Close Banner Apps JPNN.com
JPNN.com App
Aplikasi Berita Terbaru dan Terpopuler
Dapatkan di Play Store atau Apps Store
Download Apps JPNN.com

Mengakhiri Perang Suku di Papua

Oleh: Hironimus Hilapok, M.Si, M.M - Direktur Satu Honai Indonesia Foto: Source for JPNN

Senin, 18 Mei 2026 – 22:55 WIB
Mengakhiri Perang Suku di Papua - JPNN.COM
Direktur Satu Honai Indonesia Hironimus Hilapok, M.Si, M.M. Foto: Source for JPNN

jpnn.com - Setiap terjadi konflik antarsuku di Papua menyisakan pertanyaan yang sama: sampai kapan orang Papua kehilangan nyawa di tangan sesamanya sendiri?

Ini bukan semata seruan moral, melainkan soal kebijakan yang mendesak. Di wilayah yang masih bergulat dengan ketertinggalan pembangunan, kekerasan horizontal adalah kemunduran berlapis.

Badan Pusat Statistik mencatat Indeks Pembangunan Manusia Papua Pegunungan pada 2024 baru 54,43, masih dalam kategori rendah.

Pada saat yang sama, penduduk provinsi ini sekitar 1,47 juta jiwa.

Dalam konteks itu, setiap korban jiwa, luka, pengungsian, dan rumah yang terbakar bukan hanya tragedi kemanusiaan, melainkan pengurangan daya hidup sosial Papua.

Intinya sederhana: orang Papua tidak boleh terus berkurang karena konflik antar saudara.

Konflik antarsuku di Papua bukan peristiwa tunggal. Pemantiknya bisa berbeda—sengketa tanah ulayat, kematian anggota komunitas, relasi keluarga yang meluas menjadi pertikaian kolektif, atau ketidakpuasan atas hasil perdamaian—tetapi polanya serupa: penyelesaian yang longgar membuat konflik mudah tersulut lagi.

Kejadian di Timika memberi pelajaran penting. Pada Januari 2025, bentrokan antarkelompok di Mimika melukai sedikitnya 11 orang.

Setiap terjadi konflik antarsuku di Papua menyisakan pertanyaan yang sama: sampai kapan orang Papua kehilangan nyawa di tangan sesamanya sendiri?

Silakan baca konten menarik lainnya dari JPNN.com di Google News