Alexa Analytics
JPNN.com App
Aplikasi Berita Terbaru dan Terpopuler
Dapatkan di Play Store atau Apps Store

Wakil Ketua MPR Ingatkan Pesan Bung Karno: Kita Bukan Bangsa Kuli

Jumat, 10 Juli 2020 – 18:10 WIB
Wakil Ketua MPR Ingatkan Pesan Bung Karno: Kita Bukan Bangsa Kuli - JPNN.COM
Wakil Ketua MPR RI Jazilul Fawaid (tengah) dalam diskusi Empat Pilar MPR bertema

jpnn.com, JAKARTA - Ketua MPR Jazilul Fawaid menyatakan bahwa pemberdayaan dan perlindungan pekerja migran Indonesia atau PMI sangat penting karena menyangkut masalah kemanusiaan.

Bahkan, Jazil pun mengutip pertanyaan Proklamator Kemerdekaan RI Bung Karno bahwa "Bangsa kita bukan bangsa kuli dan kita bukan kuli di antara bangsa-bangsa di dunia." Kemudian, kata dia, itu diturunkan ke dalam Sila Kedua Pancasila, "Kemanusiaan Yang Adil dan Beradab".

"Jadi pemberdayaan dan perlindungan ini sangat penting," tegas Jazil dalam diskusi Empat Pilar MPR kerja sama Biro Humas MPR dan Koordinatoriat Wartawan Parlemen bertema "Perlindungan dan Pemberdayaan Purna-PMI",  Jumat (10/7), di Kompleks Parlemen, Jakarta.

Pembicara lain ialah Kepala Badan Perlindungan Pekerja Migran Indonesia (BP2MI) Benny Ramdhani, dan anggota Komisi IX DPR Rahmad Handoyo.

Jazil menjelaskan di Pasal 27 Ayat 2 UUD NRI 1945 sudah disebutkan bahwa tiap-tiap  warga negara berhak atas pekerjaan dan penghidupan yang layak bagi kemanusiaan. "Ini penting. Ini diperkuat oleh Deklarasi Human Rights bahwa pekerja atau pekerjaan merupakan hak dasar, hak asasi setiap warga negara," ungkap politikus Partai Kebangkitan Bangsa (PKB) itu.

Jazil menjelaskan untuk ukuran indeks suatu negara itu  maju atau tidak, bahkan termasuk tujuan dari pembangunan, ialah mengukur tingkat pengangguran dan kemiskinan.

"Kalau penganggurannya tinggi pasti negara itu disebut negara tidak maju," jelasnya.

Nah, Jazil dalam forum itu pun  mempertanyakan bagaimana perlindungan kepada PMI, termasuk para tenaga kerja wanita (TKW) yang mencari kemuliaan lewat pekerjaan yang halal di luar negeri.

Menurut dia, karena dalam negeri belum menemukan pekerjaan yang layak dan halal, maka mereka mengambil pilihan untuk bekerja ke luar negeri.

"Karena hampir 80 persen mereka yang bekerja keluar negeri itu adalah wanita. Artinya, tenaga kerja wanita itu pasti rentan apalagi pekerjaan yang ditempati pekerja wanita itu sektor domestik pembantu rumah tangga,” katanya.(boy/jpnn)

Kamu Sudah Menonton Video Terbaru Berikut ini?

loading...