Close Banner Apps JPNN.com
JPNN.com App
Aplikasi Berita Terbaru dan Terpopuler
Dapatkan di Play Store atau Apps Store
Download Apps JPNN.com

Putra Sang Fajar yang Tak Pernah Padam: Mewarisi Api Soekarno di Tengah Badai Zaman

Oleh: Dr. I Wayan Sudirta, SH., MH - Anggota Komisi III DPR RI Fraksi PDI-Perjuangan dan Ketua Umum IKA Doktor Hukum UKI

Sabtu, 06 Juni 2026 – 06:42 WIB
Putra Sang Fajar yang Tak Pernah Padam: Mewarisi Api Soekarno di Tengah Badai Zaman - JPNN.COM
Anggota Komisi III DPR RI Fraksi PDI Perjuangan dan Ketua Umum IKA Doktor Hukum UKI Dr. I Wayan Sudirta, SH., MH. Foto: Source for JPNN.com

jpnn.com - "Janganlah melihat ke masa depan dengan mata buta! Masa yang lampau adalah berguna sekali untuk menjadi kaca benggala dari pada masa yang akan datang." — Ir. Soekarno.

Fajar menyingsing di Surabaya pada 6 Juni 1901, menandai lahirnya seorang bayi laki-laki yang kelak akan mengubah garis takdir jutaan manusia di Nusantara.

Lahir pada saat fajar merekah, ia dijuluki Putra Sang Fajar.

Dialah Koesno Sosrodihardjo, yang dunia kemudian kenal dengan nama Soekarno, Bapak Bangsa, Proklamator, dan Penyambung Lidah Rakyat Indonesia.

Julukan "Putra Sang Fajar" bukanlah sekadar epitet puitis yang disematkan untuk meromantisasi sejarah, melainkan sebuah penanda takdir yang mengakar pada fakta kelahiran dan kedalaman filosofis perjalanannya.

Secara harfiah, Koesno Sosrodihardjo lahir di Surabaya pada 6 Juni 1901, tepat pada saat fajar merekah dan matahari baru saja merobek tirai malam.

Dalam kepercayaan kultural Jawa dan Bali yang mengalir deras dalam nadinya, kelahiran di ambang transisi antara gelapnya malam dan terangnya pagi bukanlah sebuah kebetulan.

Hal tersebut diyakini sebagai tanda kosmis, sebuah garitan takdir bahwa sang anak akan memikul beban sejarah yang besar.

Julukan ‘Putra Sang Fajar’ kepada Soekarno bukanlah sekadar epitet puitis yang disematkan untuk meromantisasi sejarah, melainkan sebuah penanda takdir.

Silakan baca konten menarik lainnya dari JPNN.com di Google News