Waspada, 3 Jenis Obat Lambung Ini tak Boleh Dikonsumsi Berkepanjangan

Rabu, 14 Oktober 2020 – 04:20 WIB
Sakit perut karena asam lambung naik. ILUSTRASI. Foto: Laman India Times

jpnn.com - Memiliki penyakit lambung memang menyiksa. Terlebih lagi jika penyakit itu kambuh di waktu yang tidak tepat. Sebagai pertolongan pertama, obat lambung tentu akan langsung dicari sebagai solusi.

Akan tetapi, tahukah Anda bahwa minum obat lambung jangka panjang punya dampak buruk bagi kesehatan? Yuk, simak ulasannya di sini.

BACA JUGA: Benarkah Diet Tinggi Garam Picu Sakit Lambung?

Obat lambung dan fungsinya

Mag atau dispepsia adalah istilah yang dipakai untuk menggambarkan gangguan yang terjadi di organ lambung. Gejalanya bisa mencakup rasa mual dan muntah, kembung, serta nyeri di ulu hati.

BACA JUGA: Sania Royale Soya Oil, Beri Nutrisi dan Proteksi Kolesterol di Kala Pandemi

Dispepsia sendiri dapat disebabkan oleh banyak hal, seperti infeksi bakteri, terlambat makan, salah pilih makanan, dan efek samping konsumsi obat NSAID.

Kondisi tersebut pada umumnya dapat diatasi dengan pemilihan asupan, makan ontime, menghentikan pemakaian obat pemicu, termasuk minum obat lambung.

BACA JUGA: 4 Kiat Aman Gunakan Transportasi Umum di Kala Pandemi dari Menhub

Nah, dr. Dyah Novita Anggraini menjelaskan ada tiga macam obat lambung yang umumnya dijual dan dikonsumsi oleh penderita penyakit lambung. Berikut penjelasannya:

1. Pronton Pump Inhibitor (PPI)

PPI merupakan jenis obat asam lambung yang banyak dijumpai di apotik. Fungsinya untuk menurunkan kenaikan asam lambung.

Obat ini bekerja dengan memberikan hambatan pada kinerja sel tubuh yang memproduksi asam. PPI juga bekerja untuk mencegah kerusakan pada organ lambung.

2. Antasida 

Antacid atau antasida mungkin tak asing lagi bagi para penderita asam lambung. Obat ini bekerja dengan menetralkan asam lambung dengan cepat.

Antasida bisa dikonsumsi setelah makan, sebelum tidur, atau hanya saat asam lambung kambuh.

3. H2 Receptor Blocker 

Obat lambung lainnya yang sering dijumpai di apotek adalah H2 Receptor Blocker. Obat ini bekerja dengan mengurangi jumlah produksi asam lambung dan mengurangi nyeri yang diakibatkan naiknya asam lambung/mag. 

Dari tiga obat lambung tersebut, H2 Receptor Blocker paling jarang menimbulkan efek samping. 

Namun, bagi beberapa orang, obat ini mungkin akan menimbulkan efek samping, seperti kelelahan, pusing, dan sakit kepala.

Bahaya konsumsi obat lambung berkepanjangan

Seperti obat lainnya, konsumsi obat lambung jangka panjang sebaiknya tidak dilakukan, kecuali dengan resep dokter. Obat tersebut bisa menyebabkan beberapa dampak merugikan di kemudian hari.

Apa saja bahaya obat lambung saat dikonsumsi jangka panjang? 

1. Kanker Esofagus 

Dilansir Everyday Health, minum obat antasida secara berkepanjangan dikaitkan dengan peningkatan risiko adenokarsinoma esofagus atau kanker esofagus. 

Menurut sebuah penelitian, orang yang mengonsumsi antasida OTC lebih dari tiga tahun (dan tidak berada di bawah pengawasan dokter) berisiko enam kali mengalami kanker esofagus.

2. Melemahnya Kepadatan Tulang 

Efek samping obat lambung selanjutnya adalah menyebabkan berkurangnya kepadatan tulang. Kondisi tersebut bisa menyebabkan berbagai masalah tulang seperti osteoporosis.

“Antasida mengandung aluminium yang bisa menghilangkan jumlah kalsium dan fosfat dalam tubuh, jika dikonsumsi berlebihan,” ujar dr. Dyah Vita.

3. Gangguan pada Ginjal 

Mengonsumsi obat lambung secara berlebihan juga bisa menyebabkan gangguan pada ginjal.

Menurut dr. Dyah, obat lambung yang berbahaya jika dikonsumsi berkepanjangan yang jenisnya Proton Pump Inhibitor bisa meningkatkan risiko terjadinya gangguan ginjal seperti gagal ginjal. 

Selain itu, antasida juga bisa membuat kalsium yang dikeluarkan melalui urine juga terhambat pada ginjal. Ini pada akhirnya akan menyebabkan batu ginjal.

Meskipun ketiga obat lambung tersebut dijual bebas dan bisa dibeli tanpa resep dokter, Anda harus memperhatikan betul aturan pakainya. Jika penyakit lambung tak kunjung sembuh, sebaiknya berkonsultasilah dengan dokter.(HNS/AYU/klikdokter)


Redaktur & Reporter : Yessy

Silakan baca konten menarik lainnya dari JPNN.com di Google News

Terpopuler