Catatan 61 Tahun G30S PKI
Oleh: Anwar Abbas
jpnn.com - G30S PKI benar-benar merupakan peristiwa yang menakutkan karena apa yang mereka lakukan benar-benar biadab dan tidak mengenal istilah berperikemanusiaan. Mereka tega membunuh para jenderal yang tidak bersalah dan mayatnya mereka lemparkan semuanya ke dalam lubang yang sama.
Untunglah Soeharto dan kawan-kawan berhasil menemukan mayat-mayat itu dan membubarkan partai tersebut lewat sebuah keputusan MPR di tahun 1966.
Kita tentu tidak ingin peristiwa biadab tersebut terulang kembali. Oleh karena itu kita harus selalu waspada terhadap gerakan PKI ini karena mereka sudah dua kali melakukan pemberontakan .
Pertama, pemberontakan yang dipimpin oleh Musso yang dikenal dengan peristiwa Madiun tahun 1948. Waktu itu mereka mendeklarasikan berdirinya pemerintahan Soviet Indonesia. Mereka membunuh para pejabat pemerintah, aparat, para kiai dan para santri yang anti komunis.
Hal serupa mereka ulang lagi tanggal 30 September tahun 1965 dengan menculik dan membunuh 6 jenderal TNI AD dan 1 perwira pertama dan membuang jenazah para patriot tersebut ke dalam sumur Lubang Buaya yang berlokasi di daerah Halim, Jakarta Timur.
Tindakan serupa tidak hanya mereka lakukan di Jakarta saja tapi juga di beberapa daerah lain seperti di Kediri, Banyuwangi, dan di lain-lain tempat. Ke depan kita tentu saja tidak ingin dua peristiwa serupa terulang kembali.
Untuk itu, kita harus meningkatkan kewaspadaan, apalagi saat ini sudah terlihat fenomena munculnya PKI gaya baru. Salah satu yang mereka lakukan adalah melakukan konsolidasi dan menekan berbagai pihak agar mencabut TAP MPRS No.XXV /1966 agar mereka bisa kembali menyebarkan faham dan ajaran komunisme/Marxisme-leninisme di negeri ini.
Lalu apa yang harus kita lakukan? Saya teringat dengan kuliah umum yang disampaikan Jenderal Abdul Haris Nasution di pertengahan tahun 1970-an di IAIN atau sekarang dikenal dengan UIN Syarif Hidayatullah Jakarta.
JPNN.com