Soal Pangan Lokal, Engelina Pattiasina Bilang Begini
Dekan Fakultas Universitas Pertanian (Faperta) Unpatti Prof. Dr. J.M. Matinahoru ketika menutup webinar, berharap seminar ini bukan sekadar agar narasumber dapat menyampaikan pikiran dan pengalamannya, dan para peserta mendengar saja. Tetapi harus ada pemikiran dan tindak lanjut bagaimana hasil seminar ini bisa berpengaruh terhadap ketersediaan pangan lokal yang berdaulat di Indonesia.
Menurut Matinahoru, kalau mempelajari struktur anggaran APBN dan APBD tiap daerah/provinsi, alokasi anggaran untuk sektor pertanian sangat rendah.
Dari alokasi yang rendah itu kira-kira 80 persen anggaran lebih difokuskan untuk pengembagan pangan nasional berupa padi, jagung dan kedele. Akibatnya alokasi anggaran untuk pangan lokal hampir tidak ada, karena sisa 20 persen tersebut dipakai juga untuk kepentingan lain di sektor pertanian.
“Jadi saya sangat berharap bagaimana Peragi dapat berjuang pada tingkat nasional maupun lokal agar politik anggaran sektor pertanian dapat dirubah dengan regulasi yang kuat sehingga para pengambil kebijakan bertekud lutut,” kata Matinahoru.
Dia menjelaskan, problem pengembangan padi di Indonesia cukup riskan, karena kalau musim hujan produksi padi turun drastis karena banjir dan genangan air, kemudian pada musim panas produksi padi juga turun drastis karena problem ketersediaan air. Untungnya problem ini dapat ditutupi dengan impor beras dari Thailand, Vietnam, Filipina dan Kamboja.
“Namun jika terjadi sesuatu dikemudian hari, katakanlah covid-19 terus berlanjut, atau ada ketidakstabilan kondisi di laut Cina Selatan seperti yang disampaikan ibu Engelina Pattiasina maka pasti akan terjadi kerawanan pangan yang luar biasa, dan hal ini bisa memicu ketidakstabilan politik dalam negeri,” tutur Matinahoru.(fri/jpnn)