Ziarah ke Makam Pahlawan Syekh Yusuf, Ketua DPD RI Apresiasi Kelestarian Cagar Budaya

Jumat, 28 Mei 2021 – 11:01 WIB
Ketua DPD RI, AA LaNyalla Mahmud Mattalitti mengapresiasi pemerintah yang telah merawat dengan baik makam Syekh Yusuf. Foto: DPD RI

jpnn.com, GOWA - Ketua DPD RI, AA LaNyalla Mahmud Mattalitti mengapresiasi pemerintah yang telah merawat dengan baik makam Syekh Yusuf.

Di sela-sela kunjungan kerjanya di Sulawesi Selatan, menyempatkan diri berziarah ke makam tokoh agama yang juga pahlawan nasional, Syekh Yusuf Al-Makassari, di Kabupaten Gowa, Kamis (27/5) malam.

BACA JUGA: Andri Prayoga DPD RI Mengecek Program Padat Karya Kemenhub Pascagempa Sulbar

LaNyalla datang bersama sejumlah senator, yaitu Ketua Komite III DPD RI Sylviana Murni, Wakil Ketua Komite II DPD RI Bustami Zainudin dan Hasan Basri, Anggota Komite I DPD RI Muhammad Idris dan Jialyka Maharani, serta anggota DPD Dapil Sulsel Andi Muh Ihsan.

“Dalam setiap kesempatan, saya memang selalu menyempatkan diri berziarah ke tokoh-tokoh, khususnya tokoh agama. Di Sulawesi Selatan ini, saya senang akhirnya datang berziarah ke makam Syekh Yusuf, ulama besar yang mengabdikan diri untuk memperjuangkan kemerdekaan bangsa Indonesia,” ujar LaNyalla.

BACA JUGA: DPD RI: UU BUMDes Jawaban untuk Kesejahteraan Desa

Makam Syekh Yusuf merupakan cagar budaya yang berada di bawah pengawasan Balai Pelestarian Cagar Budaya Sulawesi Selatan, Kementerian Pendidikan dan Kebudayaan.

Senator asal Jawa Timur itu pun berharap kelestarian makam Syekh Yusuf dapat terus terjaga dengan baik.

BACA JUGA: PPUU DPD RI Gandeng Ombudsman Bahas Materi Perubahan UU Pelayanan Publik

“Selain sebagai bentuk penghormatan kepada pejuang, pelestarian makam Syekh Yusuf akan menunjang wisata religi di Sulawesi Selatan,” jelas mantan Ketua Umum PSSI itu.

Syekh Yusuf yang digelari Tuanta Salamaka ri Gowa (Tuan Guru Penyelamat dari Gowa) merupakan salah satu tokoh besar Sulawesi Selatan yang dianugerahi gelar pahlawan nasional pada 1995. Syekh Yusuf ikut berjuang melawan penjajahan Belanda di era tahun 1680-an.

Ketika Kesultanan Gowa kalah perang, Syekh Yusuf pindah ke Banten dan kembali berjuang melawan Belanda bersama Sultan Ageng Tirtayasa.

Di Pulau Jawa, Syekh Yusuf juga melakukan syiar agama Islam. Namun, tahun 1682 Syekh Yusuf ditangkap dan diasingkan Belanda ke Srilanka.

LaNyalla mengatakan semangat Syekh Yusuf tidak luntur. Di Srilanka Syekh Yusuf tetap aktif menyebarkan agama Islam. Bahkan, banyak yang berguru kepadanya, termasuk ulama-ulama besar negara tetangga.

“Karena masih terus melakukan pergerakan perjuangan untuk kemerdekaan Nusantara, Syekh Yusuf diasingkan lebih jauh ke Afrika Selatan. Di sana, Syekh Yusuf tetap rajin berdakwah dan memiliki banyak pengikut sampai beliau meninggal,” jelas LaNyalla.

Syekh Yusuf dimakamkan di Cape Town, Afrika Selatan. Namun pada tahun 1705, jenazah Syekh Yusuf dibawa ke Gowa dan dimakamkan kembali atas permintaan Sultan Abdul Jalil.

Oleh pemerintah Afrika Selatan, Syekh Yusuf juga dianugerahi sebagai pahlawan nasional. Bekas makamnya pun dinyatakan sebagai situs warisan nasional (circle of Islam atau circle of tombs) yang dianggap sebagai tempat suci para ulama dan beberapa pemimpin spiritual Afrika Selatan yang paling berpengaruh.

LaNyalla mengajak seluruh masyarakat Indonesia berbangga atas kiprah dari Syekh Yusuf.

“Negara lain saja menganggap leluhur kita tersebut sebagai tokoh besar berpengaruh dan menempatkan beliau di status yang penuh kehormatan. Kita jangan sampai kalah,” tegasnya.

Menurut juru kunci makam Syekh Yusuf, Mujibur bin Abdul Zalik, banyak tokoh maupun pejabat yang berziarah. Salah satunya ialah Wapres KH Ma’ruf Amin.

“Saya sudah lama menjaga di sini, sudah turun temurun sejak leluhur saya dulu. Pak Presiden Jokowi pernah juga hampir ke sini. Syekh Yusuf adalah wali buat masyarakat Sulsel,” kata Mujibur.

Mujibur menceritakan betapa banyaknya karamah Syekh Yusuf yang membuatnya disegani. Salah satunya adalah ketika perjalanannya ke Afrika Selatan saat diasingkan oleh tentara Belanda.

“Waktu diasingkan kompeni, sedang dalam perjalanan ke Afrika Selatan. Kapalnya sulit sekali masuk di Afsel karena ombak besar-besar. Pimpinan tentara Belanda lalu meminta ke Syekh Yusuf menghentikan ombak. Menurutnya, kalau ombak berhenti, semua orang Belanda di kapal itu akan masuk Islam,” kisahnya.

Syekh Yusuf pun kemudian berdoa dan tak begitu lama, laut menjadi tenang. Kapal yang membawa Syekh Yusuf berhasil sandar di Afsel.

“Tentara-tentara Belanda itu pun langsung masuk Islam. Jadi karamah Syekh Yusuf ada banyak. Kita bersyukur banyak tokoh memberi perhatian ke makam Syekh Yusuf, termasuk Bapak LaNyalla,” ujar Mujibur.

“Beliau orang solehnya Allah. Kalau kita berdoa ke Allah di makam beliau, tempat yang bagus, Insha Allah bisa lebih berkah," imbuh Mujibur. (jpnn)

Jangan Sampai Ketinggalan Video Pilihan Redaksi ini:


Redaktur & Reporter : Elvi Robia

Silakan baca konten menarik lainnya dari JPNN.com di Google News

Terpopuler