanya.

3. Makin mandul

Wanita yang kelebihan berat badan lebih sulit untuk hamil ketimbang yang berat badannya ideal. Bahkan sebuah studi dari India terhadap 300 wanita obes menemukan dalam kurun tiga tahun studi, lebih dari 90 persen partisipan mengidap polycystic ovarian disease, salah satu penyakit yang berkaitan dengan kemandulan.

"Obesitas sendiri merupakan akibat dari peradangan dan itu saja sudah menurunkan tingkat kesuburan. Ini juga bisa terjadi sebagai akibat dari perubahan hormon yang dihasilkan oleh jaringan lemak," kata Dr. Marc Bessler, Direktur Center for Weight Loss and Metabolic Surgery, New York Presbyterian Hospital, Columbia University Medical Center.

Bessler membuktikan sendiri, banyak pasiennya yang kelebihan berat badan sulit untuk bisa hamil. Kendati begitu, beberapa pasiennya akhirnya bisa mengandung beberapa bulan setelah menjalani operasi penurunan berat badan.

4. Dihantui risiko bayi lahir prematur

Risiko yang dialami wanita obes bukan saja susah hamil, tapi sekalinya bisa mengandung, bayi mereka berisiko lahir prematur, apalagi jika indeks massa tubuhnya di atas 35. Peneliti pun menduga terlalu banyak lemak dapat menyebabkan peradangan dan melemahkan rahim serta membran serviks.

Padahal kelahiran prematur sangat identik dengan kematian bayi dan cacat seumur hidup pada anak.

5. Kurang tidur

Kurang tidur berkontribusi terhadap berbagai penyakit, di antaranya diabetes, penyakit jantung dan obesitas. Sudah tak terbilang banyaknya studi yang mengaitkan antara jam tidur yang pendek dengan pelebaran lingkar pinggang. Salah satunya dari Harvard Nurses Study yang menemukan mereka yang tidur kurang dari lima jam saja setiap malamnya berisiko 15 persen lebih tinggi mengalami penambahan berat badan dibandingkan yang bisa tidur minimal tujuh jam semalam.

Menurut seorang pakar nutrisi dan preventive medicine, Dr. Donald Hensrud, salah satu bahaya terbesar yang mengintai orang obes adalah sleep apnea atau kondisi dimana seseorang tiba-tiba berhenti bernapas saat tidur.

"Sleep apnea dapat disebabkan oleh peningkatan lemak di seputar leher yang menekan dan menutup jaringan lunak pada saluran udaranya ketika seseorang sedang tertidur, terutama jika tidurnya telentang," kata Hensrud.

Akibatnya orang yang mengalami sleep apnea tidak memiliki tidur yang berkualitas serta kekurangan oksigen dalam pembuluh darahnya sehingga jantungnya harus bekerja ekstra.

6. Dibully orang-orang tercinta

Sebuah studi dari Yale mengungkap berat badan adalah alasan utama orang-orang mengalami bullying, di usia berapa pun. Dan mereka yang menjadi korban bullying memiliki tingkat kepercayaan diri yang rendah, depresi yang tinggi serta sangat berisiko mengalami bunuh diri.

Anehnya, sebagian besar korban bullying mengaku mengalami pelecehan dari keluarganya sendiri.

"Lebih dari 40 persen anak yang berupaya menurunkan berat badannya mengaku telah dibully atau diganggu oleh salah seorang anggota keluarganya," kata ketua tim peneliti, Rebecca Puhl.

"Ketika kami tanyakan pada wanita yang obes, 72 persen dari mereka juga mengaku yang sering menstigmatisasi mereka adalah anggota keluarganya," tambahnya.

7. Kesenjangan perlakuan medis

Rebecca Puhl dan rekan-rekannya juga menemukan 67 persen pria dan wanita yang kelebihan berat badan mengaku kerap dipermalukan atau di-bully di ruang praktik dokternya sendiri.

Faktanya, 50 persen dokter diketahui menganggap pasiennya yang gemuk itu 'kikuk, buruk rupa, berkemauan lemah, dan jarang mematuhi prosedur pengobatan. Tidak hanya itu, 24 persen perawat pun mengaku jijik ketika menghadapi pasien obes.

Uniknya, di sisi lain Puhl menemukan hal serupa bahwa pasien cenderung malas mengikuti perintah dokter dan lebih sering mengganti dokternya jika dokternya yang sekarang mengalami kelebihan berat badan.

8. Pendapatan rendah

Kaitan antara obesitas dengan pendapatan dikemukakan oleh sebuah studi dari George Washington University School of Public Health. Berdasarkan data National Longitudinal Survey of Youth 2004, pendapatan wanita obes 8.666 dollar AS dan pria obes 4.772 dollar AS lebih rendah daripada rekan-rekan mereka yang lebih langsing.

Sebaliknya, wanita yang langsing jelas memiliki pendapatan yang lebih besar daripada yang gemuk. Studi dari University of Florida telah memastikan hal ini. Wanita yang berat badannya 11.3 kg lebih rendah daripada berat badan rata-rata memiliki penghasilan 15.572 dollar AS lebih tinggi dalam setahun, dibandingkan wanita dengan berat badan normal.

Sedangkan wanita yang berat badannya 11.3 kg lebih banyak daripada berat badan rata-rata memiliki penghasilan 13.847 lebih rendah dalam setahun dibandingkan wanita dengan berat badan normal. Namun kondisi serupa tak ditemukan pada pria. (fny/jpnn)

 

BACA ARTIKEL LAINNYA... Cara Ini Bisa Turunkan Risiko Kecelakaan Berkendara


Redaktur : Tim Redaksi

Silakan baca konten menarik lainnya dari JPNN.com di Google News

Terpopuler