Wapres Argentina Nyaris Dibunuh, Presiden Salahkan Ujaran Kebencian

Sabtu, 03 September 2022 – 19:40 WIB
Ratusan ribu warga Argentina turun ke jalan untuk menunjukkan dukungan mereka kepada Wakil Presiden Cristina Fernandez de Kirchner, Jumat (2/9). Foto: Emiliano LASALVIA / AFP

jpnn.com, BUENOS AIRES - Argentina diguncang upaya pembunuhan terhadap Wakil Presiden Cristina Fernandez de Kirchner yang terjadi pada Kamis (1/9).

Ratusan ribu warga turun ke jalan untuk menunjukkan dukungan mereka di ibu kota negara Amerika Selatan yang dicengkram polarisasi dan krisis ekonomi tersebut pada hari Jumat (2/9).

BACA JUGA: 3 Pemain Argentina yang Tampil Moncer Lawan Italia, Nomor 2 Pahlawan Sejati

Seorang penyerang menodongkan pistol berisi peluru dari jarak dekat ke Wakil Presiden Cristina Fernandez de Kirchner di luar rumahnya di Buenos Aires tempat orang banyak berkumpul Kamis malam, tetapi pistol itu gagal ditembakkan.

Kantor Presiden Alberto Fernandez telah menyerukan diakhirinya "retorika kebencian," dan presiden mengatakan serangan itu adalah yang terburuk sejak negara itu kembali ke demokrasi beberapa dekade lalu.

BACA JUGA: Bantu Argentina Menang Finalissima 2022, Lionel Messi Menyamai Prestasi Cristiano Ronaldo

Serangan itu dialirkan ke rumah-rumah di seluruh negeri melalui video dan foto yang menjadi viral mulai Kamis malam, secara grafis menunjukkan pistol didorong ke arah kepala Fernandez de Kirchner, sebelum dia berjongkok dan menutupi wajahnya dengan tangannya. Pendukung di luar rumahnya kemudian membundel seorang pria.

Oscar Parrilli, seorang senator dengan koalisi berkuasa yang dekat dengan wakil presiden, mengatakan kepada radio lokal bahwa dia terkejut tetapi tidak apa-apa. "Untungnya, dia memiliki semangat yang utuh," katanya.

BACA JUGA: Italia vs Argentina: Paulo Dybala Tutup Pesta Gol La Albiceleste

Polisi menangkap seorang tersangka yang mereka sebut sebagai Fernando Andres Sabag Montiel, seorang Brasil berusia 35 tahun.

Surat kabar lokal La Nacion, mengutip sumber polisi, mengatakan bahwa Montiel telah bekerja sebagai sopir dan menyewa kamar di lingkungan Villa Zagala ibukota. Polisi menemukan 100 peluru ketika mereka menggerebek properti itu, kata surat kabar itu.

Rekaman video yang dilihat oleh Reuters menunjukkan polisi menggerebek properti itu.

Oscar Delupi, 64, seorang pekerja kereta api, menyalahkan perpecahan politik karena memicu kekerasan.

"Ini gila, masyarakat sudah sedikit kehilangan kesabaran, pesan kebencian menjadi semakin ganas pada orang-orang yang berpikiran lemah yang memilih hal gila seperti serangan," katanya. (reuters/dil/jpnn)


Redaktur & Reporter : M. Adil Syarif

Silakan baca konten menarik lainnya dari JPNN.com di Google News

Terpopuler