3 Mahasiswa UI Merancang Aplikasi TODerse untuk Mengatasi Kemacetan

Minggu, 28 Mei 2023 – 18:40 WIB
Contoh aplikasi TODverse yang dirancang 3 mahasiswa FTUI. Foto: Dokumentasi Departemen Teknik Sipil dan Lingkungan Fakultas Teknik Universitas Indonesia (DTSL FTUI)

jpnn.com - JAKARTA - Sebanyak tiga mahasiswa dari Departemen Teknik Sipil dan Lingkungan Fakultas Teknik Universitas Indonesia (DTSL FTUI) merancang TODerse, aplikasi inovatif terintegrasi untuk mengatasi kemacetan.

Perancangan aplikasi yang dilakukan mahasiswa yang tergabung dalam Tim Gazebian, yakni Wahyu Aji Syahputra, Zuniar Ayu Permata Sari, dan Muhammad Hafiz Risat Julian, itu di bawah bimbingan Guru Besar dan Pakar Transportasi Sutanto Soehodho.

BACA JUGA: Daewoong Rekrut Puluhan Talenta dari Alumni Universitas Indonesia & ITB

Transit Oriented Development (TOD) adalah salah satu strategi dan solusi yang digagas untuk mengatasi kemacetan Indonesia.

Dilansir dari penelitian perusahaan analisis transportasi yang berkembang di Washington DC, Amerika Serikat, diketahui bahwa Indonesia tercatat sebagai negara dengan tingkat kemacetan kedua terburuk di dunia.

BACA JUGA: Kemendagri Dorong Mahasiswa Berpartisipasi Dalam Pemilu, Perindo Merespons, Pakai Frasa Generasi Terpelajar

TODerse digagas sebagai aplikasi terintegrasi, merupakan bentuk optimalisasi rencana kawasan TOD untuk mengatasi masalah kemacetan.  

Aplikasi TODerse ini diharapkan dapat mendukung aktivitas dan produktivitas masyarakat urban berdasarkan prinsip dan konsep kawasan TOD.

BACA JUGA: 4 Pemain Timnas U-22 Indonesia Mahasiswa Udinus Semarang, Raih Beasiswa S2

"Sistem TODerse menerapkan delapan prinsip sustainable transportation pada kawasan TOD,” ucap Sutanto Soehodho dalam keterangannya, Minggu (28/5).

Adapun delapan prinsip tersebut, yakni walk (meningkatkan jumlah pejalan kaki), cycle (optimalisasi jalur pesepeda), connect (terdapat interkoneksi antara satu area dengan area lainnya), transit (terdapat angkutan umum massal yang mudah dijangkau dengan berjalan kaki). 

Kemudian, mix (tata guna lahan yang bervariasi), density (pemadatan antarbangunan yang dapat menunjang kebutuhan orang di sekitar kawasan tersebut), compact (tidak adanya lahan kosong, semuanya benar-benar dimanfaatkan), dan shift (perpindahan antarmoda yang efektif dan efisien).


Aplikasi ini pun memiliki beberapa fitur, yaitu integrated scheduling (penjadwalan terintegrasi) untuk dapat memperkirakan waktu keberangkatan dan tiba pada jenis moda masing-masing, aparthouse (preferensi tempat hunian) sebagai referensi hunian bagi masyarakat yang ingin memiliki hunian di tengah kota.

Kemudian, mode choice memberikan informasi terkait pilihan moda dan rute yang dapat dipilih untuk sampai di lokasi tujuan dengan pilihan dari jarak tempuh terdekat, waktu tercepat, dan biaya termurah.

Lalu, integrated ticketing sebagai cara agar pembayaran tiket berada dalam “satu pintu”, dan nonmotorized reward, yaitu reward berupa poin bagi para pengguna yang memiliki kesadaran tinggi terkait kawasan TOD.

Dalam merancang aplikasi TODerse, digunakan metode waterfall yang merupakan salah satu metode pendekatan terhadap Software Development Life Cycle (SLDC). Melalui metode ini, sebuah aplikasi dapat langsung merilis seluruh fitur yang ada secara langsung saat aplikasi sudah berjalan secara fungsional.

Metode waterfall ini tergolong dari requirement (tahapan pemenuhan kebutuhan, dengan mengumpulkan informasi terkait data dan keperluan aplikasi).

Kedua, design (tahap perancangan berbagai data yang telah didapat pada tahap sebelumnya).

Ketiga, implementation (tahapan membuat software TODerse, seperti tahap programming dan dokumentasi program).

Keempat, integration and testing, yaitu pengujian terkait kesesuaian aplikasi dengan desain awal serta pengoperasian fitur. Kelima maintenance, yaitu mengembangkan aplikasi berdasarkan evaluasi yang ada," kata Tim Gazebian. (mcr4/jpnn)


Redaktur : M. Kusdharmadi
Reporter : Ryana Aryadita Umasugi

Silakan baca konten menarik lainnya dari JPNN.com di Google News

Tag

Terpopuler