Kuliah Umum di Universitas Sumatera Utara, Dr. Sabar L Tobing Beri Beasiswa Penuh
jpnn.com - MEDAN - Founder & CEO Hive Five Dr. Sabar L. Tobing, SE., MM., Ak., CA., CTL., CTAP., BKP., menilai nama besar perguruan tinggi bukan jaminan seseorang akan berhasil di dunia profesional. Menurut dia, kompetensi, integritas, pola pikir, serta kemauan untuk terus berkembang menjadi faktor penting yang menentukan perjalanan seseorang setelah menyelesaikan pendidikan tinggi. “Nama kampus tidak menjamin kesuksesan. Kompetensi, integritas, pola pikir, dan kemauan untuk terus berjuang menjadi bekal utama dalam membangun masa depan,” kata dia.
Sabar menyampaikan itu dalam kuliah umum di Universitas Sumatera Utara (USU) bertajuk “The Future of Taxation: AI, Digital Transformation & the Future of Tax Professionals”, yang dihadiri lebih dari 250 mahasiswa USU, Selasa (29/9).
Sabar mengatakan bahwa perguruan tinggi seharusnya tidak hanya menjadi tempat memperoleh gelar. Masa kuliah perlu dimanfaatkan mahasiswa untuk membangun pola pikir, kemampuan analitis, karakter, serta kesiapan menghadapi dunia profesional.
Menurut Sabar, mahasiswa juga perlu memperdalam keahlian secara terarah. Dia menambahkan bahwa penguasaan banyak bidang, tidak selalu memberikan nilai lebih apabila tidak diikuti kedalaman kompetensi. “Mahasiswa perlu memperdalam ilmu secara terarah dan membangun keahlian yang kuat, bukan sekadar menguasai banyak hal tanpa kedalaman kompetensi,” ujarnya.
7 Kompetensi untuk Dunia Kerja
Sabar dalam pemaparannya menyebut sedikitnya terdapat tujuh kompetensi fundamental yang perlu dipersiapkan mahasiswa untuk menghadapi perubahan kebutuhan industri. Kompetensi tersebut meliputi penguasaan dasar-dasar akuntansi, literasi kecerdasan buatan atau AI literacy, penguasaan data dan teknologi, kemampuan komunikasi dan bahasa Inggris, integritas serta etika profesional, pemahaman proses bisnis, hingga kemampuan mengintegrasikan seluruh kompetensi tersebut dalam menyelesaikan persoalan di dunia kerja.
“Perusahaan membutuhkan lulusan yang tidak hanya memahami teori, tetapi juga mampu menerapkan teknologi dalam menyelesaikan permasalahan bisnis,” ujarnya.
Menurut Sabar, perkembangan teknologi juga membuat kemampuan mengolah data kian dibutuhkan. Hal tersebut berlaku pula pada sektor perpajakan yang terus beradaptasi dengan transformasi digital dan pemanfaatan kecerdasan buatan.
JPNN.com