3 Pasangan Pelajar Mengaku Belajar Kelompok, Kok Sampai Larut Malam dan Cuma Pakai Handuk?

Kamis, 24 September 2020 – 08:30 WIB
Pasangam pelajar kedapatan berbuat terlarang di dalam kamar dengan alasan belajar online kelompok hingga larut malam. Foto: diambil dari posmetropadang

jpnn.com, MENTAWAI - Tujuh remaja di Sipora Utara, Kabupaten Kepulauan Mentawai Sumatera Barat digerebek warga akhir pekan lalu.

Mereka ketahuan berbuat terlarang di rumah salah satu remaja tersebut, di Jalan Raya Tuapejat, Sipora Utara.

BACA JUGA: Pelajar Putri Asal Tiongkok Jadi Korban Penculikan Virtual di Australia

Sebelum digerebek, masyarakat setempat dibuat resah melihat pelajar berpasangan di rumah tersebut.

Sejumlah warga pun melaporkan kepada aparat desa dan ketua pemuda. Mereka pun sepakat melakukan penggebekan.

BACA JUGA: Gara-Gara Anjing, WNA AS Diduga Berbuat Terlarang di Mentawai

Kepala Dusun Turonia, Jonar Tamba mengatakan, saat menggedor pintu rumah, dibuka langsung oleh anak pemilik rumah (perempuan).

Ia pun kemudian menanyakan keberadaan orang tuanya.

BACA JUGA: Lihat! Pria Itu Sering Mengganggu Pasangan yang Sedang Berpacaran di Pinggir Jalan

Ternyata orang tua si anak tidak di rumah sejak hari Sabtu (19/9).

“Saat pintu dibuka saya melihat satu orang anak perempuan berada di ruangan, sementara pintu kamar anak pemilik rumah ini terbuka, karena curiga, saya tanya masih ada lagi temannya, anak ini langsung menggedor kamar satu lagi, lalu kami temukan dua pasang di dalam kamar,” ungkap Jonar seperti dikutip dari Posmetro Padang, Rabu (23/9).

Jonar menuturkan, ia sempat curiga masih ada yang lain dan kemudian ditanyakan lagi kepada anak pemilik rumah.

Awalnya mengaku tidak ada, tetapi tiba-tiba terdengar percikan air di dalam kamar mandi.

Ia langsung membuka pintu dan mendapati ada laki-laki di dalam kamar mandi, dengan dalih lagi mencuci pakaian.

“Kami temukan dia menggunakan handuk, lalu kami tanyakan untuk mengakui apa yang diperbuat. Pada saat pengerebekan itu, terdapat tujuh orang di dalam rumah itu. Dengan rincian, enam orang pelajar dan 1 orang eks pelajar. Tiga pasang berpacaran dan satu orang tanpa pasangan. Ketiga pasang itu terdiri dari pelajar SMP, SMA dan ex pelajar,” ujar Jonar.

Terkait penggerebekan itu, Jonar menyesali hal itu terjadi terhadap generasi penerus bangsa di Mentawai.

Apalagi setelah mendengar pernyataan dari masing-masing pelajar tersebut.

“Saat diinterogasi hingga pukul 03.30 wib pagi, jawabannya berbelit-belit, tetapi kami sudah punya cara untuk menemukan kesimpulan, hasilnya di mana sangat mengecewakan. Selanjutnya, saya bersama ketua pemuda langsung menjemput salah satu orang tua dari anak tersebut," katanya.

"Kami meminta anak-anak itu meminta maaf terhadap orang tua mereka dan membuat surat pernyataan bermaterai, tidak bakal mengulanginya lagi,” imbuh Jonar.

Dia menuturkan, modus mereka mengaku kepada orang tua belajar kelompok menyelesaikan tugas sekolah, tentu orang tua memberi izin.

Untuk itu, terhadap orang tua, agar lebih berhati-hati, teliti dan tetap memantau alasan anak-anak. Apalagi dengan kondisi dan situasi pandemi Covid-19 ini.

“Dengan kejadian itu, saya berkeinginan untuk berkoordinasi dengan seluruh aparatur Desa Tuapejat untuk membentuk Pelindung Masyarakat (Linmas) di masa pandemi Covid-19 ini, terlebih saat ini sekolah melakukan pelajaran daring,” pungkasnya.

Ketua Pemuda Desa Tuapejat, Adrian menambahkan, kejadian ini merupakan tanggung jawab bersama dalam menjaga generasi penerus bangsa agar lebih baik ke depan.

“Kami ini bukan memojokan mereka, tetapi tujuan kami adalah agar menjadi pelajaran bagi pelajar lain supaya tidak berbuat seperti ini dan ada efek jera buat mereka, bahwa ini perbuatan yang sudah tidak sepantasnya diperbuat anak-anak pelajar ini. Alasan belajar online menjadi kesempatan termudah bagi mereka mengelabui orang tua,” ungkapnya. (s/posmetropadang)


Redaktur & Reporter : Adek

Silakan baca konten menarik lainnya dari JPNN.com di Google News

Terpopuler