Close Banner Apps JPNN.com
JPNN.com App
Aplikasi Berita Terbaru dan Terpopuler
Dapatkan di Play Store atau Apps Store
Download Apps JPNN.com

Tanah dan Janji Keadilan Agraria

Oleh: Jan Prince Permata - Pegiat di Yayasan Kekal Berdikari, Kandidat Doktor Perbanas Institute

Jumat, 18 September 2026 – 20:29 WIB
Tanah dan Janji Keadilan Agraria - JPNN.COM
Pegiat di Yayasan Kekal Berdikari, Kandidat Doktor Perbanas Institute, Jan Prince Permata. Foto: Dokumentasi pribasi

jpnn.com - Bagi masyarakat Indonesia, tanah tidak pernah hanya menjadi benda ekonomi.

Di atas tanah orang bekerja, membangun rumah, membesarkan keluarga, mempertahankan identitas, dan mewariskan kehidupan kepada generasi berikutnya.

Dalam kebudayaan Jawa dikenal ungkapan sadumuk bathuk, sanyari bumi, yang menggambarkan betapa harga diri dan sejengkal tanah dapat dipertahankan dengan sungguh-sungguh.

Di Minangkabau terdapat harato pusako tinggi dan tanah ulayat yang diwariskan antargenerasi.

Di berbagai komunitas adat Papua, Maluku, Nusa Tenggara, Kalimantan, Sulawesi, dan wilayah lain, tanah juga berkelindan dengan leluhur, identitas, ruang hidup, dan keberlanjutan komunitas.

Karena itulah persoalan tanah begitu mudah berubah menjadi persoalan sosial yang dalam.

Konflik agraria bukan semata-mata sengketa mengenai batas bidang tanah. Di dalamnya dapat bertemu persoalan sejarah, hukum, ekonomi, kekuasaan, kebudayaan, dan rasa keadilan.

Kini reforma agraria kembali memasuki ruang politik nasional. Rapat Paripurna DPR pada 8 September 2026 menyetujui RUU tentang Pengaturan Reforma Agraria sebagai RUU usul DPR.

Reforma agraria juga tidak boleh direduksi menjadi sertifikasi. Legalisasi aset penting karena rakyat membutuhkan kepastian hukum.

Silakan baca konten menarik lainnya dari JPNN.com di Google News