Wikileaks Tuding George Soros Danai Panama Papers

Jumat, 08 April 2016 – 08:18 WIB
Foto: Twitter/wikileaks

jpnn.com - NEW YORK - Panama Papers telah membocorkan data penting dalam jumlah terbesar dan terbanyak di era modern ini. Namun, ternyata ada jejak penting George Soros di balik bocornya data klien firma hukum asal Panama, Mossack Fonseca itu.

Wikileaks yang dikenal sebagai pelopor pembocoran kawat diplomatik Amerika Serikat itu menuding Soros mendanai beredarnya  11,5 juta dokumen penting tentang tokoh-tokoh dunia yang diduga mengempang pajak. Wikileaks melontarkan tuduhannya soal Soros itu melalui cuitan di Twitter.

BACA JUGA: BRUTAL! 18 Pemuda Dieksekusi, 8 Dipenggal, 10 Dibakar

”Serangan #PanamaPapers terhadap Putin (Presiden Rusia Vladimir Putin, red) adalah perbuatan OCCRP yang menarget Rusia dan negara-negara bekas Uni Soviet dan didanai oleh USAID (Badan Pembangunan Internasional milik AS) dan Soros,” cuit WikiLeaks.

OCCRP atau Proyek Pelaporan Korupsi dan Kejahatan Terencana merupakan salah satu badan antikorupsi AS yang terbentuk pada 2006. Setelah populer di Negeri Paman Sam, lembaga itu lantas tenar di Eropa, khususnya, di kawasan Eropa Timur.

BACA JUGA: Media Inggris Sebut Kematian Irma Bule...Tragis!

Wikiliaks melanjutkan tuduhannya. Pemerintah AS bersama Soros telah memanfaatkan OCCRP untuk melucuti Rusia. Yakni, dengan menyebarluaskan praktik finansial kotor orang-orang penting di sekitar Putin.

Panama Papers kali pertama diungkap koran Jerman Süddeutsche Zeitung dan kemudian disebarluaskan Konsorsium Jurnalis Investigatif Internasional (ICIJ). Konon, ICIJ memutuskan untuk merilis data-data rahasia itu setelah melakukan investigasi internal selama sekitar satu tahun.

BACA JUGA: Jutaan Warga Bangladesh Minum Air Arsenik

Ada data dalam bentuk email, dokumen dan gambar berkapasitas 2,6 terabytes dari Mossack Fonseca. Di antarnya memang memuat  permainan finansial kroni Putin.

Padahal, dalam dokumen-dokumen itu Putin tidak disebutkan sebagai klien Mossack Fonseca Co. Tapi, orang-orang dekat Putin tertulis sebagai klien yang memiliki perusahaan offshore atas prakarsa firma hukum yang sudah beroperasi 40 tahun itu. Dan, uang yang mereka “amankan“ mencapai USD 2 miliar (sekitar Rp 26,32 triliun).

ICIJ, kabarnya, mendapatkan sokongan dana dari Soros lewat Yayasan Sosial Terbuka (OSF) miliknya. Keterlibatan OSF itulah yang lantas membuat Kremlin bisa melihat arah tujuan munculnya Panama Papers pada masa persiapan pemilihan presiden (pilpres) Rusia kali ini.

“Soros berseteru dengan Putin terkait operasi OSF di Rusia. Terutama, menjelang pilpres 2018,“ terang sumber Kremlin.

Rencananya, Putin bakal kembali mencalonkan diri dalam pilpres 2018 mendatang. Kremlin lantas menuding AS berusaha mencoreng citra pemimpin 63 tahun itu lewat para kroninya yang mempermainkan pajak.

Media Rusia bahkan menganggap Panama Papers sebagai proyek balas dendam AS atas perlindungan yang diberikan Negeri Beruang Merah itu kepada Edward Snowden dan Julian Assange.

”Ini dokumen yang bisa menimbulkan kekacauan di negara itu. Orang-orang bisa saling pukul dan saling bunuh di sana,” ujar Ian Bremmer dari Eurasia Group tentang Rusia.

Panama Papers, menurut dia, adalah ancaman bagi rezim Putin dan Kremlin. Oleh karena itu, dunia harus bisa mengawasi dan mengantisipasi reaksi Rusia atas skandal yang juga menyeret nama para selebritis papan atas tersebut.(geopoliticalmonitor/hep/idr/ken/kim)

BACA ARTIKEL LAINNYA... Tidak Becus, Robot Pelayan Restoran Dipecat


Redaktur : Tim Redaksi

Silakan baca konten menarik lainnya dari JPNN.com di Google News

Terpopuler