2022, Sumber Kerugian GoTo Didominasi oleh Aspek Non-kas

Senin, 20 Maret 2023 – 20:36 WIB
Ilustrasi GoTo. Foto: goto

jpnn.com, JAKARTA - PT Goto Gojek Tokopedia Tbk (GoTo) berhasil menutup 2022 dengan sejumlah indikator kinerja keuangan yang positif.

Meski masih mencatatkan kerugian di akhir tahun, secara fundamental semua pilar bisnis ekosistem digital terbesar di Indonesia ini mencatatkan pertumbuhan luar biasa.

BACA JUGA: GoTo PHK Besar-besaran, tetapi Ada Situasi Menguntungkan, Kok Bisa?

Sumber kerugian perseroan pada 2022 lebih banyak disebabkan oleh aspek nonkas dan efek dari kebijakan yang hanya dibukukan sekali.

Mengutip rilis resmi GoTo, beberapa aspek non-kas tersebut di antaranya adalah goodwill impairment senilai Rp 11 triliun, investasi di JD, peningkatan beban kompensasi berbasis saham akibat penyesuaian asumsi masa kerja karyawan, serta beban restrukturisasi.

BACA JUGA: Berziarah ke Makam Raja-raja Demak, Ganjar: Tidak ada Perselisihan Soal Ras

“Hal ini tidak merefleksikan kinerja operasional perseroan,” ujar manajemen GoTo dalam rilis resminya, Senin (20/3).

Secara operasional, kinerja Grup GoTo justru menunjukkan kinerja yang sangat kuat. Pendapatan bruto segmen On Demand Services pada tahun 2022 naik 32 persen menjadi Rp 13,6 triliun secara tahunan atau year on year (yoy).

BACA JUGA: Ribuan Masyarakat Sidrap Meriahkan Acara Jalan Sehat Bersama BUMN

Segmen E-Commerce mencatat pendapatan bruto sebesar Rp8,6 triliun, naik 38 persen yoy, sementara  segmen Financial Technologi Services meraih pendapatan bruto sebesar Rp 1,7 triliun, tumbuh 43 persen yoy.

Secara kumulatif, total pendapatan bruto GoTo pada 2022 mencapai Rp22,9 triliun. Angka ini meningkat sebesar Rp5,9 triliun dibandingkan Rp17,0 triliun pada 2021.

Sehingga berdampak terhadap pendapatan bersih Perseroan melonjak 120% atau sebesar Rp 6,1 triliun menjadi Rp 11,3 triliun pada 2022.

Sejumlah kebijakan yang dilakukan manajemen GoTo pada 2022 juga telah berdampak positif terhadap efisiensi bisnis perusahaan.

Sebagai contoh, upaya penghematan yang dilakukan pada kuartal IV-2022 mampu menurunkan beban operasional tetap rata-rata bulanan hingga 20 persen pada periode Januari-Februari 2023 senilai sekitar Rp 200 miliar. Jumlah ini diperkirakan akan terus membesar hingga akhir tahun.

Sementara berkurangnya insentif dan pemasaran produk pada kuartal IV-2022 sebesar 34 persen dibandingkan periode sama tahun 2021, mampu memangkas pengurangan beban kuartalan hingga senilai Rp2,8 triliun. Menariknya, berkurangnya insentif tetap tak mengurangi transaksi konsumen di ekosistem digital terbesar di Indonesia ini.

Sepanjang 2022, jumlah pelanggan loyal segmen On-Demand Services dan E-Commerce GoTo berhasil tumbuh 19 persen dibandingkan tahun sebelumnya.

Gross Transaction Value (GTV) pelanggan Grup GoTo pada tahun lalu tumbuh 33 persen menjadi Rp 613 triliun dibandingkan Rp 462 triliun pada 2021.

Dampaknya, take rate 2022 pada segmen bisnis On Demand Services dan E-Commerce tumbuh masing-masing 234 bps dan 32 bps dibandingkan tahun sebelumnya.

“Saat ini fokus kami adalah membangun infrastruktur layanan yang akan mendorong pertumbuhan yang berkelanjutan dan menguntungkan secara jangka panjang. Hal ini menegaskan bahwa kami berada dijalur yang tepat untuk mencatat nilai EBITDA positif yang disesuaikan pada kuartal keempat 2023,” jelas Direktur Utama Grup GoTo, Andre Soelistyo, dalam siaran pers, Senin (20/3).

Langkah lanjutan yang telah dan akan dilakukan GoTo pada tahun ini juga diproyeksikan akan semakin mendorong efisiensi pada level yang optimal untuk mendukung pertumbuhan bisnis perseroan.(chi/jpnn)


Redaktur & Reporter : Yessy Artada

Silakan baca konten menarik lainnya dari JPNN.com di Google News

Terpopuler