Tahun Baru Imlek bukanlah hari libur nasional di Australia. Tetapi warga keturunan Tionghoa, termasuk asal Indonesia, tetap merayakannya meski jauh dari keluarga besar.

Saat menyambut tahun yang baru, mereka tetap mencoba melakukan ritual-ritual dan mempertahankan tradisi keluarga.

BACA JUGA: Mahfud Minta Malaysia Aktif Antisipasi Perompak Kelompok Abu Sayyaf

Seperti yang dilakukan Trinita Chen, warga Indonesia keturunan Tionghoa, yang sudah tinggal di Melbourne selama tiga tahun.

Di tengah jadwalnya yang padat karena bekerja penuh waktu tanpa cuti, Trinita sebisa mungkin menjalankan tradisi seperti halnya di Indonesia.

BACA JUGA: Seperti Ini Harapan Yeslin Wang Memasuki Tahun Baru Imlek 2020

"Tahun ini berbeda, karena saya ada jadwal kuliah di akhir minggu ... jadi imleknya harus disederhanakan," kata Trinita kepada Hellena Souisa dari ABC News. Photo: Trinita masih menyempatkan diri untuk tetap menjalankan tradisi keluarganya saat merayakan Imlek. (ABC News: Hellena Souisa)

 

BACA JUGA: Imlek 2020: Ini Daftar Shio Berdasarkan Tahun Kelahiran

Tapi Trinita tetap menyempatkan diri untuk menggelar acara makan malam bersama keluarga kecilnya, sebelum pergi ke vihara.

Ia mengatakan ada sejumlah makanan khas yang dihidangkan, seperti bakmi yang melambangkan panjang umur.

Ada pula kue keranjang yang teksturnya lengket dengan harapan hubungan saudara yang tetap erat. Tak ketinggalan juga jeruk sebagai simbol kemakmuran dan ikan.

"Ikan dalam Bahasa Mandarin adalah Yu, dan dalam peribahasa China ada istilah nian nian you yu, yang berarti rezeki bertambah setiap tahun." Photo: Trinita Chen makes traditional Chinese cupcakes for the Lunar New Year. (Supplied: Trinita Chen)

 

Tradisi lain yang masih dipegang oleh Trinita adalah membuat kue mangkok, dikenal sebagai 'Fa Gao' atau 'Huat Kwe' yang akan ia bawa ke Vihara sebagai sajian saat sembahyang.

"Kue mangkok tidak gampang mekar. Jadi biasanya kalau bisa mekar [saat membuatnya], artinya di tahun itu rezeki akan lancar," Trinita menjelaskan.

Tapi selain ritual-ritual yang dilakukannya menjelang tahun baru, ada pula sejumlah larangan yang ia hindari.

Diantaranya mencuci rambut, memangkas rambut, menyapu atau membersihkan rumah, yang harus dilakukan sebelum Imlek.

"Dilarang menyapu pada hari Imlek karena itu artinya menyapu rezeki di tahun baru," kata Trinita saat ditemui di Wihara Providence Maitreya Buddha Missionary Institutes di kawasan Surrey Hills, Jumat malam (24/01). Photo: Menyediakan sajian berupa buah-buahan dan makanan kepada patung Buddha adalah bagian dari tradisi jelang Imlek. (ABC News: Erwin Renaldi)

 

Merayakan Tahun Baru Imlek dengan sederhana juga dilakukan oleh Helvi Reichl, warga Indonesia lainnya di Melbourne.

Saat ditemui di wihara yang sama, Helvi sedang sembahyang sebelum tahun yang baru berganti.

"Perayaan tahun baru bagi saya ini lebih personal sifatnya dan juga lebih karena alasan relijius, bukan sekedar budaya," katanya.

Hanya Helvi sendiri di keluarganya yang keturunan China dan memeluk Buddha, sementara suaminya adalah warga lokal Australia. Photo: Herman merayakan Tahun Baru Imlek bersama keluarganya di Indonesia dengan menyantap makan malam bersama. (Koleksi pribadi)

 

Sementara bagi Herman Rusdi, warga Indonesia yang sudah tinggal tujuh tahun di Australia, Imlek tidak terasa perayaannya seperti di Indonesia.

Karenanya, ia lebih memilih untuk mudik ke Indonesia tahun ini agar bisa merayakan dengan keluarga besarnya.

"Setelah tidak lagi mendapat angpau, family gathering adalah satu hal yang saya tunggu-tunggu saat Imlek," kata pria kelahiran 1988 tersebut.

Tradisi yang diajarkan orang tua Herman masih ia lakukan, seperti memakai baju baru, memberi angpao kepada anak-anak yang belum menikah, dan membersihkan rumah sebelum hari Imlek.

"Baju baru yang dipakai biasanya yang berwarna cerah, bukan gelap, menandakan harapan akan tahun baru yang cerah," Herman menjelaskan.

Selain itu, ada juga tradisi menyalakan semua lampu di rumah selama seharian saat Imlek. Photo: Hidangan Imlek yang disiapkan keluarga Herman Rusdi saat Tahun Baru Babi yang lalu. (Koleksi pribadi)

 

Terlepas dari tradisi dan cara merayakan yang berbeda-beda, mereka mengaku hal yang penting dan mendalam dalam perayaan Imlek adalah kebersamaan dengan kerabat dan keluarga.

"Bagi saya merayakan Imlek berarti berkumpul bersama keluarga. Saya tiga bersaudara dan tinggal di kota yang berbeda-beda. Senang sekali rasanya bisa berkumpul lengkap, setidaknya satu tahun sekali," kata Herman.

Bukan hanya kekeluargaan dan kebersamaan, refleksi diri sebelum menyambut tahun yang baru juga menjadi hal yang dimaknai Trinita dan Helvi.

"Di hari ini saya juga mengintrospeksi diri dan siap menyongsong tahun baru dengan harapan yang baru," kata Trinita.

"Kita sudah diberkati, terima kasih dengan apa yang saya sudah dapatkan dan saya mendoakan semua orang bahagia, sehat, dan penuh kedamaian," kata Helvi.

BACA ARTIKEL LAINNYA... Jauh-jauh dari Australia Demi Mencari Kedamaian Imlek di Klenteng Kim Tek Le

Berita Terkait