Alexa Analytics
JPNN.com App
Aplikasi Berita Terbaru dan Terpopuler
Dapatkan di Play Store atau Apps Store

Curigai Pengakuan Monica Lewinsky untuk Pencitraan Hillary

Kamis, 08 Mei 2014 – 11:33 WIB
Curigai Pengakuan Monica Lewinsky untuk Pencitraan Hillary - JPNN.COM

NEW YORK - Lama tak terdengar, nama Monica Lewinsky kembali menyita perhatian publik. Perempuan 40 tahunmantan staf di Gedung Putih itu kini menjadi pemberitaan setelah menulis tentang skandal seksnya dengan mantan Bill Clinton saat masih jadi Presiden Amerika Serikat (AS) tahun 1998 silam.

Tulisan yang akan terbit dalam edisi cetak majalah Vanity Fair itu kini menjadi hangat mengingat kasus tersebut sempat mengguncang AS dan nyaris menumbangkan Clinton dari kursi presiden karena ancaman pemakzulan. Namun,  sejumlah kalangan menilai ‘’buka-bukaan’’ yang dilakukan Monica merupakan trik dari istri Bill Clinton, Hillary Rodham Clinton yang akan maju  sebagai calon presiden dari Partai Demokrat pada 2016 nanti.

Maksudnya, dengan terkuaknya cerita itu maka simpati publik AS akan tertuju pada Hillary yang dicitrakan sebagai korban dalam kasus perselingkuhan suaminya dengan Monica. “Akankah Vanity Fair memublikasikan  segala hal tentang Monica Lewinsky  yang tidak diinginkan oleh  Hillary Cilnton?’’ ujar istri mantan wakil Presiden Amerika, Dick Cheney, Lynne Cheney dalam sebuah interview dengan Fox News.

“Membiarkan (isu perselingkuhan) ini keluar adalah cara yang  sekali lagi bisa kita katakan seperti  isu lama yang  akan menjadi strategi atau sebuah taktik, mungkin!’’ tambahnya.

Hal senada juga dikatakn aktivis dari kalangan konservatif AS, Grover Norquist. Menurutnya, isu yang sama pernah dikemas sedemikian rupa untuk kembali  mengangkat Bill Clinton sebagai Presiden AS tahun 1998 silam.

Bagi Norquist, isu ini sengaja dimunculkan agar publik lupa mengenai sejumlah isu yang lebih penting di seputar Hillary. Misalnya lemahnya kebijakan Hillary saat menjadi menteri luar  negeri di periode pertama pemerintahan Presiden Barack Obama.

‘’Ini adalah trik yang sama untuk pemilihan Clinton kembali pada 1998,” ujarnya kepada Buzzfeed. “Ini akan menjadi hal yang sama saat ini: (agar masyarakat)  tidak memperhatikan lagi kebijakan luar negeri dengan Rusia, atau Libya. Oh, lihat, itu Hillary korban! ‘’ tambahnya.(dailymail/zul/jpnn)

loading...