Sumpah Presiden dan Pakar Balsem
Oleh: Ahdiyat Bagus Nugraha
jpnn.com - Dalam peringatan HUT ke-28 PAN di Senayan, Jumat (18/9/2026), Presiden Prabowo Subianto mengucapkan kalimat yang dalam hitungan jam sudah memenuhi lini masa: Terserah pakar-pakar yang menganggap dirinya pakar. Saking pintarnya, saking pintarnya jadi goblok.
Yang diingat orang hanya kata terakhir. Padahal, kalimat itu punya sebelum dan sesudah.
Sebelum mengucapkannya, Presiden bersumpah tidak ingin lagi melihat anak Indonesia stunting dan kurang gizi.
Sesudahnya, ia menyebut ada pakar yang melontarkan fitnah, menyatakan bersedia memaafkan, lalu mengingatkan bahwa seorang cendekiawan mesti memegang kejujuran intelektual.
Kata itu memang keras, dan ucapan seorang presiden selalu lebih berat timbangannya daripada ucapan orang kebanyakan.
Namun, saya termasuk yang percaya bahwa di balik kata yang keras itu ada persoalan yang nyata. Perhatikan urutannya.
Presiden bersumpah lebih dulu, baru kemudian berkata “terserah” kepada para pakar. Sumpah yang tidak menunggu restu pakar membawa satu konsekuensi logis.
Kalau nasihat para ahli dikesampingkan, yang tersisa untuk menggerakkan kebijakan adalah kemauan pemimpinnya sendiri.
JPNN.com